Menjadi Pudar

Samuel Mulia

Saya membaca pada sebuah situs yang menulis tentang kepergian Ibu SK Trimurti. Judulnya nelongso sekali, SK Trimurti Meredup dan Padam. Penutupnya lebih nelongso lagi: ”Selamat jalan Ibu…. Sekarang engkau tak perlu lagi bergumam, ”Kok ndak ada yang nengok aku ya…?”
Deg. Jantung saya hampir berhenti, kemudian perasaan takut langsung menyergap, membayangkan kalau masa senja itu tiba untuk saya, akankah saya siap menerima hidup ini akan melemah, meredup, seberapa panjang usia yang diberikan Tuhan dan seberapa kuatnya ingatan saya?
Kemudian saya membaca majalah Pesona, majalah wanita untuk usia tiga puluh lima plus. Saya berhenti di sebuah artikel yang menarik tentang beberapa sosok wanita—dari model sampai pemain bulu tangkis—yang kondang pada masa remaja saya dulu. Mereka melakoni kehidupan berbeda, after living in the limelight.
Artikel itu membukakan pemikiran saya, kalau saya dulu begitu kondangnya, bagaimana saya mampu mengatasi pudarnya kekondangan itu, sejalan dengan bertambahnya usia, bertambahnya kerut wajah, dan sejalan dengan berkurangnya tenaga, plus bertambahnya orang yang tak peduli pada saya?
Masuk tol
Mungkin saja Ibu Trimurti berucap seperti kalimat pada bagian penutup artikel tentang dirinya karena teman lamanya pun sudah berguguran satu per satu. Kalaupun ada di antara teman-temannya yang masih hidup, mungkin mereka sudah terlalu tua dan tak punya cukup tenaga mengunjungi beliau. Dan yang paling tragis kalau mereka menjadi pikun karenanya sehingga teman yang dinanti Ibu Trimurti tak pernah akan datang. Mereka merasa tak pernah punya teman bernama Soerastri Karma Trimurti. So, mengapa mesti harus mengunjungi manusia yang tak dikenal?
Malam itu saya tidur sambil berpikir panjang. Malam itu tak ada bintang. Bulan pun tak kelihatan. Jadi gelap di luar. Gelap yang sama, yang menggelantung di dalam diri saya. Ketakutan akan masa tua yang menjelang. Sendiri, tanpa siapa pun. Berteman dengan keadaan bernama ”kok ndak ada yang nengok aku ya…?”
Sejujurnya saya sedang masuk tol masa pudar itu. Kalau wanita-wanita di atas sudah di dalam tol, saya baru selesai membayar karcis tol. Mungkin baru menempuh kilometer sepuluh. Namun, efeknya sudah terasa, dan kadang menyakitkan, membuat rindu mungkin. Rindu akan masa muda yang begitu sehat walafiat, tanpa gagal ginjal, tanpa katarak, tanpa gula darah yang naik-turun, dan harus mengetahui bahwa hidup itu ”ditentukan” dokter.
Dahulu, terbang dan berlarian dari pusat mode ke pusat mode selama sekian belas tahun, memenuhi undangan dari Singapura ke Shanghai, duduk di baris terdepan di peragaan busana rumah mode kelas kakap. Terasa begitu dihormati, meski penghormatan itu selalu saja ada alasan di belakangnya. Kalau tidak untuk mendapat liputan sekian halaman, apa lagi?
Si budek
Sekarang, semuanya tinggal kenangan. Dan kalau sedang membaca liputan para editor mode muda, perasaan iri hati langsung menyergap. Bukan kepada mereka, tetapi pada kesempatan yang tak datang lagi. Sebal bahwa ada hal dalam hidup ini yang tak bisa saya dekap selamanya. Terutama hal yang membahagiakan jiwa. Meski harus diakui, kehilangan sesuatu akan mendapatkan kesempatan yang baru. Yang menyenangkan, dan mungkin juga tidak.
Saya banyak mendengar masa tua itu bukan menjadi halangan tetap bergairah. Itu benar adanya, meski harus lebih hati-hati karena jalan sudah tak kuat lagi, fisik cepat lelah (kadang bisa tertidur di gedung opera saat berwisata ke luar negeri), telinga sudah tak bisa mendengar. Teman ibu saya pernah mengatakan, ”Ya… kakaknya tante itu sudah 90 tahun. Masih segar, ingatan masih jelas, enggak hipertensi, cuma budek. Masih bisa setir sendiri, lho.”
Yaaa.. memang masih bisa setir sendiri, tetapi diklakson lima mobil di belakang. Si budek tetap tenang-tenang saja, yang lain sudah naik pitam. Sebelum game over, ayah saya juga mengalami kondisi budek. Kalau tidak bicara setengah berteriak, ia tak mendengar. Tetapi, kalau setengah berteriak, dan kebetulan ia bisa mendengar, dia tersinggung karena katanya bicaranya kasar sama orangtua.
Dengan kondisi kesehatan saya yang termasuk kelompok ’ya… gitu deh’, saya tak bisa mengatakan masa senja itu akan saya lakoni tanpa kata tetapi. Seperti sebuah billboard provider telepon genggam yang berbunyi: Murah tanpa tapi; meski ada kalimat di pojok kanan atas, berbunyi: Pajak 10% tidak termasuk. Jadi? Hidup ini tampaknya tak bebas dari kata tetapi. Mungkin akan selamanya demikian. Saya saja yang harus siap menerimanya. Untuk selamanya.
Samuel Mulia, Penulis Mode dan Gaya Hidup

Sumber: Kompas, Minggu, 1 Juni 2008

Explore posts in the same categories: Panepen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: