Masyarakat yang Sakit dalam “Kubangan”

Ketika masyarakat gagap menghadapi konsumtivisme dan
gaya hidup urban yang dibungkus sikap hedonis pragmatis, mereka menjadi seperti bergerak dalam kubangan yang sesak. Lab Teater Syahid menyuguhkan realitas masyarakat itu dalam pertunjukan teater berjudul Kubangan di Bentara Budaya
Jakarta, Kamis-Jumat (11-12 Januari) lalu.

<p>Lima orang—empat laki-laki dan seorang perempuan (dimainkan oleh Aseng Tralala, Ilham Jambak, Zulfi Ramdoni, Nur Alamsyah, dan Yova Tri Wahyuni)—dengan tubuh bergetar seperti tersiksa dan sakit, terus bergerak. Mereka mengisi berbagai ruang publik seperti kantor, halte bus, kafe, hingga cat walk dan ruang rias. <p>Dengan getaran cepat dan patah-patah, mereka saling berganti peran, namun gagal untuk merasa nyaman dengan peran masing-masing. Tidak hanya sumpah serapah, kegelisahan pun terlontar dalam kalimat-kalimat yang diucapkan dengan berbagai logat dan intonasi.

<p>Dengan jelas dan mudah dipahami, Kubangan hendak menceritakan bangsa yang terus-menerus dilanda ketegangan, konflik, dan penderitaan tak berkesudahan. Namun, di sela-sela itu, muncul sosok-sosok hedonis yang mencengkeram masyarakat urban. <p>Sambil menenggak bir, mereka berceloteh tentang bencana demi bencana negeri ini. Sambil terus memencet-mencet telepon genggam, mereka berbicara tentang kemunafikan para pejabat. Sambil memperbaiki dandanan rambut, mereka memprotes peraturan yang melarang perempuan keluar rumah. <p>Tanpa identitas
Lima tokoh dengan perannya masing-masing digambarkan seperti tidak beridentitas, atau barangkali sudah kehilangan identitas. Sutradara Bambang Prihadi menggambarkan itu lewat wajah yang dipoles hitam, bedak tebal, dan perilaku mereka yang berganti-ganti baju setiap saat.

<p>Yang ditonjolkan dalam lakon ini adalah bentuk-bentuk artistik, warna, serta gerak tubuh. Semua itu membentuk suasana yang mendukung dialog dan tema cerita yang hendak disampaikan.

<p>Tubuh-tubuh yang bergetar sejak awal hingga akhir pementasan bisa menimbulkan beberapa tafsir. Sebuah masyarakat yang panik, sumpek, sakit, gagap, terasing, atau semuanya. Getaran tubuh ini menarik, baik secara gagasan maupun visual. Dengan durasi pementasan sekitar 90 menit, pertunjukan ini terasa pas dan tidak menjemukan.

<p>Jika pun ada yang kurang secara teknis, barangkali hanya artikulasi dan vokal yang kurang jelas sehingga dialog demi dialog menjadi kabur, termakan ilustrasi musik yang lebih keras. Secara penjiwaan, mudah saja menampilkan ekspresi hampa, kosong, atau dendam dan marah.

<p>Seperti dikatakan Direktur Eksekutif Las Teater Syahid, Edy A Effendi, Kubangan hadir atas dasar proses dan pergulatan sehari-hari. Ia seperti wadah dari berbagai gejolak kehidupan manusia, yang di dalamnya tumbuh subur aneka warna kehidupan. “Kami memandang, manusia modern sudah terjebak arus baru, yang merambah di dalam tubuhnya,” tuturnya.

<p>Kubangan, sebuah karya dengan tema keseharian, mudah dicerna dan menghibur. Bagi Bambang, Kubangan juga ingin menggambarkan bahwa mal-mal serta pusat perbelanjaan telah menjadi ajang perjumpaan tubuh-tubuh yang tak saling kenal. Mal dalam makna yang lebih melebar, telah merambah tubuh setiap pribadi, menyeret pada kemiskinan membaca dan merekam setiap lalu-lalang kehidupan dengan jernih, jujur, dan obyektif.

<p>Lab Teater Syahid adalah sebuah lembaga nirlaba yang berupaya mengembangkan proses penciptaan karya teater yang memiliki basis studi dan penelitian. Pada tahun 2006, kelompok ini mendapat hibah seni Yayasan Kelola untuk kategori karya inovatif.

<p>Bambang Prihadi yang juga menyutradarai beberapa karya Arifin C Noer, seperti Umang-umang (2001) dan Telah Pergi Ia Telah Kembali Ia (2002) ini, pernah mendapat penghargaan sebagai sutradara terbaik dalam Festival Teater Jakarta 2003. (Susi Ivvaty)

<p>Sumber: Kompas, 16/01/07

Explore posts in the same categories: Teater

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: