Historis Demografisme

Lalai Menangani Kependudukan

Oleh Daoed Joesoef

Sewaktu menjelang, selama, dan sesudah Lebaran, ada gejala sosio-demografis yang seharusnya kita tanggapi secara serius. Gejala itu, sesuai peristilahannya, berupa gerombolan manusia yang berinteraksi satu sama lain di sektor urban, pedesaan, di mana-mana.

Mereka membentuk antrean pembagian zakat yang cukup panjang, saling desak, hingga ada yang berakhir dengan tewasnya puluhan orang (Pasuruan). Mereka berebut tempat dalam alat transpor, saling dorong dan desak, hingga menimbulkan kecelakaan berdarah.

Mereka memadati jalan ke segala penjuru, saling salip, hingga berjatuhan korban, termasuk anak-anak, balita, dan perempuan yang sedang mengandung. Mereka saling tuding, saling menyalahkan tidak becus mengurus negara-bangsa, terutama di antara yang ”muda” dan ”tua”, di media massa.

Ada pula yang bersilaturahmi secara berlimpah-ruah di gedung-hotel mewah. Ada yang mengais-kais sisa makanan di tempat-tempat pembuangan sampah. Namun, ada juga yang berperut buncit karena makan berlebihan, ada yang berperut busung karena kelaparan. Ruang hidup bersama terasa semakin sumpek.

Kependudukan Lepas Kontrol

Semua itu tergolong gejala perkembangan penduduk yang out of control karena sudah lama dibiarkan berlarut-larut secara alami. Padahal, pada akhir abad XVIII, Thomas Robert Malthus mengingatkan, bila dibiarkan berjalan secara alami, pertambahan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung. Berarti, makhluk manusia, secara alami, akan selalu menghadapi ancaman kelaparan.

Karena itu, pemerintahan Orba dulu, dalam rangka usaha pembangunan nasional, tidak lupa menyiapkan aneka program ”keluarga berencana” (KB) yang diterapkan secara intensif dan ekstensif di seluruh tanah air yang di sana-sini mulai membuahkan hasil seperti yang diharapkan.

Karena itu, pantas disesalkan bahwa Orde Reformasi tidak meneruskan program KB tersebut karena dibelenggu oleh pandangan picik bahwa era lama adalah serbahitam. Padahal, hidup dan kehidupan secara esensial menuntut adanya kontinuitas dari tindakan positif dan konstruktif yang dilakukan siapa pun di mana pun.

Indonesia pernah dianggap mengalami kekurangan penduduk. Menjelang runtuhnya pemerintahan kolonial (1940), penduduk kita baru berjumlah 69,2 juta jiwa. Maka, wajar Bung Karno merasa perlu adanya pertambahan cepat penduduk agar menjadi suatu kekuatan revolusi. Tidak heran kalau penduduk berkembang pesat pada era Soekarno.

Pada 1970, ia mencapai jumlah 118,2 juta, suatu kenaikan 53 persen bila dibanding keadaan pada 1950 (77,2 juta), hingga bisa disebut ada ledakan bayi (baby boom). Ketika itulah mulai terasa ada ancaman tekanan penduduk.

Saat ini, penduduk Indonesia mencapai 220 juta orang. Pada 2015 kelak, jadi tujuh tahun lagi, ia akan berkembang biak hingga 273 juta orang. Angka tersebut ditaksir bisa menjadi 300 juta bila populasi ini dibiarkan tumbuh secara alami. Peringatan bahaya tekanan penduduk dari Malthus digambarkan terutama berupa perbandingan yang timpang antara jumlah penduduk dengan stok bahan makanan.

Mutu Human Menakutkan

Ada juga dibayangkan sepintas lalu dampak negatifnya atas kondisi kesehatan dan pendidikan. Akibat di kedua aspek mutu human itu saja memang sudah cukup menakutkan dan menyibukkan pikiran pemimpin serta cendekiawan dalam usaha mencari solusinya.

Sebenarnya ada aspek-aspek kependudukan lain yang bahkan relatif lebih berpotensi mengganggu ketenteraman dan keamanan, yang secara alami ditimbulkan oleh pertumbuhan penduduk -yang membuat ”faktor demografis” menjadi kekuatan penentu bagi jalannya kehidupan manusia.

Faktor tersebut, antara lain, kekuatan-kekuatan demografis-urban serta demografis-fisiologis dengan pertentangan/bentrok antar kekaryaan dan antargenerasi yang ditimbulkan. Faktor-faktor itulah yang sebenarnya paling menentukan di setiap bidang kehidupan manusia, yang justru telah diabaikan oleh rezim Orba dalam usahanya memecahkan masalah ancaman kependudukan.

Di samping program KB, solusi memusatkan perhatian hanya pada persediaan ”pangan”, ”sandang”, ”papan”, pendidikan, dan kesehatan, jadi banyak sedikitnya sesuai dengan ajaran Malthus. Pengabaian faktor-faktor tersebut ternyata berakibat fatal bagi rezim Orba. Semua itu kiranya sangat berperan dalam proses kejatuhannya.

Karena itu, ada baiknya hal tersebut diketengahkan agar diketahui, dipahami, dan, eventually, ditangani dalam era pascareformasi agar sejarah tidak berulang dalam hal yang sama bagi Rezim Reformasi. Ia diketengahkan menurut pendekatan ”historis demografisme”.

”Demografisme” dimaksudkan: kenyataan-kenyataan yang berhubungan dengan eksistensi, pertumbuhan dan aglomerasi penduduk serta psikologis khas yang mencerminkan cara evolusi dan penggolongan dari lingkungan kehidupan manusia tersebut yang dalam dirinya merupakan satu substratum elementer dinamis. Ke dalam pengertian itu, dimasukkan pula sekaligus pikiran filosofis yang mempelajari sebab dan akibat gejala-gejala demografis tersebut.

Kata sifat ”historis” yang dengan sadar diletakkan di muka perkataan ”demografisme” bermaksud menegaskan bahwa pengertian demografisme yang hendak dipakai sebagai alat analisis ini, dalam menyintetisasikan realitas demografis yang ada, memperhitungkan dengan sepenuhnya fakta-fakta yang dibawa oleh arus sejarah ke dalam lingkungan kehidupan manusia.

Sampai saat ini, doktrin-doktrin yang ada membahas dunia, abad, zaman, dan lembaga-lembaga kehidupan manusia melalui ”ekonomi”, ”etnologi”, ”antropologi”, atau ”geografi”. Pengertian ”historis demografisme” sebagai alat analisis berusaha menginterpretasikan gejala-gejala peradaban melalui faktor psiko-demografis.

Pada tingkat terakhir, ”historis demografisme” merupakan satu kajian tentang lingkungan kehidupan manusia atau kelompok natural demografis: umur penduduk, generasi, kekaryaan (profession), serta ikatan (association), bukan satu ”population study” yang menyorot persoalan penduduk semata-mata dari sudut jumlah, pembagian kelamin, dan strukturnya (lapisan-lapisan umur). (bersambung)

Pertentangan dan Pertarungan Kekaryaan

Setiap kesatuan hidup (masyarakat) adalah satu fungsi demografis yang juga satu kesatuan administratif. Cara manusia mengorganisasi dan menggunakan aktivitas (insting dan kesanggupan), mengadakan pembedaan-pembedaan jasmaniah dan rohaniah ke dalam kekaryaan-kekaryaan (profession) yang sesuai, serta membagi-bagi kewajiban dan pekerjaan (fungsi) sebagai akibat tekanan psiko-demografis atau didorong perjuangan hidup memberikan corak khas dalam sejarah setiap masyarakat yang bersangkutan.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa faktor yang menentukan dalam sejarah pada tingkat pertama dan terakhir adalah pertumbuhan dan aglomerasi penduduk.

Menurut Marxisme, sejarah tidak lain adalah hasil suatu perjuangan kelas, antara kelas yang punya dan tidak punya, antara pemilik alat produksi dan pekerja yang hanya punya badan dan tangan.

Menurut historis demografisme, yang sebenarnya menggerakkan evolusi bukanlah pertentangan kelas, melainkan pertentangan ikatan (association). Yaitu, pertentangan antarsekte, antarkelompok (factions), serta antargrup (militer, politik, kultural, dan lain-lain) yang bertujuan merebut alat-alat kepemimpinan (direksi) dan pendidikan (edukasi) di masyarakat. Dalam pertentangan dan pertarungan ikatan tersebut di berbagai fase sejarah, ditemui bermacam kesatuan ikatan fundamental, seperti fungsi-fungsi intelektual, birokratis, produsen, dan militer.

Jadi, setiap kesatuan hidup manusia, di mana pun, dibagi-bagi ke dalam golongan militer, intelektual, dan produsen. Yaitu, fungsi-fungsi badani, mental, dan ekonomis. Mereka bertarung satu terhadap lainnya untuk menguasai negara. Yaitu, bentuk tertinggi dari sesuatu kekuasaan sosial atau bertarung sekadar mempertahankan hak, rasion d’√™tre, dan kebebasan mereka yang sedang terancam.

Dalam kesatuan hidup yang primitif sekalipun, di mana berlaku pemilikan bersama terhadap benda, ternak, bahkan perempuan, sudah terdapat pembagian kesatuan hidup itu ke dalam prajurit (militer), pendeta (intelektual), serta petani-pertukangan (produsen).

Betapa pun sederhananya, masyarakat seperti itu telah mengenal pertarungan-pertarungan, baik bersifat ke dalam (antarkekaryaan) maupun ke luar (menyerang atau mempertahankan wilayah hidup). Semua pertarungan tersebut pada hakikatnya adalah pertarungan demografis. Bukan sekali-kali pertarungan kelas seperti yang disimpulkan oleh analisis Marxis.

Pertentangan dan pertarungan kekaryaan telah menandai fase-fase pokok sejarah. Semasa abad kuno, kita melihat kemenangan militer terhadap intelektual (philosophical and political schools) dan kelompok-kelompok kekaryaan lainnya. Pada abad pertengahan, militer masih tetap berkuasa, tetapi banyak sedikitnya sudah diawasi oleh otoritas spiritual dan kelompok-kelompok elite tertentu. Zaman pencerahan (renaisans) ditandai oleh kekuasaan manusia-manusia produsen terhadap kesatuan-kesatuan kekaryaan lainnya.

Korporasi Intelektual

Dewasa ini hegemoni produsen mulai direbut oleh korporasi intelektual atau administratif yang anggota-anggotanya semakin lama semakin banyak melalui transformasi dari intelektualitas murni sampai menjadi teknokrat atau administrator birokratis.

Setiap kelompok kekaryaan menyempurnakan diri. Masing-masing tumbuh dan berkembang untuk mengatasi atau menguasai kelompok lainnya. Selalu ada kecenderungan bahwa setiap kelompok berusaha menjadi satu kekuatan sosial yang menentukan, berada di tampuk teratas dari hierarki yang terbentuk dari berbagai korporasi suku (tribe) penduduk (di masyarakat primitif) atau kesatuan kekaryaan (di masyarakat modern).

Kelompok kekaryaan tersebut menguasai semua alat administrasi dan edukasi. Atau, sesedikitnya mereka berusaha membuat supaya alat-alat itu bekerja demi kepentingannya.

Dengan demikian, timbul pergeseran-pergeseran, perang pengaruh, serta pertarungan kekuatan di antara tiga kategori utama kekaryaan tersebut (militer, intelektual, dan produsen). Sejarah menunjukkan, dalam setiap pertarungan antarkekaryaan itu, walaupun ada kalanya tersisih mundur seketika, salah satu kategori kekaryaan dapat kembali muncul sebagai pemenang. Ia keluar sebagai pemenang semata-mata karena kekaryaan kesatuan itulah yang paling dapat menyatakan atau mewakili hakikat maupun makna pokok persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat bersangkutan dalam periode sejarah di mana mereka sedang berada.

Semasa abad kuno, misalnya, dari pertarungan antarkekaryaan -yang kadang-kadang bersifat politis- kelompok militer keluar sebagai pemenang karena kekaryaannya mewakili kebutuhan paling besar dari struktur demografis ketika itu atau paling terasa kegunaannya dalam rangka pembagian kerja demografis di abad tersebut.

Di abad pertengahan, sewaktu mempertahankan hidup secara fisik sudah menjadi agak lunak, kekuasaan militer mulai memberikan konsesi sekadarnya kepada kekuasaan spiritual. Mulai zaman renaisans, kekuasaan militer diganti oleh kekuasaan ekonomi (kekuatan produsen) dan rasionalis (intelektual).

Kelompok ekonomis-produktivis memegang tampuk pimpinan sepenuhnya sejak revolusi industri, tepatnya segera setelah lingkungan kehidupan manusia berkembang biak dalam volume dan menjadi padat begitu rupa hingga merupakan satu kenyataan demografis-urban.

Kenyataan itu memerlukan means of action yang baru agar bisa menghidupi dan mempertahankan kehidupan lapisan-lapisan penduduk yang telah berlipat ganda tersebut. Lama-kelamaan, realitas demografis-urban menimbulkan kelompok baru, yaitu intelektual-administratif. Kelompok itu pada gilirannya berusaha mengambil alih pimpinan masyarakat dari tangan kelompok ekonomis-produktivis.

Kelompok terakhir tersebut pasti akan tersisih dari tampuk pimpinan lingkungan kehidupan, seperti yang pernah terjadi pada golongan militer dalam fase sebelumnya. Itu pun apabila kelompok profesional ekonomis-produktivis memang ternyata tidak sesuai lagi dengan hakikat keadaan dan kebutuhan organis peradaban dalam fase kesatuan hidup dewasa ini.

Demikianlah, setiap perkembangan kepadatan dan kuantitas serta kualitas penduduk menimbulkan keperluan-keperluan khas. Aristokrasi militer dan religio-spiritual, oligarsi ekonomis, serta otoritas intelektual-administratif adalah lembaga-lembaga masyarakat yang bersesuaian dengan bentuk-bentuk pemusatan penduduk dan ditimbulkan oleh tekanan-tekanan psiko-sosial yang erat hubungannya dengan bentuk-bentuk itu.

Percikan Api yang Meletuskan Pemberontakan

Selain pertentangan kekaryaan dan ikatan, pendekatan historis demografisme terhadap pemahaman tentang tekanan kependudukan mengungkapkan pula adanya pertentangan generasi sosial. Generasi itu adalah keseluruhan orang yang mempunyai kesamaan kepentingan dalam persoalan kebudayaan, organisasi, kontrol, dan merasa solider satu dengan lainnya berhubung kesamaan dalam aspirasi dan cara melaksanakan sesuatu. Dalam generasi sosial itu selanjutnya dapat dibedakan ”generasi muda atau generasi pembaru” dan ”generasi tua atau generasi konservatif”.

Dengan generasi muda dimaksudkan keseluruhan individu atau kelompok-kelompok orang yang berusia banyak sedikitnya sama, yang berada dalam suatu keadaan psikologis tertentu berhubung adanya kesamaan tanggapan mengenai kebutuhan yang dianggap vital selama suatu waktu tertentu di dalam periode aktif dari masa kehidupan mereka dan berbeda, baik dari sudut pandang maupun cara, dengan keadaan psiko-kolektif generasi sosial yang mendahuluinya.

Dengan generasi tua dimaksudkan keseluruhan individu dan kelompok yang mempunyai ciri-ciri yang sama seperti tersebut di atas dan mencerminkan keseluruhan kebutuhan dan pandangan anggota-anggotanya selama periode pasif dari masa kehidupan mereka dan berbeda dari sifat dan keadaan psiko-kolektif generasi yang langsung menyusulnya di dalam proses (urut-urutan) sejarah.

Pertentangan kekaryaan dan ikatan sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, bila ditinjau lebih dalam, hanya merupakan bagian dari pertentangan lain yang lebih luas. Yaitu, pertentangan antargenerasi, antara kategori penduduk yang mempunyai tanggapan hidup yang berbeda.

Jalannya sejarah penuh ditandai oleh pertentangan antara psikologi militer yang baru dan lama, antara konsepsi filosofis yang baru dan yang lama, antara cara berproduksi yang baru dan yang lama.

Semasa abad kuno, yang oleh analisis Marxist selalu disebut sebagai pertentangan kelas, yang terlibat dalam bentuk pertentangan ikatan sebenarnya adalah pertentangan antargenerasi berupa usaha perebutan kepemimpinan masyarakat di antara elite dari dua generasi yang jelas berbeda.

Karakteristik demografis ini jelas menandai Revolusi Perancis. Revolusi itu merupakan akibat perjuangan yang lahir dalam lingkungan budaya-urban, digerakkan oleh filosofi ensiklopedis dan oleh sejumlah besar orang-orang muda yang berpendidikan, aktif, dan hidup di kota-kota.

Mereka itu tidak hanya menuntut kebebasan (libert) dan kesetaraan (egalit), tapi bertekad pula untuk memimpin dan mengatur jalannya masyarakat dengan asas-asas baru dan orang-orang baru.

Revolusi Rusia yang didengung-dengungkan sebagai buah dari pertarungan kelas, sebagai suatu model revolusi proletar, pada asasnya merupakan pertarungan antargenerasi yang meliputi cukup banyak aspek militer, intelektual, serta birokrat.

Demikian pula friksi-friksi yang pernah terjadi dahulu di beberapa negara komunis menjelang keruntuhan rezim totaliter itu, yang keluar dinyatakan sebagai pertarungan antara kelas reaksioner yang hendak merebut kembali kepemimpinan masyarakat dari tangan kelas proletar, sebenarnya tidak lain adalah pertarungan antara generasi muda dan tua dari ”kelas” yang sama. Gejala yang sama terlihat di beberapa negara yang baru merdeka di Afrika, Amerika Latin, dan negara kita sendiri sampai beberapa kali.

Dalam banyak hal, pertentangan generasi psikologis sampai tingkat tertentu mencakup pertentangan-pertentangan umur fisiologis (antagonisme orang muda dengan orang tua dewasa ini). ”Pertentangan umur”, setiap periode 30 tahunan, mencetuskan cara-cara ”baru” di bidang militer, kultural, dan ekonomi untuk menghadapi cara-cara ”lama” di bidang-bidang yang sama.

Keseluruhan Generasi

Ada kalanya pandangan (visi, konsepsi) hidup yang berbeda tidak terkungkung dalam batas-batas ikatan dan kekaryaan, tapi meliputi keseluruhan generasi psiko-fisiologis; mungkin pula tidak dibatasi ruang (space), baik natural maupun formal. Artinya, tercetus di beberapa ”tempat” yang berbeda tanpa komunikasi dan konsultasi dengan sengaja satu dengan lainnya lebih dulu.

Bila demikian, pertentangan dapat dikatakan merupakan satu ”pertentangan zaman”, yang dalam sejarah dikenal sebagai pertentangan generasi-generasi militer, intelektual-religius, ekonomis.

Ambillah, misalnya, ”pemberontakan” di kalangan ”anak-anak muda”, di berbagai tempat dan negara, yang hampir seluruhnya dimulai di pusat-pusat pengetahuan (kampus). Pemberontakan generasi muda itu sangat jelas menunjukkan didorong semata-mata oleh desakan realitas demografis dan tidak diselimuti oleh sesuatu dalih ideologis yang disiapkan lebih dulu.

Dalam hal ini, ia timbul di mana pun secara spontan. Dan ketika spontanitas kecenderungan pemberontakan tersebut mulai diinfiltrasi oleh konsep-konsep ideologis dan dogma-dogma politis yang sudah ada sebelum pemberontakan terjadi, pemberontakan lalu kehilangan sifatnya yang asli serta ”sense of direction” dan akhirnya reda kembali.

Walaupun reda, sebabnya yang asli, yaitu realitas demografis, tetap ada. Karena itu, ”pemberontakan” ini sekali-kali muncul secara sporadis, bagai orang yang bingung mencari pegangan.

Pemberontakan generasi muda tersebut dalam dirinya merupakan kebangkitan (uprising) yang kali pertama dalam sejarah yang tidak timbul dari pikiran teoretis seorang genius, yang sama sekali tidak digerakkan dari sesuatu leading center berdasar satu resep politik yang telah disiapkan lebih dulu. Sebab, awal kebangkitan itu dapat ditemui dalam asas-asas ”non-conformity” hampir di segala bidang kehidupan dari suatu generasi terhadap asas-asas yang dipegang oleh generasi-generasi sosial sebelumnya, yang kebetulan memegang pimpinan masyarakat.

Sebab awal kebangkitan tersebut bisa ditemui dalam tanggapan humanisme satu generasi muda yang lain sama sekali dengan tanggapan humanisme yang dianut oleh suatu generasi tua. Sebab, generasi sosial yang terakhir disebut itu pada masa ”mudanya” dulu hidup dalam satu lingkungan kehidupan (realitas demografis) yang berbeda sama sekali dari lingkungan budaya-urban di mana generasi muda yang memberontak hidup dan dari situasi dan lingkungan mana mereka simpulkan tanggapan humanisme dan asas-asas yang nonkonformis tersebut.

Sepintas lalu, sebab-musabab kebangkitan itu memang terlihat ”sederhana”. Ia timbul karena tidak puas terhadap ”kondisi kampus”. Ia timbul karena ”harga bensin naik” atau karena ”harga bahan pokok naik” atau karena ”si koruptor tidak dihukum”.

Semua itu pada hakikatnya merupakan percikan api yang membantu meletusnya pemberontakan. Dikatakan ”membantu” karena sebab awal sebenarnya, sebab fundamental letusan itu, bukan di situ, bukan di kondisi kampus, harga bensin, dan harga beras, tapi pada ”dinamit masyarakat” yang makin lama makin bertumpuk, tapi tersembunyi dari mata analisis.

Dinamit masyarakat itu adalah ”realitas demografis” sebagaimana yang diungkapkan oleh pendekatan analisis ini. Tanpa realitas demografis ini selaku dinamit masyarakat, percikan api seperti apa pun besarnya tidak akan menimbulkan sesuatu cetusan generasi.

Daoed Joesoef, alumnus Universite Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne

Sumber: Jawa Pos,Selasa, 21/22/23 Oktober 2008

Explore posts in the same categories: Artikel, Daoed Joesoef

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: