Multimedia Strategi Masa Depan

Perkuliahan di UMN Dimulai

Pengembangan teknologi multimedia sangat strategis untuk menghadapi masa depan. Namun, akses masyarakat pada teknologi informasi dan komunikasi tersebut masih dihadapkan pada berbagai kendala, di antaranya masih banyak desa di Tanah Air yang belum memperoleh jaringan telepon. “Desa-desa yang masih blank spot (tidak terdapat jaringan telepon) itu tidak hanya yang berada di luar Jawa. Di Jawa Timur saja, 2.300 dari sekitar 7.000 desa masih blank spot,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Mohammad Nuh saat menyampaikan kuliah umum “Konvergensi Media: Peluang bagi Multimedia” di Hotel Santika, Jakarta, Senin (3/9), menandai dimulainya proses belajar-mengajar pada Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang baru saja dibuka.

Mohammad Nuh mengatakan, bangsa ini harus memiliki strategi masa depan, di antaranya melalui pengembangan teknologi multimedia yang menjadi program unggulan UMN, dengan 123 mahasiswa angkatan pertama program strata satu (S-1) ini. “Untuk menempuh strategi masa depan, ada tiga hal yang harus dilihat, yaitu museum, pasar, dan laboratorium. Museum untuk melihat masa lalu, pasar untuk melihat peluang, dan laboratorium untuk mempelajari masa lalu serta melihat peluang dalam mempersiapkan masa depan,” kata Mohammad Nuh. Dia menekankan, empat unsur juga harus dipegang dalam menempuh strategi masa depan. Keempat unsur itu meliputi kemampuan mendidik, memberdayakan, mencerahkan, dan mengembangkan nasionalisme.

Melalui program yang dinamakan Palapa Ring, kata Menkominfo, pemerintah saat ini telah berupaya memperluas akses jaringan informasi dan komunikasi tersebut. “Untuk pembuatan jaringan Palapa Ring yang dimulai dari wilayah Indonesia timur itu, sekarang masih dalam proses tender,” katanya.

Era multimedia

Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia Jakob Oetama menuturkan, masyarakat saat ini hidup di zaman yang baru, yaitu zaman multimedia. Di antaranya dengan merebaknya media elektronik, seperti televisi, yang pada perkembangannya makin menawarkan kultur watching atau peradaban menonton. “Apakah peradaban bisa dibangun hanya dengan budaya watching? Saya kira tidak. Dengan membaca, manusia mampu mengambil jarak untuk merefleksikannya,” ujar Jakob.

Direktur Andal Software Indra Sosrodjojo pada kuliah itu juga memaparkan, di Indonesia terdapat sekitar 300 industri software atau perangkat lunak komputer. Akan tetapi, hanya sekitar 10 industri yang mengembangkan paket-paket software itu.
Kuliah perdana sebagai tanda dimulainya kegiatan belajar- mengajar di UMN itu juga menghadirkan pakar teknologi informasi dan komunikasi Roy Suryo serta pakar komunikasi dan psikologi Puspita Zorawar. (NAW)

Sumber: Kompas, 04/09/07

Explore posts in the same categories: Berita, Edukasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: