MENELANTARKAN HAK,PEMULUNG BERTINDAK

Akhir-akhir ini hubungan Indonesia-Malaysia memanas lagi, tetapi bukan karena TKI Indonesia disiksa majikan Tionghoa-Malaysia, atau karena tauke Tionghoa Malaysia membabati hutan Indonesia lalu dibawa pulang ke Malaysia, dan karena itu hutan Malaysia relatif masih utuh-rimbun, melainkan karena kasus kebudayaan. Majalah ibukota membeberkan dengan sinis ulah salah satu departemen pemerintahan di Malaysia yang memanfaatkan lagu rakyat Nusantara Rasa sayange menjadi lagu promosi pariwisata Malaysia.

Majalah tersebut juga mengungkit kasus lagu kebangsaan Malaysia Negaraku yang melodinya meniru lagu Keroncong Terang Bulan Terang di Kali yang merupakan lagu yang dipungut dari khasanah lagu rakyat Indonesia.

Tetapi menurut budayawan D Zawawi Imron dalam seminar PSN/Pertemuan Sastrawan Nusantara 13 di Surabaya beberapa tahun lalu, baik lagu Negaraku maupun Terang Bulan Terang di Kali sama-sama mengambil melodi khasanah lagu puji-pujian pesantren klasik tradisional.

Jadi siapa atau siapa saja yang meniru? Tetapi memang para chauvinis Indonesia sedang sangat sensitif terhadap Malaysia, karena negara tetangga itu bisa maju padahal dulunya berguru kepada Indonesia. Indonesia rupanya enggan menggaruk tengkuknya sendiri.

Pemulung

Namun kalau para chauvinis Indonesia mau mempermasalahkan, tentunya tidak harus lagu Rasa
Sayange saja, karena sangat banyak sekali khasanah budaya Nusantara (yang diterlantarkan Indonesia ), tapi dimanfaatkan oleh banyak pemulung, apalagi Malaysia merasa serumpun,jadi ya merasa lebih berhak memulung dan memanfaatkan barang-barang yang bernilai tinggi namun diterlantarkan oleh saudaranya yang sedang linglung.

Mengelilingi Malaysia,pada dasarnya sama dengan mengelilingi Indonesia versi maju dan bermartabat. Pertama menyeberang dari Riau ke pelabuhan Setulang Laut, Johor, orang sudah bisa melihat lambang Johor yang antara lain ialah Kuda Lumping. Bukankah itu milik Indonesia? Tentu, tetapi memang 30 persen orang Johor adalah keturunan Jawa yang disewa penjajah
Inggris zaman dulu,untuk dipekerjakan sebagai kuli pekerja pembuka hutan untuk dijadikan kebun karet dan membuka permukiman.

Merekalah yang mewariskan kebudayaan kuda lumping dan wayang kulit di Johor. Tetapi Johor mampu menjual berbagai suvenir kuda lumping dan laku keras karena didatangi banyak turis. Indonesia mungkin juga punya satu-dua jenis suvenir kuda lumping sederhana, tetapi mungkin kurang laku, karena orang Indonesia sedang cekak duitnya lantaran terlalu lama diterlantarkan dan ditipu para pemimpinnya.

Kalau kita mengikuti pesta-pesta di istana Johor,suguhan utamanya adalah musik zapin dan orkes keroncong! Lho, milik Indonesia lagi.Tetapi Keroncong juga sudah menjadi ikon Johor.

Lalu kita akan semakin jengkel karena batik, sarung songket, udheng udheng, selendang, jarit, kebaya, kerudung, kopiah, selop, bakiak dan banyak lagi khasanah Nusantara dijual laris oleh
Malaysia,sedangkan di Indonesia jangankan laris, para peminatnya saja bisa dihitung jari, untung kini ada kewajiban pegawai negeri berseragam batik setiap Jumat.

Lalu masalah kuliner.Kalau kita baca sastra kuno Serat Centhini, di samping mengupas masalah
petualangan seks salah satu keturunan Sunan Giri,yaitu Pangeran Amongrogo,juga banyak ditulis mengenai petualangan kuliner Sang Pangeran ketika bertamu ke orang-orang kaya dalam pengembaraannya menjelajah tanah Jawa,gara-gara Keraton Sunan Giri dihancurkan oleh Pasukan Mataram dibantu pasukan Adipati Surabaya. Maka ingatlah,kue-kue tradisional semacam cothot, bongko, gendhos, pelas, awug-awug, entul-entul, untub-untub, clorot, mendut, bikang, timus, pathi, puthu dan sebagainya yang banyak disebut oleh Serat Centhini dan di zaman kecil kita banyak dijumpai,apakah sekarang masih gampang dicari di Indonesia? Mungkin lebih gampang kalau kita mencari pizza, fried chicken, nugget, sosis, teriyaki, tempura, sandwich, hamburger, donat dan sebagainya.

Tetapi di pasar-pasar tradisional Malaysia, kue-kue semacam itu sangat berlimpah ruah dan di hotel-hotel disajikan dalam jumlah yang sangat berlebihan untuk sarapan,atau suguhan dalam jeda/coffee break sesuatu acara– sehingga kita justru bingung hendak mencicipi yang mana.Biasanya kue-kue itu disebut juadah atau kuwih muwih. Lho kenapa soal itu tidak ikut kita ributkan? Kenapa hanya soal lagu Rasa Sayange yang sebenarnya bagi Malaysia tidak dipakai juga tidak rugi, karena mencipta lagi sangat gampang. Lebih sulit kalau menciptakan resep makanan baru atau kue-kue baru.

Lembaga Smithsonian

Lebih aneh lagi, karena kita selalu ribut kalau yang memulung adalah Malaysia, tetangga serumpun kita, yang memang berasal dari akar keturunan, darah dan budaya yang sama.

Kenapa kita tidak meributkan negara lain, baik Singapura,Belanda,Australia,Amerika atau Jepang serta negara lain yang juga banyak memulung kekayaan yang banyak kita terlantarkan?

Salah satu yang banyak memulung adalah Lembaga Smithsonian Amerika yang mempunyai koleksi lengkap lagu-lagu tradisional Indonesia seperti seni-suara sindhen tayub, gandrung, kentrung, janggrung, lengger, ledhek, dongbret dan ratusan musik dan seni suara tradisional
Indonesia, yang mereka jual secara komersial ke seluruh dunia. Ironisnya para sindhen yang pernah mereka rekam suaranya hingga kini tidak mendapatkan royalti sepeserpun, kecuali honor sekedarnya ketika mereka direkam.

Kenapa untuk ini tidak ada yang tersengat rasa sensitifnya, apakah menunggu kalau Lembaga Smithsonian pindah ke Malaysia, baru kita marah? Sudah begitu,kita malah bangga dan tidak malu maupun khawatir, ketika beberapa dalang dan sindhen kita kini dilakukan oleh orang-orang bule. Okelah kita boleh bangga, tetapi kenapa tidak ada upaya untuk menggenjot nasionalisme dibidang mencintai hak milik dan warisan leluhur?

Kenapa kita masih saja menelantarkan “emas-emas” yang kita punyai ? Kenapa kita biarkan para pemimpin kita menipu kita dan sibuk mencuri kekayaan kita ? Anehnya kalau para penipu itu membuat acara “open house di rumah mereka yang megah dari hasil “mengenthit” uang kita,kita berbondong-bondong menciumi tangan mereka,bangga bisa memeluk erat mereka,padahal mereka memeluk kita sambil menahan nafas menghindari bau keringat kita.

Kesimpulannya, kita sedang dilanda linglung nasional!!

Penulis: Viddy AD Daery, Sutradara dan Direktur PH

Sumber: Surya, 14/11/07

Explore posts in the same categories: Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: