“Elan Vital” Perjuangan

Daoed Joesoef

Kehidupan kepartaian dan aksi politik yang digerakkan mengesankan partai kian tidak memiliki elan vital seperti terasa di masa perjuangan menjelang dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agutus 1945. Inilah yang ikut meningkatkan gejala golput.

Elan vital gerakan politis tahun 1940-an menyala-nyala karena langsung dikaitkan ideologi perjuangan pembebasan. Bila kita renungi, sekarang sebenarnya rasionale perjuangan pembebasan masih relevan. Dulu ia berupa pembebasan bangsa dari cengkeraman penjajahan, kini diperlukan pembebasan dari aneka krisis, kekurangan, dan kendala yang menyebabkan masyarakat mandek. Berarti ideologi pembebasan perlu dihidupkan kembali dan ini dilakukan melalui penyadaran tentang tiga unsur yang membentuk ideologi itu.

Pertama, struktur mitologis. Kedua, sekumpulan ide atau doktrin filosofis. Ketiga, sekelompok orang yang telah menyiapkan diri karena terpanggil dan terpilih.

Mitos Musais

Tiap ideologi pembebasan yang pernah ada di mana pun mengulang mitos Musais, yaitu cerita dramatis tentang pembebasan suku-suku Yahudi oleh Musa. Mitos ini nyaris tak berubah melalui semua transformasi ideologis di aneka ragam masalah, tetapi menjadi prototipe bagi ideologi kaum intelektual. Mitos Musais menggambarkan drama dari intelektual muda revolusioner. Dia didorong selfless idealism, menghayati masalah manusia yang tertindas, menyiapkan diri untuk berjuang, menderita karena dipenjarakan, dihukum dalam pengasingan atau berkelana dalam pelarian, tetapi akhirnya berhasil memimpin bangsanya meraih kemenangan jaya.

Namun, tidak seperti Musa yang merasa perjuangannya tuntas dengan berhenti di depan gapura ranah yang dijanjikan, tidak ikut masuk ke dalamnya, apalagi menguasainya, ada pejuang yang lupa daratan karena mabuk kemenangan dan pujian para pengagum yang diam-diam menjadi penjilat. Jika Nelson Mandela meneladani Musa, tidak demikian dengan Mugabe. Tentang para ”pemimpin” Indonesia, terserah pada penilaian masing-masing kita.

Kumpulan doktrin ide filosofis terkait mitos Jakobis dan terjalin erat dengan mitos Musais, mengingat kamus ideologi pembebasan amat menonjolkan kata-kata misi dan panggilan. Kedua kata itu menjelaskan atau membenarkan intelektual muda untuk beraksi, menyatakan haknya—birthright—untuk memimpin perjuangan. Dengan bantuan ibunya, Jakob berusaha keras merebut hak itu dari Esau, saudara kandungnya, karena birthright itulah yang menentukan siapa yang akan dipilih sebagai pemimpin di antara kaumnya. Semua abang Josef membenci karena melihat ayah mereka, Jakob, cenderung memilih putra bungsunya yang lebih intelektual dari semua saudaranya.

Bila mitos Musais merujuk pemberontakan terhadap Firaun, the established order, mitos Jakobis menjelaskan hakikat misi historis perjuangan, yaitu anak yang cerdas (Josef) yang dipercaya dapat menjalankan misi yang luar biasa. Jadi, isi utama mitos Musais adalah pemberontakan melawan ketidakadilan, sedangkan kandungan utama mitos Jakobis berupa pemunculan elite baru dan karena ”baru” adalah ”muda” dalam kosmos politik.

Dalam ideologi pembebasan keintelektualan dan kepemudaan amat diperhitungkan karena dijadikan pengusung andalan dari ide kebangsaan, perekat kolektif dari aneka ragam aspirasi dan emosi perjuangan.

Rasul nasionalisme

Nama Joseph Mazzini, apostle of nationalism, kini tidak pernah disebut-sebut lagi, tetapi dia pernah menjadi inspirasi nyata dan hidup bagi para intelektual muda di dunia. Soalnya, kepada pemudalah Mazzini mengalamatkan buah pikirannya saat mendirikan paguyuban Giovine Italia (Kaum Muda Italia) tahun 1832. Organisasi ini hanya beranggotakan intelektual berusia di bawah usia 40 tahun. Dia menyatakan, hidup adalah suatu misi. Setiap zaman punya keyakinan sendiri. Setiap sintesis mengandung ide tentang suatu tujuan, suatu misi. Setiap misi punya instrumen yang khusus, kekuatannya yang khusus, dan pengusung yang khusus dari rangkaian aksinya, yaitu pemuda.

Pesan ideologis ini ditangkap pemuda- pemuda di dunia, terutama yang tergolong pada bangsa-bangsa jajahan. Merekalah yang terpanggil membebaskan bangsanya, merekalah yang merupakan elite yang terpilih. Sampai-sampai ada mahasiswa Jerman, di kurun waktu yang sama, meninggalkan bangku kuliah untuk turut dalam perjuangan kemerdekaan. Hal serupa juga dilakukan mahasiswa dan pelajar Indonesia selama periode revolusi fisik. Mereka tinggalkan sekolah dan bergabung dalam kesatuan pertempuran di garis depan, seperti Tentera Pelajar dan Tentera Republik Indonesia Pelajar. Bung Karno dan Bung Tomo juga tak jemu meneriakkan kepercayaannya kepada pemuda sebagai pelopor perjuangan nasional.

Kehadiran para pemuda sebagai kelompok terpilih menjalankan misi perjuangan adalah unsur ketiga dari ideologi pembebasan dan terkait mitos perjuangan Josef, anak pilihan ayahnya. Dia terpilih bukan hanya karena muda usia dan berpenampilan menarik, tidak hanya karena bisa membuat tafsir mimpi yang tepat, tetapi dia mampu merencanakan reorganisasi dari ekonomi pertanian Mesir.

Mitos itu mengingatkan, untuk melaksanakan misi yang dipercayakan kepadanya dengan baik, memimpin aksi pembebasan di bidang apa pun, sang pemuda harus terpelajar. Kualifikasi itu tersirat dalam apa yang tersurat pada karya Tan Malaka, ”MADILOG-Matematika, Dialektika, Logika”. Hatta dan Sjahrir menyadari juga kualitas kepemudaan yang diniscayakan itu. Begitu kembali di Tanah Air, mereka membentuk organisasi politik, dinamai PNI. Namun P bukan kepanjangan Partai, tetapi Pendidikan, jadi Pendidikan Nasional Indonesia. Dalam rangka usaha pendidikan keintelektualan itu, mereka juga mendirikan klub studi sebagai ajang berbagi pengetahuan dan berdiskusi secara nalariah sebagaimana dikehendaki sistem demokrasi.

Kita perlu memarakkan lagi elan vital perjuangan karena masih diperlukan banyak aksi pembebasan di berbagai bidang kehidupan nasional. Dalam aksi dan misi pembebasan itu, ada peluang bagi pemuda, termasuk peran kepemimpinan. Namun, peran itu bukan hasil rebutan dengan tetua berdasarkan usia atau kepatuhan yang membuta tuli kepada pemimpin yang sedang berkuasa, tetapi berkat keterpelajaran dalam berpikir dan kesanggupan berbuat serta kemampuan menjadi individu otonom.

Daoed Joesoef Alumnus Université Pluridisciplinaires Panthéon-Sorbonne

Sumber: Kompas, Selasa, 19 Agustus 2008

Explore posts in the same categories: Artikel, Daoed Joesoef

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: