Nasib Pembangunan Kita

Oleh: Daoed Joesoef

Semua warga Indonesia sepakat tentang keharusan adanya pembangunan nasional. Segenap elite kiranya mengetahui bahwa untuk pelaksanaan yang efektif dari kerja besar kolektif seperti itu diperlukan suatu konsep visioner yang komprehensif.

Yang paling menyadari keniscayaan tersebut di antara semua pemerintahan yang pernah ada di Indonesia adalah yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto. Baik konsep maupun penerapan ide pembangunan direkayasa oleh satu tim teknokrat menurut ajaran dan penalaran, nyaris secara harafiah, dari ekonomika. Ternyata pembangunan yang berkonsep simplistis ini gagal, baik dalam term ekonomi, apalagi dalam term sosio-politik.

Anehnya, semua pemerintah di era reformasi pada hakikatnya melaksanakan pembangunan menurut cara yang dilakukan rezim Soeharto pada era Orba, yang hasilnya mereka kutuk habis-habisan. Perdebatan-perdebat an yang mulai menghangat di antara elite parpol tidak ada yang mencerminkan perbedaan ideologi politis. Padahal mengenai hal ini masih ada masalah besar yang perlu kejelasan, yaitu bagaimana mentransformasikan demokrasi politik (pemerintahan dari dan oleh rakyat) menjadi demokrasi sosial dan demokrasi ekonomi (pemerintahan untuk rakyat).

Dengan mengabaikan begitu saja masalah transformatif kedemokrasian yang begitu fundamental, para elite parpol mengetengahkan cara pembangunan menurut resep buku teks ekonomi pembangunan yang diwariskan oleh para ekonom liberal dari negeri-negeri industrial maju. Kalaupun ada perbedaan hanya berupa aksen penerapan sektoralnya. Apakah mereka tidak menyadari bahwa cara pembangunan yang mereka pikirkan itu hanya akan menaikkan GNP, bukan kesejahteraan rakyat, seperti yang terjadi semasa Orba?

Kalaupun mereka sampai pada konsep yang mirip dengan konsep teknokratis dari tim teknokrat Orba, saya pikir karena mereka tidak memahami bagaimana melaksanakan pembangunan yang sejalan dengan tuntutan ide-ide demokratis seperti yang menjadi impian gerakan reformasi yang berpretensi mengoreksi kebijakan rezim Soeharto. Dengan membatasi konsep pembangunan hanya pada aspek teknokratisnya, baik teknokrat rezim Soeharto maupun elite politik reformasi, sebenarnya ingin menjawab pertanyaan yang sama, yaitu “bagaimana mewujudkan pembangunan nasional yang bersendikan pembangunan ekonomi?”

Maka kalau mau ada perubahan konsep visioner pembangunan, seperti yang digembar-gemborkan para tokoh reformis sekarang, konsep itu harus berupa jawaban dari pertanyaan yang berbeda. Dengan kata lain, pertanyaan pembangunan harus diubah, dibuat lain, yaitu “Apa yang selama ini menghambat pembangunan? ”

Sejarah kemanusiaan berkali-kali mencatat betapa kemajuan tercapai setelah pertanyaan diubah oleh sang pencari jawaban. Dalam usaha memulihkan kesehatan, misalnya, tidak sedikit jumlah bakteriolog mengadakan kultur bakteri sebagai cara mendapat jawaban terhadap pertanyaan, “Mengapa bakteri berkembang biak?” Namun, Fleming yang berniat mencari zat alami yang berkekuatan antibakterial, mengubah pertanyaan tadi menjadi, “Apa yang menghambat pengembangbiakan bakteri?” Karena yang dia cari adalah suatu antibiotikum, maka akhirnya dia bisa menemukan penisilin, yang dapat memenuhi syarat dari apa yang dicarinya itu.

Revolusi ilmiah pertama pada akhir paruh pertama abad XVI terjadi ketika seorang Copernicus menyimpulkan bahwa dunia bergerak mengitari matahari (heliosentris) , bukan matahari yang mengelilingi bumi (geosentris) . Dia tiba pada kesimpulan ini setelah pencarian keilmuannya didasarkan pada pertanyaan, “bagaimana kalau orbit planet-planet dilihat dari matahari,” tidak lagi dari bumi seperti yang dipegang sebelumnya oleh pihak gereja.

Perubahan dalam rasionale ekonomika juga terjadi setelah Keynes mengubah penalaran ekonomi yang berpangkal tolak dari kesatuan individual (mikroekonomi) menjadi berporoskan massa individu (aggregate/makroeko nomi).

Suatu konsep pembangunan yang komprehensif dalam dirinya merupakan suatu perkawinan dari aneka ide dan pikiran. Mengenai perkawinan Tolstoy menulis di awal novelnya yang terkenal. Anna Karerina, kalimat berbunyi “Happy families are all alike; every unhappy family is unhappy in its own way“. Dengan kalimat ini novelis besar tersebut hendak mengatakan bahwa agar bahagia, suatu perkawinan harus bisa sukses dalam banyak hal yang berbeda, seperti ketertarikan seksual, persepakatan mengenai uang, pendisiplinan anak, agama, saudara yang ikut serumah, dan isu vital. Kegagalan dalam salah satu hal yang esensial itu dapat merusak perkawinan walaupun ia memiliki lain-lain unsur yang diperlukan untuk kebahagiaan.

Asas Anna Karerina itu kiranya dapat dipakai untuk menjelaskan masalah (sukses atau kegagalan) dari pembangunan. Kalimatnya menjadi, “Successful developments are all alike; every unsuccessful development is unsuccessful in its own way“. Kita cenderung mencari an easy, single-factor explanation of success, misalnya modal atau pinjaman luar negeri atau investasi asing atau buruh murah atau sumber daya alam atau keamanan.

Padahal nyatanya, menurut Prof. Diamond, sukses menuntut pencegahan banyak kemungkinan penyebab kegagalan yang terpisah-pisah, tetapi berkeadaan bagai bejana berhubungan. Berarti, bila yang satu tampil, ia berpotensi menimbulkan yang lain begitu rupa hingga terwujudlah kegagalan beruntun. Ini yang sudah terjadi dengan pembangunan ala Orba dan pasti akan terjadi pula dengan pembangunan ala reformasi bila ia dibuat sebagai jawaban (respons) terhadap pertanyaan (challenge) yang sama.

Akhirnya, untuk bisa sukses, pembangunan nasional yang holistik pada era reformasi memerlukan suatu konsep di mana bersinergi tiga pembangunan prinsipal, yaitu: pembangunan ekonomi-sosial- politik, pembangunan pertahanan-keamanan , pembangunan pendidikan-kebudaya an. Sinergisme ini perlu demi menjamin perwujudan dasar kesejahteraan rakyat yang solid, demi menjamin sekuriti dari apa-apa yang sudah dibangun, demi menjamin pembentukan masa depan yang cerah melalui keberadaan warga-warga yang enlightened.

Insiden pembangunan proyek PLTU Banten 3 baru-baru ini mengindikasikan kebutuhan akan konsep seperti itu. Insiden ini merupakan ulangan belaka dari apa yang pernah terjadi di zaman Orba karena sebab-sebab yang sama, menyangkut pembuatan waduk Kedungombo.

Sungguh ngeri menyaksikan tayangan televisi mengenai perdebatan antara kader-kader parpol. Kebenaran tesis masing-masing pihak berusaha dibela melalui suara bernada keras dengan dukungan gertak dan teriakan histeris dari pihak partisan, bukan melalui uraian nalariah yang santun dengan kata-kata yang teratur. Ngeri bukan karena khawatir akan timbul bentrokan fisik, tetapi ngeri mengingat bagaimana kelak nasib masa depan Indonesia bila dipimpin dan dikelola oleh politikus-penguasa bergaya preman seperti itu.

Penulis adalah alumnus Universit é Pluridisciplinaires Panth éon-Sorbonne.

Sumber: Suara Pembaruan

Explore posts in the same categories: Artikel, Daoed Joesoef

One Comment on “Nasib Pembangunan Kita”

  1. savana hijau Says:

    “suatu konsep di mana bersinergi tiga pembangunan prinsipal, yaitu: pembangunan ekonomi-sosial- politik, pembangunan pertahanan-keamanan , pembangunan pendidikan-kebudaya an.” [selesai kutipan]

    ====================

    maaf, kalau boleh tau dari keseluruhan uraian di atas khususnya kalimat yang saya kutip, dimanakah letak perbedaan fundamental yang menglazimkan konsep pembangunan pada era reformasi lebih baik daripada orba? yang saya tangkap, Daoed Joesoef dalam essay di atas mengkritik pola pembangunan reformasi yang ternyata tak berbeda dengan pola pembangunan orba. namun, tesis yang beliau ajukan sebagai konsep yang benar-benar baru secara fundamen tampaknya pun tidak menampilkan perbedaan apa-apa. tesis beliau yang saya kutipkan di bagian atas kolom balasan ini, menurut saya, belum menunjukkan perbedaan signifikan jika dibandingkan dengan konsep strategi pembangunan nasional yang ditulis oleh Ali Moertopo yang dalam konteks historisnya kemudian dijadikan landasan oleh orba dalam melaksanakan pembangunan jangka panjang 25 tahunnya yang terkenal itu. mohon pencerahannya. terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: