Patok-Duga Pendidikan

Perjalanan panjang dunia pendidikan Indonesia sebaiknya segera direnungkan ulang, menggunakan filsafat pendidikan yang selalu mempertanyakan hakikat pendidikan itu sendiri.

Apabila pada abad ke-19, terutama pascarevolusi Perancis, muncul masalah nasionalisme karena lahirnya negara-negara baru, amatlah beralasan kalau sejak saat itu hakikat pendidikan terkait kuat dengan nasionalisme itu.

Oleh: JC Tukiman Taruna

Saat kemajuan teknologi pada abad ke-20 mengguncang ranah kehidupan berbangsa dan bernegara di banyak negara, pemikir seperti Huntington memprediksi akan terjadinya guncangan kuat terhadap nasionalisme itu. Lalu, ikatan kuat paham negara-bangsa amat mungkin memudar menjadi ikatan artifisial dan kurang menyentuh aspek-aspek emosional yang mendalam.

Barangkali tahapan bangsa Indonesia saat ini, tahun 2009, sedang berada persis seperti prediksi Huntington, sampai-sampai ikatan emosional lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” lewat begitu saja, atau muncul banyak keluhan betapa siswa-siswa sekolah tidak lagi fasih menyanyikan lagu-lagu perjuangan/nasional, karena jauh lebih menghayati lagu-lagu pop.

Gejala pudarnya ikatan emosional paham negara-bangsa memang dapat ”dibendung”, dan pisau-bedah yang disampaikan Huntington ialah pentingnya dikembangkan kelompok-kelompok kebudayaan dalam konteks negara-bangsa itu. Inilah hakikat pendidikan. Dalam konteks negara-bangsa Indonesia saat ini, hakikat pendidikan Indonesia harus dibedah dengan dua pisau-bedah ini, yang pertama patok-duga pendidikan dan yang kedua penelusuran filsafat pendidikan.

Patok-duga pendidikan

Pertanyaan utama dalam patok-duga (benchmarking) pendidikan Indonesia ialah siapakah atau tepatnya negara manakah pesaing utama dunia pendidikan kita dewasa ini?

Jika pesaing utama kita negara-bangsa Malaysia, tanpa perlu malu, mari meningkatkan kualitas, pelayanan, sistem pendidikan, dan sebagainya sehingga dalam waktu singkat dapat bersaing dengan Malaysia.

Demikian juga jika berdasar patok-duga ditemukan, pesaing utama kita adalah negara-bangsa Singapura, atau Filipina, atau Jerman sekalipun, mari kita tingkatkan kemampuan bersaing dengan negara-bangsa itu.

Patok-duga pendidikan kita akan jauh lebih realistis saat kita tentukan satu negara pesaing saja sehingga hanya dalam hitungan tahun—misalnya, hingga 2014— baik kualitas, pelayanan, sistem, keluaran dunia pendidikan Indonesia telah menjadi sama/sejajar patok-duga tadi.

Patok-duga pendidikan tidak mungkin menggunakan model comot sana comot sini; misalnya di bidang teknologi pesaing yang kita patok ialah negara-bangsa Jepang, sedangkan di bidang ilmu pengetahuan alam adalah Jerman. Patok-duga pendidikan adalah suatu keutuhan proses meningkatkan kualitas, pelayanan, sistem, keluaran dengan cara mengejar ketertinggalan dari satu pesaing dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

Hakikat pendidikan

Harus diakui, kini ikatan emosional negara-bangsa Indonesia sedang dihadapkan pada guncangan dan godaan. Dan dunia pendidikanlah yang mampu ”membendung” dengan tepat melalui gerakan budaya pendidikan. Gerakan budaya dapat tumbuh jika empat prasyarat terpenuhi.

Pertama, kembalikan rasionalisme sesuai tempatnya. Dunia pendidikan kita harus menempatkan akal budi manusia kian berperan. Arti lebih lanjut, gerakan budaya pendidikan harus merupakan gerakan akal budi.

Kedua, gerakan budaya pendidikan perlu didasarkan pada humanisme, yakni dikembangkannya nilai-nilai kemanusiaan seperti kreativitas, pluralitas, penghargaan harkat martabat, dan saling menghormati.

Ketiga, gerakan budaya pendidikan Indonesia perlu mengedepankan hakikat aktivisme, yakni menghargai kerja/kegiatan sebagai nilai tertinggi bagi manusia. Dunia pendidikan kita harus berhasil mengakui bahwa bekerja, berkegiatan, aktif, dan produktif sebagai yang paling berharga. Siswa di satuan pendidikan mana pun, juga gurunya, tiap saat harus menghasilkan sesuatu, harus produktif. Bahkan, proses pembelajaran harus menggambarkan proses produktif aktif.

Keempat, dunia pendidikan di strata mana pun harus berhasil menanamkan nilai-nilai kehidupan permanen seperti kejujuran, kerja keras, ketekunan, ugahari, dan seterusnya.

Hakikat pendidikan seperti uraian itu mengesankan amat normatif. Namun, hanya melalui lorong-lorong normatif semacam itulah kita yakin akan semakin berkembang gerakan budaya pendidikan Indonesia sehingga rasa khawatir mengendurnya ikatan emosional negara-bangsa akan terkikis. Semua itu membutuhkan kerja keras, tetapi hitungan waktu—misal kurun 2009-2014—perlu ditentukan sebagai target pencapaian.

JC Tukiman Taruna, Pengembang Masyarakat Pendidikan di Jawa Tengah

Sumber: Kompas, Kamis, 3 September 2009

Explore posts in the same categories: Edukasi

One Comment on “Patok-Duga Pendidikan”


  1. “perlu ditentukan sebagai target pencapaian.” ini yang sangat penting menurut saya….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: