Catursila

L Wilardjo

Artikel Daoed Joesoef, ”Konsep Dulu, Baru Uang”, terasa seperti wejangan Resi Seta yang turun dari pertapaan Pareanom.

Selayaknya para petinggi yang berwewenang menggariskan kebijakan pendidikan nasional merenungkan wejangan itu, lalu merumuskan secara ringkas, bernas, jelas, lugas, dan nirmajas citra ideal komunitas nasional yang kita dambakan.

Kita sadar bahwa yang ideal itu pastilah tidak akan pernah tercapai, tetapi utopia kita perlukan untuk selalu mengingatkan kita akan mission sacrée untuk mewujudkan visi tentang masyarakat kebangsaan yang kita idamkan. Seperti kata Bung Karno: ”Gantungkan cita-citamu setinggi langit.”

Paradigma

Rumusan citra ideal itu, bila kita terima dan jadikan kebulatan tekad intelektual (intellectual commitment) warga masyarakat pendidikan kita akan menjadi paradigma. Paradigma itulah yang akan berperan sebagai bintang pemandu yang menunjukkan arah dalam kembara jelajah (odyssey) kita di samudra pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebijakan pendidikan nasional lalu kita turunkan dari, dan karena itu selaras dengan, paradigma itu.

Ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Daoed Joesoef sering menekankan bahwa pendidikan harus dipandang sebagai proses, produk, dan paradigma. Paradigma itu menuntun jalannya proses itu menuju produk yang meningkatkan martabat dan mutu kehidupan kita sebagai bangsa.

Merton dan Kuhn

Paradigma itu ialah paradigma (Robert K) Merton dalam pendidikan, yang pada dasarnya sama dengan paradigma (Thomas S) Kuhn dalam Filsafat Ilmu. Arti kata ”paradigma” itu sendiri dapat dimengerti secara tacit, tetapi sulit sekali diceploskan (spelled-out) dalam sebuah takrif berpola terminus definiendum = genus proximum + differentia specifica. Satjipto Rahardjo (guru besar emeritus Sosiologi Hukum, Undip) pernah mengatakan, paradigma itu bila kita coba meremasnya ke dalam satu rumusan akan mrojol selaning driji (keluar dari genggaman melalui sela-sela jari-jemari).

Konon Kuhn sendiri memberikan likuran (lebih dari 20) pengertian paradigma tanpa dapat menetapkan takrif yang mana yang terbaik. Tetapi, bolehlah kita katakan bahwa paradigma ialah intellectual commitment yang diemban bersama oleh komunitas ilmuwan-cum-pendidik. Paradigma juga merupakan kerangka keyakinan penata (ordering belief framework), yakni bingkai keyakinan yang mengalur cara kita berpikir.

Imperatif

Ilmu, yang menurut Merton dapat dipandang sebagai proses, produk, dan paradigma, seharusnya dikembangkan dan diterapkan dengan berpegang pada kode etik. Ada empat imperatif yang mengejawantahkan kode etik ini, yakni universalisme, komunalisme, disinterestedness atau detachment, dan organized skepticism. Sebagai Mendikbud, dulu, Daoed Joesoef suka berkhotbah tentang catursila ini.

Zaman berubah dan kesetiaan komunitas ilmuwan-cum-pendidik terhadap kode etik Merton-an mulai luntur di sana-sini. Sila ”komunalisme”, misalnya, baru diugemi (dipatuhi) setelah produk ilmu yang berupa perangkat keras dipatenkan dan yang berupa perangkat lunak dilindungi dengan HAKI.

Massachusetts Institute of Technology (MIT), yang sebenarnya ingin mengikuti jejak Richard Stallman dengan Free Software Foundation-nya, dipaksa menyembunyikan software programs-nya yang sensitif karena MIT menerima hibah penelitian dari DOD (Dephan AS) Pandangan ilmuwan tentang dunia renik (subatomic world) dan tentang studi kasus mendalam (in-depth case study) dalam etnografi, antropologi budaya, dan bahkan pendidikan juga menafikan sila pasang jarak” (detachment).

Di dunia renik, peneliti bukan pengamat yang memerhatikan peristiwa yang sedang terjadi secara ”obyektif”, dari jarak yang tidak mengganggu. Dalam studi kasus mendalam, peneliti manjing ajur-ajer (melebur diri) dengan masyarakat yang sedang ditelaah.

Namun, bagaimanapun juga, catursila Merton toh masih dapat dipakai sebagai pedoman meski sesuai roh zaman (Zietgeist) sekarang, sila-silanya sudah berubah dari imperatif kategoris menjadi imperatif hipotetis.

Demenyar

Dulu kita punya Kurikulum 75 yang sarat konsep abstrak. Lalu muncul Kurikulum 84 yang minimalis. Kurikulum 75 dikebiri sehingga tinggal konsep-konsep esensial yang tersisa. Konsep-konsep esensial ini lalu disajikan sebagai kegiatan yang mengasyikkan dalam Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Kemudian ada Link-and-Match, ada Kurikulum Berbasis Sekolah, dan sebagainya.

Kita memang demenyar, suka dengan mainan baru, tetapi lalu lekas bosan. Sifat demenyar ini dimanfaatkan oleh industri perbukuan. Setiap tahun buku pelajar berubah sehingga orangtua siswa harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli buku baru.

Sudah saatnya kita berhenti demenyar (stop being faddish). Sudah saatnya kita mempunyai konsep pendidikan nasional yang jelas.

L Wilardjo Guru, Besar Fisika dan Etikawan UK Satya Wacana, Salatiga

Sumber: Kompas, Kamis, 11 September 2008

Explore posts in the same categories: Artikel, L Wilardjo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: