Besar atau Kecil?

oleh: Samuel Mulia

Dua minggu lalu saya mengikuti seminar soal iman dan visi. Tentu seminar ini untuk meningkatkan kehidupan spiritual setelah saya tak pernah kenyang meningkatkan kehidupan duniawi. Saat memberi tahu seorang teman saya hendak mengikuti seminar semacam ini untuk pertama kalinya, ia malah berkomentar, “Enggak salah? Sana mau jadi pendeta, yaaa?”

Dalam hati saya berkata, siapa juga yang mau menjadi pendeta. Laaa… wong saya justru mau lirak-lirik di tempat itu. Siapa tahu ke seminar semacam itu bisa jadi cara lain mencari pacar, bukan? Jiwa dikenyangkan, mata duniawi apalagi. Bukankah hidup begitu adilnya?

Singkat cerita, pesan dari seminar itu adalah bila saya beriman—tentu kepada Sang Kuasa—dan memiliki visi ke depan, maka saya dapat memiliki apa yang disebut dengan abundant life. Si pembawa seminar telah mengalami itu semua. Soal materi, soal mukjizat atas penyakitnya yang hilang lenyap, soal segala yang kemudian menjadi besar, yang tak terpikirkan oleh dia sebelum itu. Ia berapi-api menceritakan apa yang pernah dia alami pada menit pertama, sampai ruangan bergemuruh dengan tepuk tangan. Tentu, tak ada api yang membakar ruangan itu dan dirinya.

Small is beautiful

Dalam perjalanan pulang, saya terngiang-ngiang soal seminar tadi. Hal yang membuat saya tak habis berpikir, mengapa abundant life senantiasa diartikan memperoleh sesuatu yang besar-besar saja. Akankah ada tepuk tangan gemuruh bila si pembicara mengatakan hal-hal kecil sederhana? Mengapa yang selalu dikomunikasikan adalah uang, kekayaan, mukjizat, dihormati, dan kesuksesan?

Saya pernah menjadi kesal karena merasa seminar semacam itu hanya seperti film Hollywood. Memesona sekian jam di layar lebar, tetapi dipraktikkan di dunia nyata, acapkali malah tidak happy ending. “Kalau lo mau mengalami semua itu, mesti pakai iman, bukan otak lo, Mas,” celetuk teman saya menasihati.

Justru karena baru dua tahunan belajar berjalan dengan iman dan masih terseok-seok pula, saya kok malah merasa saya ini tak perlu harus besar, penyakit saya tak perlu harus hilang lenyap, hanya untuk membuktikan Sang Khalik itu besar dan murah hati. Dengan tak punya mobil, tabungan kecil, penyakit tak hilang, saya katarak, yatim piatu pula, saya justru merasakan besarnya Sang Khalik di tengah situasi yang menurut ukuran mata bukanlah hidup dalam kategori berkelimpahan.

“Yaaa… berkelimpahanlah, Mas. Berkelimpahan sengsara, maksudnya,” celetuk teman saya.

Dalam situasi yang tidak besar itu untuk pertama kalinya saya dimampukan melihat small itu memang beautiful. Kata berkelimpahan justru bermakna saat Sang Khalik memampukan saya berpikir bahwa menjadi kecil itu sama luar biasanya dengan besar. “Kayak cabai rawiiit ya, Jeung…,” kata teman saya.

Dengan berpikir demikian, saya malah mampu menerima menjadi yang terbelakang pun sebuah hal yang tak kalah luar biasa, terutama bagi saya yang maunya selalu terdepan. Menjadi yatim piatu juga oke-oke saja.

Kalau dipikir-pikir, saya ini bukan yatim piatu karena Sang Khalik tak pernah meninggalkan saya.

“Lo yang seringnya ninggalin Dia. Egois,” kata teman saya ketus.

Menjadi pelayan pun tak jadi masalah. “Apalagi buat manusia kayak lo ya, bo. Rendah hati susah, omong sering ketinggian,” teman saya berkicau lagi. “Husshh… jangan ba, bo, ba, bo, lagi,” kata saya memperingati.

Teman saya cuma menjawab ringan, “Memang Mbak Ratih sudah nelpon sampean?”

Cukup

Mengapa saya memilih tidak menjadi besar? Di tempat tinggi anginnya kencang sekali. Saya sudah pernah mengalaminya, saya malah terjatuh nyungsep tak sadarkan diri. Karena makin saya kaya, saya jadi lebih mencintai uang dan kekayaan saya ketimbang cinta mula-mula saya yang berapi-api seperti pembicara di seminar itu, kepada Sang Khalik. Hal-hal besar terutama banyak uang itu bak air yang memadamkan api.

Saya pernah dinasihati, aksi untuk mencintai uang (the love of money) adalah akar dari segala kejahatan. Waktu itu saya tak percaya, sampai saya nyungsep. Waktu saya nyungsep, saya baru percaya. Seperti biasa, saya sampai harus perlu celaka untuk mempercayai nasihat orang.

Daripada nyungsep lagi, saya memilih menjadi cukup saja. Sehari makan cukup, minum cukup, punya pacar cukup.

“Cukup empat ya, Mas?” teman saya berkicau lagi. Jadi, kalaupun saya mati cukup meninggalkan kartu nama saja. “Dan utang,” kata teman saya menyambar bak kilat.

Yang justru gusar adalah bila saya game over dalam keadaan besar. Bingung uangnya akan dilarikan dan direbut siapa. “Sampean enggak perlu bingung, wong sudah game over juga,” celetuk teman saya lagi.

Besar itu ternyata diperlukan juga dalam membuat seminar. Sejujurnya saya tak pernah mendengar seminar menjadi kecil. Itu menjadi sangat tidak menarik, tidak ada geregetnya, tidak “membakar” peserta seperti membakarnya seminar bagaimana melipatgandakan keuangan Anda. Maka, topik pembicaraan harus menarik, pembicara harus punya nama besar supaya mampu menarik pengunjung, padahal mungkin manusia biasa tak ternama pun tak kalah pandainya.

Kenyataannya, saya merasa lebih lebih yakin dikuliahi nama besar. Seperti seminar yang saya hadiri itu sampai mendatangkan pembicara dari negeri seberang, padahal seorang teman malah sudah membicarakan apa yang dibicarakan di seminar itu tiga minggu lalu. Tetapi, yaaa…, she is nobody.

Jadi, apa yang sudah diberitahukan si nama kecil hanya masuk ke telinga kanan saya dan keluar di telinga kanan juga, karena tak sampai ke telinga kiri.

“Mas, Mas, sampean itu bagaimana sih. La… pastinya enakan yang besar. Kecil-kecil mah enggak kerasa, enggak nendang. Kayak enggak tahu aja,” celetuk teman saya.

Samuel Mulia, Penulis Mode dan Gaya Hidup

Sumber: Kompas, 01/04/07

Explore posts in the same categories: Panepen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: