“Drupadi”, Cerita tentang Perempuan

Oleh: Nursyahbani Katjasungkana

Begitu besarkah perbedaan mata perempuan dan mata lelaki ketika menonton Drupadi?

Bagi saya, Drupadi, sebagaimana yang tergambar dalam pembuka film, menunjukkan siluet tarian perempuan yang muncul dari api, yang menunjukkan kelembutan dan sekaligus kekuatan perempuan, tenaga yang terbungkus dalam keindahan. Tetapi, tidak di mata laki-laki. Drupadi dianggap sebagai perempuan yang kehilangan keagungannya karena banyak omong. Ia juga perempuan yang layak dihinakan karena menolak seorang anak sais ikut sayembara memperebutkan dirinya. Cerita kehancuran Pandawa dan keangkaramurkaan Kurawa ini bahkan dilihat sebagai tragedi Drupadi.

Sejak awal, Leila S Chudori, penulis skenario film ini, telah menahbiskan Drupadi sebagai subyek (agent) bagi dirinya sendiri. Seorang perempuan yang tahu apa yang dikehendakinya dan tahu pula bagaimana cara mencapainya.

Pesan moral yang ingin disampaikan film ini bahwa kebebasan dan otonomi perempuan sangat penting untuk mengatasi kesulitan apa pun sangat jelas dan dikemukakan dengan megah: Drupadi, perempuan cantik dan cerdas serta lahir dari rahim Dewi Agni itu, di tengah sayembara yang diikuti para lelaki yang ingin menjadi suaminya, ternyata memilih Arjuna sebagai tambatan hatinya, meski kemudian harus menikah pula dengan empat saudara Arjuna yang lain.

Tidak hanya itu, dengan kelembutan dan kecerdasannya, Drupadi mampu memberi perlawanan ketika mengalami kekerasan dan penghinaan Kurawa, meski hanya dengan kata-kata, doa, dan kutukan. Pada akhirnya seluruh cerita dalam film itu adalah cerita tentang kemenangan Drupadi melawan keangkaramurkaan.

Dalam cerita aslinya—yang ditafsirkan dengan bahasa Inggris modern oleh penulis seperti RK Narayan dan Ramesh Menon—Drupada, tetap pada keputusannya mengawinkan Drupadi dengan Arjuna. Namun, karena ucapan tak sengaja Kunti, ibunda Pandawa, yang mengatakan agar membagi apa yang didapatnya dengan empat saudaranya yang lain, tanpa menyadari yang dibawa Arjuna adalah Drupadi, calon istrinya.

Mengguat Patriarkhi

Tentu saja perkawinan Drupadi dengan lima Pandawa bukan sekadar karena ucapan Dewi Kunti yang tak bisa ditarik kembali. Resi Viyasa berkisah bahwa Drupadi harus menjalani hidup dengan lima lelaki, karena sebuah kisah pada masa lalu. Perkawinan ini memang unik, bahkan di dalam dunia Mahabharata.

Bagaimana Drupadi mengatur hidup perkawinannya itu, barangkali perkara paling menarik dalam film ini. Alih-alih kerepotan, Drupadi menjalani hidup perkawinannya sebagaimana sudah diatur: setiap tahun, Drupadi menjadi istri dari salah satu Pandawa. Ia mengendalikan hidup perkawinannya dengan damai.

Meski demikian, di dalam film pendek ini (40 menit), kita dapat merasakan seluruh perasaan Drupadi yang tertuang pada kalimat: Mungkin penderitaan adalah sebuah jalan sunyi menuju keindahan yang lebih abadi.

Sesungguhnya film ini merupakan gugatan terhadap asumsi-asumsi patriarkis tentang kedudukan perempuan yang dianggap obyek dan sifat-sifat diam, tunduk, dan submisif sebagai kodrat atau takdir keperempuanannya.

Bangunan nilai yang justru diagungkan masyarakat sebagaimana tercermin dalam tulisan Dahono Fitrianto (Kompas, 14 Desember 2008): “Drupadi di tangan Dian Sastro terkesan menjadi terlalu ekspresif dan banyak omong. Dian menjadi terkesan sedang membawakan karakter Srikandi.”

Saya khawatir Dahono malah belum membaca cerita pewayangan dengan betul, yang jelas memperlihatkan Drupadi selalu melakukan perlawanan dengan kata-kata. Tak pernah sekalipun Drupadi digambarkan sebagai tokoh yang pendiam. Sementara Srikandi adalah tokoh gagah perkasa yang maju ke medan perang, sebagai titisan dari Dewi Amba dan satu-satunya tokoh yang bisa merobohkan Bhisma.

Menjadi pertanyaan pula sikap normatif yang dipegang dan dipedomani: apakah karena Drupadi tak seberingas Bhima dan atau tak mengeraskan suaranya atau menggunakan kata-kata kasar dengan berkacak pinggang sehingga Drupadi dianggap hanya marah ketika kekerasan berimplikasi kepada dirinya sendiri.

Tentang Drupadi yang bersuamikan lima Pandawa bersaudara itu, Dahono menulis: “Terus terang, sebagai orang yang sudah terbiasa menikmati kisah wayang versi Jawa (apalagi bentuk film, yang shooting-nya dilakukan di Yogyakarta dan sekitarnya, ini mengambil bentuk Jawa juga), saya agak kagok dengan kisah poliandri ini. Apakah kekagokan Dahono karena terbiasa menyaksikan lelaki yang berpoligini dan karenanya tak pernah tergambar dalam imajinasinya ada juga perempuan yang pernah bersuamikan lima lelaki?

Sementara itu, peresensi lain, Eric Sasono, dalam Ada Apa dengan Drupadi (RumahFilm.org, 20 Desember 2008) menganggap Drupadi telah dijadikan obyek sayembara atau komoditas pertaruhan oleh ayahnya sendiri. Secara mengejutkan pula, perspektif ini dijadikan dasar untuk menggugat kemarahan Drupadi ketika ia dipertaruhkan di meja permainan dadu oleh Yudhistira karena toh Drupadi pernah dijadikan obyek pertaruhan oleh ayahnya ”maka menjadi obyek pertaruhan bukan hal istimewa bagi perempuan Drupadi ini”.

Menurut hemat saya, justru para lelaki peserta sayembara itulah yang dijadikan Drupadi (dan Drupada) sebenar-benarnya obyek permainan. Bukankah para lelaki itu yang menginginkan Drupadi sebagai istrinya dan oleh karena itu antre mengadu keterampilannya dengan banyak lelaki lain? Drupadilah yang memilih Arjuna, bukan sebaliknya.

Maka sungguh keliru ketika Eric Sasono mengatakan kemarahan Drupadi lebih pada kekerasan yang dia alami dan bukan karena ia “menjadi komoditas” karena ayahnya sendiri pernah pula menempatkannya sebagai obyek sayembara. Bukankah ia telah mengemukakan keberatannya kepada Yudhistira dan Arjuna atas keputusan keduanya untuk memenuhi undangan Kurawa bermain dadu? Bukankah ia juga menyatakan protesnya karena Yudhistira, yang sebenarnya tak berhak mempertaruhkannya, apalagi ia tak lagi memiliki dirinya?

Namun, Yudhistira titisan Brahma itu tak peduli, nuraninya tumpul karena angkara. Maka di sinilah sebetulnya tragedi itu bermula: Pandawa kehilangan segala-galanya.

Dari cerita ini jelaslah moral kisah ini adalah tragedi Pandawa, bukan tragedi Drupadi sebagaimana dikemukakan Irfan, peresensi film Drupadi lainnya (Irfan Irfansyah Ismail, RumahFilm.org, 20 Desember 2008).

Menjadi perempuan yang bebas dan mandiri, cerdas dalam mengemukakan pendapat, tetapi tetap lembut dalam melakukan perlawanan, apalagi perempuan itu menjalani hidup perkawinan dengan lima suami, ternyata masih jauh dari jangkauan imajinasi masyarakat kita, khususnya para laki-laki.

Setidaknya dari peresensi film Drupadi, dapat dikatakan tampaknya masih sukar bagi para lelaki untuk keluar dari bias-bias patriarkhi dan pandangan normatifnya tentang perempuan. Bahkan melawan kekejaman dengan kata-kata, mantra, dan kutukan pun dianggap sebagai ketidakwajaran dan menjadikan perempuan “hilang keagungannya”.

Meski demikian, setidaknya Drupadi telah menjadikan soal poliandri sebagai wacana publik, seraya merenungkan bagaimana seharusnya kekuasaan dijalankan agar tak berubah menjadi tragedi.

Nursyahbani Katjasungkana, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan aktivis perempuan

Sumber: KOmpas, Minggu, 11 Januari 2009

Explore posts in the same categories: Film, Nursyahbani Katjasungkana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: