Kearifan Berbisnis dari “Kama Sutra”

Melihat judul tulisan dan judul buku ini, para pembaca mungkin membayangkan buku ini berisi tentang bagaimana tips yang diberikan penulis bagi para praktisi bisnis untuk “menyenangkan” pelanggan atau mitra bisnis. Buku ini ternyata lebih dari sekadar itu.

oleh: Ahmad Mukhlis Yusuf

Penulis buku ini menghadirkan kearifan yang diinspirasi oleh pemikiran-pemikiran klasik dari negeri yang diakui sebagai salah satu pusat peradaban dunia, India. Buku ini menghadirkan berbagai prinsip manajemen yang amat relevan dalam kehidupan pribadi maupun bisnis saat ini.

Nury Vittachi, sang penulis, mengajak pembaca untuk melakukan perjalanan menelusuri kekayaan pemikiran klasik, seperti pemikiran klasik India yang telah berusia lebih dari 5.000 tahun, yang ia yakini menjadi salah satu sumber peradaban dunia pada era modern ini.

Para praktisi bisnis selama ini mengenal sejumlah guru dalam strategi dan kepemimpinan, seperti Sun Tzu dan Niccolo Machiavelli. Dalam buku ini diuraikan sebagian karya pemikiran klasik di antaranya adalah (1) Vishnugupta Chanakya (ahli strategi dan pengarang buku Arthashastra), (2) Vatsyayana (seorang spiritualis dan pengarang Kama Sutra), (3) Meluhlan (sejarawan), (4) Sidharta Gautama (tokoh spiritual yang banyak pengikut), dan (5) berbagai kisah Bhagavad Gita serta Raja Ashoka Piyadassi yang dikenal dengan konsep implementasi kesejahteraan terhadap rakyat yang dipimpinnya. Dengan penuturan yang mengalir bak novel, sang pengarang mengajak pembaca mengenal berbagai pemikiran tersebut dan implikasinya terhadap inspirasi serta tips-tips manajemen dan bisnis praktis.

Kama Sutra, buku legendaris dan kontroversial yang ditulis Vatsyayana, seorang pembelajar spiritual yang seumur hidupnya tidak menikah, bahkan dikenal tidak memiliki pacar sekali pun, dipilih penulis menjadi judul buku ini, tampaknya ditujukan untuk menarik perhatian pembaca karena dampak kontroversialnya, dan pernah menjadi buku yang “paling disalahpahami yang pernah ditulis dalam sejarah”.

Sejak diterjemahkan pada tahun 1883 ke dalam bahasa Inggris dan menyusul dalam berbagai bahasa, buku ini telah menuai kontroversi dan anak-anak dilarang membacanya. Meskipun ironis, banyak penentang buku tersebut sesungguhnya tidak pernah membacanya.

Boleh jadi, sesuai dengan esensi yang terdapat pada buku Kama Sutra, buku Nury Vittachi ini juga bertujuan mengajak pembaca untuk membangun keseimbangan hidup yang dibangun oleh nilai-nilai spiritual, material, dan sensualitas secara proporsional. “Kama”, yang berarti kesenangan sensual, baru akan tercapai bila terbangun dalam keseimbangan dengan material yang ditopang oleh spiritual.

Kepercayaan diri berlebihan

Pengarang buku ini menguraikan isi bukunya dalam sembilan bab dan masing-masing bab mengurai pelajaran dari para pemikir klasik dan kombinasi nilai-nilai yang dikembangkan dan dirangkai oleh penulis. Misalnya, kisah yang ditulis Chanakya dalam buku Arthashastra, bagaimana ia mengatasi berbagai rintangan dalam menghadapi kekuasaan Raja Dhana Nanda yang sangat berkuasa.

Di tengah keterbatasan, Chanakya membangun kepercayaan diri (confidence) dan daya tahan (determination) yang dibutuhkan oleh sang penantang, sebuah pola pikir yang benar (right mindset), dalam bahasa manajemen modern. Salah satu prinsip yang Chanakya perkenalkan adalah: You already have the greatest secret weapon you could possible want.

Pola pikir yang benar tersebut akan menjadi bahan baku paling penting dalam melakukan perubahan dan tindakan apa pun sebagai efek bola salju. Siapa saja memiliki determinasi, kecerdasan, serta single-mindedness dan rasa lapar untuk meraih keberhasilan, selanjutnya faktor lain akan mengikuti.

Raja Dhana Nanda memiliki pasukan dan armada yang kuat, dibentengi oleh istana yang tebal, tetapi sayangnya ia tidak fokus secara emosional dan terjebak dalam sikap mental sebagai penguasa yang percaya diri secara berlebihan. Raja Dhana Nanda tidak memiliki cukup determinasi dan kecerdasan, demikian pula ia tidak memiliki kemampuan berpikir strategis. Sejarah mencatat kemenangan Chanakya dan pasukannya mengalahkan sang raja yang over confidence dan lack of focus.

Salah satu kisah tersebut mengingatkan kita bahwa keterbatasan bukanlah hambatan kita untuk melakukan hal-hal yang besar dan strategis. Demikian juga keberlimpahan tidak lantas membuat kita kehilangan fokus dan terlalu percaya diri. Dalam konteks keterbatasan tersebut, misalnya, Nury Vittachi mengetuk kesadaran pembaca tentang kebiasaan kita yang diikat oleh keterbatasan. Seberapa sering kita bertanya “bila saya hanya punya X, saya akan meraih Y”. Dengan kata lain, kita sering berandai-andai sesuatu yang tidak atau belum kita miliki.

Pesan-pesan lain Chanakya yang diolah oleh Nury dalam bukunya adalah prinsip to build anything great, you need a great team (hal 29). Kepemimpinan hanyalah mungkin dengan bantuan. Ia mengakui keterbatasannya, membutuhkan tim dan orang-orang yang menjadi kekuatannya, selain sumber daya yang memadai untuk melalui perjalanan atau pertarungan yang panjang.

Ambisi Chanakya tidak menutup hatinya untuk mengajak banyak orang sebagai bagian yang meyakini visi yang ingin diraihnya. Chanakya, sebagaimana kita semua, membutuhkan anggota tim dan Chanakya telah mengajari kita bagaimana memilih anggota tim yang kuat yang dapat bersama-sama meraih impiannya. Chanakya telah mempersiapkan murid-muridnya, terutama Chandragupta, yang juga belajar strategi dan kearifan melalui proses coaching bersama sang guru sebagai mentor.

Semua pesan-pesan tersebut menunjukkan keluhuran dan kearifan kepemimpinan yang telah diajarkan oleh Chanakya beberapa abad yang lalu, jauh sebelum John Maxwell, Kouzes, Posner, Anthony Robbins, Peter Drucker, atau Stephen Covey hari ini.

Menemukan keseimbangan

Buku ini selanjutnya menguraikan makna kemenangan dan kekalahan yang diambil dari kisah perang Bhagavad Gita. Beberapa pesan moral dari kisah Bhagavad Gita adalah pilihan-pilihan keputusan sering tidak dapat hitam-putih, yang mengajak kita untuk berpikir substansial dan mendasar, tidak terjebak pada simbol-simbol semata.

Hal ini mengingatkan kita pada makna perbedaan yang sering kita tonjolkan ketimbang kesamaan yang dapat mempersatukan. Dalam konteks pribadi, pesan moral ini mengajak kita agar lebih arif dalam melihat kekurangan orang atau kelompok lain. Sedangkan dalam konteks bisnis, kebesaran hati seperti ini akan membuat pelaku bisnis senantiasa melakukan penelaahan ke dalam untuk terus melakukan pembelajaran (learning) di dalam organisasi perusahaan untuk selalu inovasi dan melakukan perbaikan terus-menerus.

Prinsip-prinsip perbaikan terus-menerus ini sejalan dengan prinsip kaizen dalam manajemen ala Jepang atau tindakan perbaikan (corrective actions) yang dibangun oleh sistem yang menjamin perbaikan terus-menerus di dalam manajemen mutu berdasarkan ISO 9000 atau Malcolm Baldrige Award Program.

Selanjutnya, dari kisah perjalanan kemanusiaan Sidharta Gautama untuk menemukan tujuan hidup yang sesungguhnya dapat dipetik pelajaran tentang proses transformasi diri dari seorang yang melakukan pencarian jati diri melalui berbagai interaksi dengan lingkungan.

Belajar dari perjalanan hidup dan lingkungan yang dihadapi sering membuka mata kita terhadap kemungkinan cara pandang lain yang tidak terbayangkan sebelumnya. Penulis resensi ini teringat pada ajakan Edward de Bono untuk melatih kemampuan berpikir lateral, di antaranya dengan mencoba berpikir dari sudut orang lain.

Kisah lain yang menarik dari buku ini adalah pelajaran bagaimana Raja Ashoka membangun lintasan hidupnya dari jalan pedang (baca: kekuasaan) menuju kesejahteraan masyarakat. Kekuasaan di tangan Ashoka menjadi kewenangan untuk melakukan perbaikan menuju kesejahteraan rakyat. Kisah ini sebenarnya menyentil perilaku eksekutif dan kalangan legislatif di negeri ini yang cenderung menggunakan kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Semoga ini hanya kekhawatiran penulis resensi ini.

Pada bagian akhir, buku ini menguraikan bagaimana ujung pencarian Vatsyayana yang menemukan keseimbangan antara kesenangan sensual dan material yang ditopang oleh nilai-nilai spiritual. Ketiga titik keseimbangan tersebut saling memperkuat dan menjadi satu dari esensi prinsip Kama Sutra, esensi keseimbangan spiritual dan material yang banyak disalahpahami hingga saat buku ini mulai kita baca.

Sebagai catatan akhir, buku ini berisi 80 persen tentang nilai-nilai kehidupan dan hubungan antarmanusia yang melibatkan keyakinan (beliefs), hati, dan pikiran yang mengajak kita untuk melakukan kontemplasi, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam perilaku berbisnis dan berkompetisi.

Buku ini merupakan referensi yang penting dibaca siapa saja yang membutuhkan perenungan nilai-nilai universal atau sebagai perbandingan yang dapat memperkuat nilai-nilai yang selama ini dimiliki. Isi buku ini bersifat universal, karya kemanusiaan yang amat berarti untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan dalam kehidupan pribadi dan bisnis para pembaca serta kemampuan kita dalam berhubungan dengan orang lain.

Ahmad Mukhlis Yusuf, Program Director MM General Management, Universitas Bina Nusantara

Sumber: Kompas, 08/04/07

Explore posts in the same categories: Buku

2 Comments on “Kearifan Berbisnis dari “Kama Sutra””

  1. FITRIA ULFAH Says:

    sebuah strategi pemasaran yang dapat saya ambil cukup memuaskan dan memotivasi saya sebagai mahasiswi untuk lebih giat lagi dalam menekuni baik itu dari pekerjaaan maupun perkuliahan. di samping itu juga kita dapat lebih mengetahui lebih jauh akan ilmu tentang manajeman perusahaan.

  2. FITRIA ULFAH Says:

    mengajarkan arti manajemen yang baik


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: