Memahami Kamera SLD

KOMPAS/ARBAIN RAMBEY
Olympus EP-1, sistem kamera baru, dengan ukuran jauh lebih kecil daripada pendahulu-pendahulunya .

Selama ini kita mengenal istilah kamera SLR atau kependekan dari single lens reflex. Mengapa ”single” dan mengapa pakai ”reflex”? Sistem SLR timbul menyempurnakan sistem yang sebelumnya pakai lensa ganda (double), yaitu sistem kamera sistem double lens (lihat gambar).

Sistem double lens membagi lensa untuk membidik (lensa atas) dan lensa yang mengirim gambar ke film (lensa bawah). Sistem single lens menyempurnakan dengan cuma memakai satu lensa alias lensa untuk membidik dan lensa pengirim gambar menjadi satu. Maka, untuk membagi kerja ini diperlukan adanya cermin refleks yang membuka tutup dengan cepat.

Oleh ARBAIN RAMBEY

Cermin refleks pada kamera SLR miring 45 derajat untuk mengirim gambar ke jendela bidik dengan memantulkannya ke atas (lihat gambar diagram). Dan, cermin ini dengan gerakan refleks akan mengangkat ke atas saat rana dipijit sehingga imaji terkirim ke bidang rekam yang terletak di belakang cermin itu. Bidang rekam bisa film pada kamera konvensional, bisa sensor digital pada kamera digital.

Pada zaman digital ini, cermin refleks bisa dihilangkan sebab imaji saat membidik bisa dihasilkan oleh bidang sensornya sekaligus. Maka, manakala cermin refleks sudah dihilangkan, kamera dengan sistem ini tidak berhak lagi menyandang julukan SLR karena memang tidak punya mekanisme refleks lagi.

Dunia digital memang mengubah segala paradigma dalam fotografi. Pada awal tahun 90-an saat era digital dimulai, kamera digital hanyalah semata mengganti film yang dipakai dengan sensor digital. Perusahaan Olympus adalah yang pertama merancang kamera SLR murni digital sejak awal pada awal tahun 2000-an.

”Life view”

Sejak awal tahun 2000-an, kamera digital terbagi dalam tiga kelas, yaitu DSLR (SLR digital), prosumer (mirip SLR tapi lensanya tidak bisa dilepastukarkan), dan kamera saku. Perbedaan pokok antara DSLR dan kedua adiknya adalah pada masalah pembidikan. Kamera prosumer dan kamera saku bisa membidik lewat layar LCD karena sensornya bisa langsung mengirimkan gambar untuk pembidikan. Hal seperti ini tidak bisa dilakukan di kamera DLSR karena sensornya baru menerima gambar setelah cermin refleks terangkat.

Pada April 2006, Olympus mengeluarkan kamera E-330 yang bisa melakukan life view alias bisa membidik dari layar LCD. Sistem ini pada awalnya dicemoohkan pemakai karena membuat kamera SLR jadi ”bodoh”, seakan jadi kamera saku karena membidik dari layar LCD.

Namun, dalam pemakaian, sistem life view ternyata sangat menguntungkan karena pemotret bisa membidik dengan lebih leluasa, termasuk dengan kamera pada posisi sangat rendah atau sangat tinggi. Dengan melihat ke LCD, mata pemotret tidak perlu lagi menempel pada jendela bidik selayaknya memakai kamera SLR biasa.

Pelan tetapi pasti, kamera DSLR lain mulai menerapkan sistem life view ini. Satu hal terpenting yang kemudian mengemuka adalah kalau sudah bisa life view, apa gunanya cermin refleks? Bagaimana kalau cermin ini dihilangkan?

Kita ingat dulu pada zaman film, diafragma diatur dari lensanya. Kemudian, saat kamera memasuki era elektronik, gelang diafragma dihilangkan karena diafragma diatur secara elektronik dari badan kamera. Dengan menghilangkan gelang diafragma di lensa, harga lensa kemudian jadi lebih murah.

Kalau cermin refleks dihilangkan, harga kamera pasti juga menurun karena sebuah mekanisme yang rumit dihilangkan.

Penghilangan cermin refleks juga membawa konsekuensi lain. Jarak flang atau jarak dari dudukan lensa ke permukaan sensor bisa dikurangi. Ruang kosong yang ditinggalkan cermin refleks bisa digantikan kedudukan lensa yang punya sistem baru.

”Micro four thirds”

Maka, pada Agustus 2008, dua perusahaan, yaitu Olympus dan Panasonic, mengumumkan sebuah sistem kamera baru mereka yang mereka namakan sistem micro four thirds (MFT). Sistem ini memperbarui sistem lama mereka yang bernama sistem four thirds (FT), dengan menghilangkan cermin refleks, lalu membuat sistem lensa baru yang beradaptasi pada ruang kosong akibat hilangnya cermin refleks.

Perbandingan Sistem Four Thirds dan Micro Four Thirds

Sistem MFT memungkinkan sebuah sistem lensa yang jauh lebih ringkas. Perhatikan diagram pada halaman ini. Kalau jarak flang sistem FT adalah 38,67 mm, jarak flang sistem MFT hanya 20 mm. Bisa dibayangkan kalau kemudian lensa MFT jauh lebih kecil daripada pendahulunya.

Perhatikan perbandingan lensa MFT 200 mm f/4 dengan sebuah lensa 300 mm f/4 sistem 135 pada gambar di halaman ini. Karena ukuran sensornya kecil, lensa MFT 200 mm setara dengan lensa 400 mm pada sistem 135 normal.

SLD

Kamera dengan sistem MFT sudah tidak memakai lensa refleks lagi, maka julukan SLR tidak tepat untuk jenis ini. Julukan yang tepat untuknya adalah SLD alias singel lens digital.

Julukan SLD layak diberikan karena bukan tidak mungkin sistem lain akan memakai cara yang sama, yaitu dengan membuang cermin refleksnya. Jadi, bukan sistem FT saja yang akan membuang lensa. Bukan mustahil Nikon, Canon, Sony, dan Pentax juga akan membuat sistem baru tanpa cermin refleks.

Panasonic meluncurkan kamera SLD-nya yang pertama, Lumix G1, Oktober 2008. Dua bulan kemudian Panasonic menambahkan fungsi video pada kamera itu dengan nama GH-1.

Pada 16 Juni 2009, giliran Olympus resmi mengeluarkan kamera SLD-nya yang diberi nama EP-1.

Kompas yang mencoba kedua kamera itu merasakan kepraktisan luar biasa pada keduanya. Ringan dan ringkas, tetapi menghasilkan foto dengan mutu sesuai dengan zamannya. Baik G-1 maupun EP-1 bisa digenggam dalam telapak tangan orang dewasa (lihat gambar). Sistem lensa mereka juga ringan dan mungil.

Masalah membidik lewat LCD memang masih dikeluhkan banyak fotografer profesional. Melihat imaji digital dengan melihat imaji nyata memang sangat jauh berbeda dan mungkin ini membutuhkan pembiasaan, seperti juga kini orang terbiasa bertemu di dunia maya lewat Facebook. Walau begitu, Olympus memberikan sedikit solusi atas hal ini, yaitu dengan menambahkan optical viewer pada EP-1 (optional), seperti terlihat di foto yang ada di halaman ini.

Pada masa depan, kamera SLD tampaknya akan menggeser total kamera prosumer. Olympus dan Panasonic terlihat sudah menghentikan produksi prosumer mereka.

Mau tahu yang ”lebih mengerikan?” Dengan menambahkan adapter, kamera SLD pada masa depan bisa memakai lensa dari merek apa saja. Sekali lagi, apa saja!

Sumber: Kompas, Selasa, 7 Juli 2009

Explore posts in the same categories: Digital, Iptek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: