Bahasa Inggris dan Alienasi Kultural

Oleh: Mochtar Buchori

Alienasi kultural ialah keterasingan terhadap budaya sendiri. Biasanya ini merupakan dampak dari proses cukup panjang.

Seorang manusia Indonesia yang tinggal di luar negeri terus- menerus selama lima atau 10 tahun akan menjadi terasing atas situasi budaya Indonesia. Saat ”pulang” ke Indonesia, ia merasa serba asing dan serba canggung.

Tulisan ini diilhami dari sebuah laporan (Kompas, 12/12/2008). Dalam laporan yang menarik itu dipaparkan kisah kehidupan seorang guru SMA di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Nama guru itu ialah Slamet Riyanto.

Bagi saya, laporan tersebut amat mengagumkan sekaligus mengharukan. Seorang guru bahasa Inggris SMA menulis 40 buku bacaan dalam bahasa Inggris untuk membantu murid-muridnya. Ini dilakukan secara sukarela, dengan gaji guru SMA yang tidak seberapa. Bandingkan gaji guru SMA dengan penghasilan anggota DPR.

Meski pendidikan formal kebanyakan anggota DPR lebih rendah daripada yang telah ditempuh Riyanto, dan pekerjaan mereka tidak seberat pekerjaan Riyanto, penghasilan resmi mereka — tanpa tambahan dari berbagai jenis manipulasi kekuasaan — masih lebih tinggi daripada penghasilan seorang guru SMA.

Sebagai orang Gunung Kidul, saya tahu betapa berat hidup di Gunung Kidul sebagai seorang guru. Meski kini Gunung Kidul sudah jauh lebih hijau, lebih rimbun, dan lebih makmur daripada zaman saya dulu, tetap saja hidup di Gunung Kidul tidaklah terlalu nyaman. Dan, sebagai mantan anggota DPR — meski dulu banyak menggerutu — saya tahu, betapa nyamannya kehidupan seorang anggota DPR.

Berbagai kenyataan ini menambah kekaguman saya terhadap Riyanto. Selain kagum terhadap keuletannya sebagai orang Gunung Kidul dalam mempelajari bahasa Inggris, saya juga mengagumi kreativitasnya. Sungguh tidak mudah bagi orang yang lahir dan dibesarkan di Gunung Kidul untuk terus mempertahankan minatnya terhadap bahasa Inggris atau bahasa asing lain.

Masalah utamanya adalah tidak ada rangsangan dan dukungan dari lingkungan. Rasanya tidak ada manusia lain di Gunung Kidul yang memerlukan kemampuan bahasa Inggris memadai, setingkat dengan kemampuan Riyanto dalam berwacana dan menulis dengan bahasa Inggris.

Pada zaman saya dulu, dari generasi saya yang mampu berbahasa Belanda setingkat dengan kemampuan saya hanya tiga orang. Dua orang bersekolah di HIK Katolik Muntilan dan saya bersekolah di HIK Muhammadiyah Yogyakarta.

Gejala Alienasi

Sekarang saya ingin menyampaikan beberapa catatan pribadi terkait laporan tentang Riyanto. Catatan ini saya buat hanya untuk membantu Riyanto mematangkan pemikirannya tentang peran pelajaran bahasa Inggris dalam kehidupan para murid. Berbagai pikiran saya tumbuh dari pengalaman pribadi selaku orangtua yang telah mengalami beberapa jenis transformasi kultural (cultural transformation). Artinya, saya susun sebagai manusia Gunung Kidul, tetapi sebagian perilakunya tidak bersifat Gunung Kidul atau tidak berakar di kebudayaan Gunung Kidul.

Motivasi utama Riyanto menulis buku-buku bahasa Inggris dengan dongeng lokal ialah karena anak-anak tampak makin tidak mengenal nilai-nilai budaya sendiri. Mereka canggung dan terasing menghadapi perilaku budaya dalam lingkungannya.

Ini merupakan gejala alienasi kultural yang bila dibiarkan berlangsung bisa merusak kesadaran generasi muda serta citanya sebagai manusia Indonesia yang memiliki identitas kultural sendiri. Rupanya karena sadar akan bahaya ini, Riyanto menulis buku-buku bacaan untuk menuntun anak-anak mengenali kembali budaya lingkungannya.

Ini merupakan usaha yang sungguh heroik. Masalahnya ialah bijaksanakah jika masalah nasional ini dibiarkan dipikul seluruhnya oleh Riyanto?

Saya kira tidak! Pertama-tama, perlu kita sadari, alienasi kultural merupakan dampak jangka panjang dari kecerobohan budaya (cultural sloppiness) bangsa Indonesia, terutama para pemimpinnya, baik pemimpin budaya maupun terutama pemimpin politik yang tidak memiliki visi budaya.

Jadi, menurut saya, alienasi kultural yang diperlihatkan generasi muda sekarang bukan kesalahan bahasa Inggris, bukan kesalahan pelajaran bahasa Inggris, bukan pula kesalahan para guru bahasa Inggris. Kiranya tidak ada seorang pun guru bahasa Inggris yang bermaksud membuat anak-anak menjadi tiruan orang Inggris. Yang melakukan kesalahan dalam ‘penginggrisan’ generasi muda adalah siaran TV murahan yang dibuat hanya untuk mengejar rating (peringkat) dan keuntungan komersial tanpa selera kultural yang benar dan santun.

Secara khusus, kesalahan bangsa ini terletak di pundak generasi dewasa, yaitu generasi tua dan generasi setengah tua. Generasi ini gagal mewariskan nilai-nilai budaya tertentu kepada generasi muda melalui pendidikan nilai. Di antara yang gagal mereka wariskan adalah nilai-nilai budaya yang bersifat inti, seperti rasa kesantunan (sense of decency), rasa tanggung jawab, terutama tanggung jawab sosial, kemampuan mengekang diri, dan keharusan untuk terus memperbarui jati diri kultural bangsa.

Memperluas Wawasan

Ada satu catatan lagi yang cukup penting. Tujuan pelajaran bahasa asing—termasuk bahasa Inggris—ialah untuk memperluas wawasan nasional anak-anak. Wawasan nasional yang pendek atau rabun (myopic) dan terlalu emosional berbahaya bagi pembaruan jati diri bangsa. Perluasan wawasan ini harus dilakukan pada tingkat tertentu dalam proses pembelajaran bahasa asing.

Kekhawatiran saya, bila waktu untuk pelajaran bahasa Inggris terlampau banyak dihabiskan untuk mempelajari budaya lokal, tidak akan tersisa cukup waktu untuk memahami budaya asing yang menjadi induk pelajaran bahasa asing dengan benar.

Jadi, bagaimana sikap kita terhadap upaya Riyanto? Haruskah usaha-usaha itu dihentikan? Jangan! Usaha menanamkan nilai- nilai budaya sendiri harus didukung bersama, terutama oleh mereka yang merasa mempunyai tanggung jawab moral dalam pendidikan nilai. Di sini, guru kewarganegaraan jelas bertanggung jawab. Juga guru sejarah.

Hal lain yang amat penting adalah pendidikan nilai harus dilakukan dengan benar. Nilai-nilai jangan terus dikhotbahkan. Nilai- nilai harus dikenal, dipahami, dihayati, dan didukung tekad yang kuat guna mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Pendidikan nilai yang berhasil ialah yang menggerakkan murid-murid untuk secara sukarela mengikatkan dirinya kepada nilai-nilai yang telah mereka kenal dan pahami.

Mochtar Buchori, Pendidik

Sumber: Kompas, Sabtu, 17 Januari 2009

Explore posts in the same categories: Artikel, Edukasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: