Jurus Sukses Juragan Es Teler

Sebuah buku genre baru telah terbit. Sebuah buku bisnis yang ditulis dalam gaya cerita silat. Karena buku ini baru pertama kali ada di Indonesia—menurut Museum Rekor Indonesia alias Muri—layaklah bila kedua pengarangnya diberi anugerah rekor Muri.

Oleh: BONDAN WINARNO

Buku ini menceritakan bagaimana kerasnya hidup yang harus dilakoninya ketika memulai usaha di Jakarta. Lalu, ketika ia mulai naik daun, ia ditipu orang dan bangkrut sebangkrut-bangkrutnya.
Resep Es Teler Juara Indonesia dari ibu mertuanya kemudian menjadi inspirasi Sukyatno Nugroho untuk bangkit. Jadilah ia orang pertama yang mewaralabakan brand lokal dan berkibar hingga ke mancanegara.

Cerita-cerita Sukyatno mencapai sukses selama 25 tahun terakhir, seperti diceritakan lengkap dalam buku ini, sangatlah inspirasional. Sukyatno adalah orang yang pantang menyerah dan selalu memutar otaknya yang hanya lulusan SMP itu agar berhasil mencapai apa yang dicita-citakannya. Saya sendiri, setelah pertama kali bertemu Sukyatno pada tahun 1986, serta-merta menuliskan pengalaman hidupnya itu di dalam kolom “Kiat” saya di Tempo.

Dalam konteks ini, buku Sukyatno memang wajib dan perlu dibaca oleh mereka yang hingga saat ini belum mencapai hal-hal yang mereka cita-citakan dalam hidup. Sukyatno mengajarkan perseverance dan etika atau etos kerja bahwa seorang tidak akan sukses dalam hidup bila tidak mau berpeluh dan terlalu gampang menyerah.

Caveat bagi pembaca adalah agar jangan terlalu berharap buku ini sejajar dengan studi kasus Starbucks, misalnya, yang sekarang sedang jadi salah satu international best sellers. Studi kasus Starbucks, seperti juga buku bisnis setara ini, selalu rapi mengodifikasikan berbagai pengalaman bisnis menjadi kiat-kiat praktis yang disandarkan pada teori-teori manajemen yang cukup mudah direplikasikan.

Maklum, Sukyatno sendiri sejak awal malah dengan sangat bangga menyebut dirinya sebagai orang bodoh yang hanya lulus SMP secara pas-pasan. Katanya, ia menduduki peringkat ke-40 di antara 50 murid di sekolah itu. Padahal, seingat saya sebagai orang seusia dia, pada masa itu belum ada kebiasaan untuk melakukan pemeringkatan di sekolah. Tidak perlu dibantah karena Sukyatno adalah juara dalam membuat rekornya sendiri.

Keahlian memasarkan

Benar atau salah bukanlah masalah dan tak perlu dipermasalahkan dalam konteks ini. Namun, penerbitan buku ini dan cara memasarkannya sekali lagi menunjukkan kekhasan Sukyatno Nugroho dalam memasarkan. Ia menjungkirbalikkan teori-teori pemasaran, tetapi nyatanya ia berhasil memasarkan apa pun yang disentuhnya.

Buku ini ternyata, menurut klaim Sukyatno sendiri, telah dicetak ulang tiga kali sebelum diluncurkan. Untuk edisi peluncuran, ia sengaja mencetak ulang buku untuk keempat kalinya. Sebelumnya, cetakan pertama habis dijual ke Es Teller 77 sendiri.

Cetakan kedua ludes dibeli oleh Bank Niaga, PT Hati Mutiara, Nestle, dan Teh Sosro. Sementara cetakan ketiga laris manis diborong oleh tujuh perusahaan lain. Berapa jumlah masing-masing cetakan tidak merupakan hal penting dan karenanya tidak perlu dicantumkan dalam catatan rekor. Keempat cetakan tersebut terjadi dalam bulan Mei 2007, dan masing- masing merupakan best seller (lagi-lagi tanpa pembuktian bagaimana klaim best seller itu diraih).

Karena itu, dalam acara peluncuran buku yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini, Sukyatno juga akan menerima rekor Muri sebagai buku pertama yang sudah dicetak empat kali pada saat peluncurannya. Sukyatno memang langganan Muri dan bahkan telah mencetak rekor sebagai orang de- ngan rekor Muri terbanyak di dunia. Luar biasa, memang!

Akan tetapi, sebagai catatan bersahabat, saya justru ingin meminta agar Sukyatno berhati-hati dalam membuat klasifikasi dan klaim. Ini semata-mata untuk menyelamatkan dari jerat hukum. Misalnya, pernyataan pada sampul buku yang berbunyi: Buku yang mampu memberi inspirasi dan membuka wawasan Anda agar lebih inovatif dari hasil pengalaman nyata dan satu-satunya di Indonesia. Kalimat “satu-satunya di Indonesia” ini sangat meragukan, hiperbolik, dan tidak jelas kualifikasinya.

Buku silat tempelan

Terus terang, menurut saya, cerita silat yang dijanjikan dalam buku ini justru terasa sebagai tempelan belaka. Kalau saja cerita-cerita silat itu dihilangkan, buku ini sudah dapat berdiri sendiri sebagai bacaan yang menarik. Akan tetapi, kalau hal itu yang menjadi pilihan, tentulah buku tipis ini akan menjadi semakin tipis jumlah halamannya.

Tidak percaya? Coba saja, misalnya, baca Bab 2 berjudul Jurus Sakti Juara Indonesia. Cerita silat yang terbaca di situ tidak ada juntrungan dan kaitan dengan fakta yang diceritakan sebelumnya. Bahkan, ada beberapa kalimat yang agak berbau isapan jempol. Misalnya: apa hubungannya tiap pagi menghantamkan tangan ke balok kayu besi dari Kalimantan, pasir panas, dan batu gunung sebesar mobil dengan formula atau cara meracik es teler?

Premis sebagai buku bisnis bergaya cerita silat rupanya hanya merupakan sebuah gimmick agar buku ini tampil sebagai sebuah buku yang unik, berbeda, dan tak pernah ada sebelumnya.
Soalnya, harus ada keunikan agar ada rekor Muri yang dapat dipakai sebagai marketing tool yang andal untuk memasarkan buku ini. Seharusnya penulis dapat lebih kreatif dengan menulis seluruh cerita Sukyatno ini dalam gaya cerita silat.

Bukan dua cerita yang berdiri sendiri-sendiri dan terlalu dicari-cari kaitannya serta malah terasa mengada-ada. Akan tetapi, tentu saja, menulis buku seperti itu akan sangat sulit. Karena itu, terima sajalah klaim buku ini sebagai sesuatu yang sesuai dengan nuansa tongue in cheek yang tampaknya memang diniatkan dalam penerbitannya.

Para penulis juga tampaknya abai untuk menjelaskan apa yang mereka sebut sebagai jurus sakti (halaman xxiv, 9, dan lain-lain) dalam buku ini. Atau, begitu rahasianya sehingga malah mereka tidak bersedia memberi penjelasan.

Di halaman xvii juga disebut 77P-nya Sukyatno Nugroho sebagai “ilmu” yang lebih ampuh daripada 4P-nya Philip Kotler. Akan tetapi, tidak ada penjelasan apa yang dimaksud dengan 77P itu. Banyak lagi klaim yang tidak disertai penjelasan, padahal justru penjelasan itulah yang sebenarnya ditunggu pembaca.

Terasa juga ada “pemaksaan” untuk mencapai angka 18 sebagai jumlah jurus sakti yang ditampilkan dalam buku ini. Tidak heran bila beberapa jurus terasa sangat kurus dengan jumlah halaman yang sedikit.

Jurus Sakti Publisitas, misalnya, sangat bisa digabung dengan Jurus Sakti Promosi Total, bahkan sekaligus dengan Jurus Sakti Pendekatan Pribadi. Jurus Sakti Menaklukkan Pasar Mancanegara juga bisa digabung dengan Jurus Sakti Penguasaan Lapangan. Akan tetapi, tentulah sah-sah belaka untuk tetap membuatnya menjadi 18 jurus sakti bila hal itu lebih cocok dengan fengshui.
Pada colophone buku ini juga terlihat kelucuan lain dari para penulis. Di situ disebut penulisnya adalah Sukyatno Nugroho. Namun, di bawahnya ada pernyataan bahwa ghost writer-nya adalah Ari Satriyo Wibowo. Lho, “hantu” kok malah ngaku? Seharusnya kan ghost writer tidak perlu disebut namanya?

Atau, kalaupun mau menampilkan nama, dapat ditempuh cara yang lebih elegan. Misalnya, “ditulis oleh Ari Satriyo Wibowo, seperti dikisahkan oleh Sukyatno Nugroho”. Pendekatan lain adalah “ditulis oleh Sukyatno Nugroho bersama Ari Satriyo Wibowo”.

Akan tetapi, mungkin justru keanehan dan keunikan itulah yang ingin dicapai kedua penulisnya sebagai gimmick tambahan. Siapa tahu akan ada rekor Muri baru yang akan mereka peroleh dengan keanehan itu.

Bondan Winarno, Kolumnis Manajemen; Bermukim di Bogor

Sumber: Kompas, 28/05/07

Explore posts in the same categories: Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: