Saat Komputer Jadi Personal Lagi

Ninok Leksono

Dengan berbagai upaya untuk memudahkan, penggunaan komputer bagi sebagian orang tetap masih cukup ruwet. Namun, upaya untuk memudahkan tadi terus dikerjakan, dan yang lebih jauh dari sekadar memudahkan cara penggunaan adalah membuat komputer jadi lebih dekat, lebih menyatu secara alamiah dengan manusia penggunanya.

Upaya inilah yang dengan bangga dipamerkan oleh raksasa pembuat komputer Amerika Hewlett-Packard (HP) kepada sekitar 250 wartawan dalam satu acara yang meriah di Berlin, Jerman, Juni lalu.

Ada sederet PC, juga laptop, serta perangkat keras lain berdesain stylish. Namun, yang lebih mengesankan adalah ide di balik berbagai inovasi yang dipanggungkan dengan tema ”Connecting Your World” ini.

”Membuat komputer kembali personal”, menurut Todd Bradley, Executive VP untuk Grup Sistem Personal HP, merupakan komitmen terhadap konsumen dan daya gerak di balik keputusan untuk memberi konsumen pengalaman baru. Menurut HP, cara untuk membuat komputer kembali personal adalah dengan memberinya antarmuka pengguna yang alamiah—yang tidak lain adalah ujung jari.

Upaya ketiga

Yang menarik, meskipun kini menjagokan penggunaan perintah melalui sentuhan, sesungguhnya HP sudah mulai mengupayakan cara ini sejak hampir tiga dekade silam. Tahun 1983 HP sudah meluncurkan HP 150, dan tahun silam juga ada HP TouchSmart IQ1700. Tentu saja TouchSmart yang diluncurkan tahun 2008 lebih maju lagi. Yang jelas, perintah hanya cukup diberikan dengan sedikit tekanan ujung jari atau geseran jari.

Meski ada kegunaan lebih serius yang lain, manfaat yang segera tampak dari cara baru ini adalah pada sisi hiburan, termasuk di dalamnya penanganan koleksi foto dan musik. Koleksi tersebut bisa digelar dalam wujud kepingan-kepingan atau kipas untuk akses cepat.

Dengan adanya fasilitas layar sentuh ini, pengguna tak membutuhkan lagi papan ketik atau mouse untuk memainkan musik, membuat daftar lagu (play list), atau juga untuk memperbesar atau memperkecil foto. Cukup gunakan jari saja. Pengguna juga bisa menyunting foto (seperti membuang bagian yang tidak diperlukan) dengan memilih bagian tersebut dengan jari.

Komputer baru ini, untuk seri dasar (entry) adalah TouchSmart IQ504, yang dilengkapi dengan layar definisi tinggi 22 inci dengan prosesor Intel Core 2 Duo T5750 (2GHz) dengan desain terpadu yang tebalnya hanya sekitar 10 cm. Di dalam mesin itu sendiri terdapat RAM 4GB, hard disk 320GB, pembakar DVD, chipset Intel GM965 dengan grafik X3100, serta konektivitas WiFi dan Bluetooh. Karena papan ketik dan mouse nirkabel, satu-satunya kabel yang ada hanyalah kabel untuk catu listrik.

Inovasi lain

Selain TouchSmart, produk inovasi HP lainnya ada dalam wujud komputer notebook, yang jumlahnya tak kurang dari 18 tipe, di antaranya yang diunggulkan adalah dari seri Voodoo. Sementara di antara seri premium Pavilion ada yang sudah dilengkapi dengan penala (tuner) TV dan drive optik Blu-ray.

Di Berlin, pameran berlingkup global, tetapi produk premium jelas tak selalu pas—khususnya dari segi harga—untuk kawasan yang sedang banyak dilanda keterbatasan dana seperti Asia. Konsumen di kawasan ini dikutip banyak menginginkan komputer tingkat mula (entry level) (Catatan Kelly Goh/Marketing Locust)

Di luar itu, HP memang membuat komputer kelas canggih. Salah satunya malah ada yang konon diilhami oleh pesawat, yakni HP EliteBook, dengan casing alumunium dan chasis paduan magnesium untuk memenuhi uji ketahanan standar militer. Bentuk lain ketahanan Elite Book adalah permukaannya enam kali lebih tahan gores dibandingkan dengan produk terdahulu.

Selain itu, tentu saja unsur- unsur pokok lain pada sebuah komputer juga mendapat peningkatan, seperti daya tahan baterai. Jadi, sosok komputer dewasa ini telah dibuat selain lebih mudah bagi pengguna (personalisasi ekstensif), juga didukung dengan desain makin anggun dan rekayasa tangguh.

Menurut Todd Bradley, semua itu bisa dicapai karena HP mendengar apa yang diinginkan oleh konsumen, bukan saja saat mereka menggunakan, melainkan juga saat mereka melihat dan manakala terjadi problem ketika menggunakan.

Sumber: Kompas, Jumat, 15 Agustus 2008

Explore posts in the same categories: Artikel, Ninok Leksono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: