Spesies yang Terancam

Oleh: Daoed Joesoef

Di bumi Indonesia, banyak spesies terancam punah, bahkan ada yang sudah punah. Di antara semua itu, bila tidak digubris, manusia sebagai spesies pun berisiko hilang. Ancaman datang bertubi-tubi dari berbagai penjuru.

Alam beruntun menggebrak. Selagi spesies ini masih termenung akibat gebrakan sebelumnya, datang lagi gebrakan lain tanpa ampun. Tsunami, gempa, badai, banjir, longsor, kekeringan, dan hama. Alih-alih bisa beremansipasi fisik, spesies ini menjadi bulan-bulanan alam.

Ulah manusia

Lalu ada bencana alam akibat ulah manusia. Jadi, pengancam spesies ini bukan datang dari luar, tetapi dari sesama makhluk. Polusi, misalnya, yang disebabkan perilaku picik, tampil seperti penyakit pilek, menyerang siapa saja. Ulah ini pula yang ikut memicu banjir, longsor, pengeringan sungai, penyusutan air tawar.

Perilaku tidak bertanggung jawab manusia Indonesia adalah, pertama, abuse of the greatest collection of natural abundance ever endowed upon a single piece of geography, our geography.

Kedua, karena ketiadaan etika masa depan. Etika ini menuntut manusia untuk tidak mengelakkan tanggung jawab atas sesamanya dan atas konsekuensi dari tiap aksi yang dilakukan. Tanggung jawab ini tidak hanya terkait dengan aksi yang sudah dibuat, tetapi juga konsekuensi dari langkah-langkah yang dia tahu harus diambil, tetapi tidak dilakukan.
Etika ini timbul dari dan dibentuk kesadaran bahwa tiap makhluk akan menjalani sisa hidup di masa depan bersama anak cucu. Jadi etika ini bukan perilaku di masa depan, tetapi sikap dan tindakan bertanggung jawab yang kini dilakukan demi masa depan. Celakanya, etika masa depan ini tidak dihayati elite politik dan pengambil keputusan.

Ketiadaan ini akan membuat mereka menjadi penderita miopia waktu: jangka pendek dianggap horizon tak terlewati. Dan “penyakit” ini kian parah karena kontraksi waktu terus bergerak dari jangka pendek ke immediate, dari horizon tertutup ke tidak adanya horizon, hingga visi mereka terpaku pada waktu “riil”, jarak temporal nol derajat.

Miopia waktu penguasa negeri, melalui berbagai keputusan, membuat kehidupan bangsa dikuasai tirani dan urgensi. Disebut “tirani” karena urgensi, dengan gaya pendadakannya dan dalih just on time, membuat kriteria aksi yang simpel, fleksibilitas, dan adaptasi/keseimbangan menjadi asas absolut dalam penetapan kebijakan. Babat hutan, tenderkan sumber-sumber alam, tanah dibor untuk mendapat gas, keruk, dan jual pasir pulau terpencil, naikkan tarif jalan tol, stop subsidi yang menyangkut hajat hidup orang banyak, now or never.

Adaptasi itu bisa membuahkan manfaat keuangan sesaat, tetapi risiko kefatalannya baru terasa dalam jangka panjang. Rakyat menjadi penderita miopia sosial. Karena bingung dan stres menghadapi keadaan yang kian tidak pasti, masa lalu, tempo doeloe, menjadi satu-satunya pegangan. Artinya, eksklusivisme—lokal atau etnis, adat, atau religius— tampil sebagai satu-satunya jaminan bagi kepastian hidup dan security di masa datang.

Tafsiran sempit ide otonomi daerah dan sikap mendua elite reformis, seperti menggarisbawahi miopia sosial itu. Ideologi tradisi dan eksklusivisme yang membaurkan gerakan surut temporal dengan langkah mundur simbolis ini ditransposisikan ke politik membuat identik tradisi (kebiasaan masa lalu) dengan futurisi (pembawaan masa depan), lebih mengutamakan peniruan (mimetisme) diakronis daripada pembenaran suatu identitas yang bervariasi dalam perjalanan waktu ke masa depan.

Ancaman

Ancaman terhadap manusia Indonesia, sebagai individu dan spesies, juga berasal dari natur human yang dibiarkan berjalan alami tanpa intervensi konseptual. Rangkaian kejadian yang melanda manusia Indonesia tidak sedikit bersebab demografis. Eksodus penduduk pedesaan beremigrasi atau berubanisasi di kota-kota lalu menduduki tiap ruang publik, temasuk kolong jembatan layang, adalah hasil pertambangan berlebihan dari penduduk dan gerakannya.
Di luar Indonesia, sudah lama orang membahas ancaman dan overpopulation serta unbridled technology bersamaan polusi, penyusutan air yang penting bagi kehidupan semua makhluk.

Dari rangkaian pembahasan dan kajian sejak zaman prasejarah, orang asing menyimpulkan, nyaris lenyapnya tiap bentuk kehidupan atau spesies, disebabkan oleh satu atau kombinasi tiga hal: spesialisasi intensif yang menjurus evolusi kekuatan geologis atau klimatologis yang mematikan, berakibat katastrofis atau ke pertumbuhan spesies lain yang cenderung membahayakan kehidupan.

Melalui pertarungan evolusioner jutaan tahun ke arah humanitas, bentuk kehidupan yang lalu menjadi makhluk manusia berhasil luput dari jebakan spesialisasi. Spesies yang berubah-ubah dan adaptif ini mampu mempertahankan obsi-obsinya menurut suratan takdir kemanusiaannya. Dia juga bisa mengatasi ancaman alam. Namun, ancaman lain—berdasarkan aneka gejala perusakan sumber kehidupan— harus diwaspadai. Ancaman itu adalah manusia sendiri.

Dalam berusaha menyempurnakan kehidupan human-nya, ternyata manusia mengacaukan teknologi dan ilmu pengetahuan. Dia tidak menyadari, tools yang dipakai untuk membelah bukit dan mengebor bumi untuk memperoleh gas tidak hanya kepanjangan ototnya tetapi juga ekstensi pikirannya. Dia harus mengakui, ilmu pengetahuan boleh bebas karena terkait pencarian kebenaran. Teknologi hanya means untuk menerapkan kebenaran. Penerapan perlu kontrol dan diimbangi kearifan dan concern tentang kesejahteraan umum dan keamanan bersama.

Apabila setelah menatap ke luar lalu kita merenung ke dalam lingkungan sendiri, segera terlihat betapa di sini yang menjadi pengancam utama atas eksistensi makhluk Indonesia adalah sekelompok manusia, terbilang elite, karena berpretensi terpanggil memimpin negara. Justru di sinilah letak bahaya laten itu. Dengan berlindung di balik legitimasi kedudukan kepemimpinan formal, mereka memerintah tanpa beretika masa depan, tanpa asas to govern is to foresse karena menderita miopia waktu.

Sementara itu, martabat makhluk Indonesia kian meredup, dari manusia pejuang menjadi manusia kerdil dengan menjadi kuli di antara bangsa-bangsa. Adapun elitenya asyik memboroskan sumber-sumber negeri dan menggunakan kekuatannya untuk saling menjegal, dengan dalih pengukuhan demokrasi. Padahal semua itu hanya manuver untuk penyelamatan posisi politik, demi memperoleh kekuasaan for its own sake.

Para elite ini ada baiknya merenungi petuah Alexis de Tocqueville, “A democratic power is never likely to perish for lack of strength or of its resources, but it may very well fall because of the misdirection of its strength and the abuse of its resources.”

Penulis: DAOED JOESOEF, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III (1978-1983); Pemerhati Perkembangan Politik dan Ketatanegaraan

Sumber: Kompas

Explore posts in the same categories: Daoed Joesoef

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: