Bantuan Operasional Pendidikan Alternatif

Jakarta, Kompas – Sebagai lembaga pendidikan alternatif, persekolahan di rumah alias homeschooling bakal memperoleh bantuan operasional. Jika selama ini sekolah formal mendapat bantuan operasional sekolah atau BOS, maka lembaga pendidikan alternatif bakal memperoleh biaya operasional penyelenggaraan atau BOP.

Hal itu mengemuka dalam dialog seusai penandatanganan naskah kerja sama antara Asosiasi Persekolahan di Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) dengan Ditjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Depdiknas di Jakarta, Rabu (10/1). Naskah tersebut ditandatangani Ketua Umum Asah Pena Seto Mulyadi dan Dirjen PLS Depdiknas Ace Suryadi.

“Semua penyelenggara pendidikan alternatif berhak mendapatkan bantuan BOP. Mengingat, persekolahan di rumah ada yang dijalankan oleh keluarga dan ada pula yang dijalankan oleh komunitas, maka syaratnya tentu saja harus berbadan hukum,” ujar Ace Suryadi.

Dalam hal ini, kata Ace, Asah Pena ditunjuk sebagai pemegang lisensi (amanah) untuk mengoordinasi permohonan bantuan BOP, khusunya bagi perseko- lahan di rumah. Bentuk kegiatan pendidikan alternatif lain- nya yang juga bisa dikoordinasi Asah Pena adalah pondok pesantren.

Menurut Direktur Pendidikan Kesetaraan Depdiknas Ella Yulaelawati Rumindasari, penyaluran BOP sebetulnya sudah berlangsung selama ini untuk lembaga-lembaga pendidikan alternatif dalam rangka ujian nasional kesetaraan Paket A dan B. Namun, istilah BOP belakangan kian menguat menyusul maraknya tuntutan untuk melegalisasi berbagai bentuk pendidikan alternatif, termasuk persekolohan di rumah.

Wakil Ketua Komisi X DPR Masduki Baedlowi mengingatkan agar munculnya pendidikan alternatif tidak dianggap sebagai pemberontakan terhadap arus utama pendidikan yang kental dengan persekolahan. Menu-menu baru itu adalah upaya melengkapi jalur pendidikan yang menurut UU Sisdiknas terbagi atas formal (sekolah), nonformal (luar sekolah), dan informal (keluarga). “Jangan dipertentangkan karena masing-masing punya segmen,” ujar Masduki, yang salah satu anaknya belajar persekolahan di rumah.

Seto Mulyadi menambahkan, dalam sejarah pendidikan di Tanah Air, persekolahan di rumah bukanlah hal baru. Sejumlah tokoh pergerakan nasional justru lahir dari model persekolahan di rumah, seperti Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, dan Buya Hamka.

Seto sendiri mengakui, tiga dari empat anaknya kini ikut persekolahan di rumah. Soal biaya, ia mengakui bisa berhemat. “Tidak perlu repot-repot menyediakan uang bangku, uang transpor, dan uang buku. Buku bekas kakaknya bisa dipakai oleh adiknya,” ungkap Seto. (NAR)

Sumber: Kompas, 11/01/06

Explore posts in the same categories: Berita, Edukasi

One Comment on “Bantuan Operasional Pendidikan Alternatif”

  1. sari Says:

    kenapadapat bantuan? soalnya biaya untuk masuk homeschooling milik orang tersebut saja sudah mahal biayanya dan tidak terjangkau untuk seluruh lapisan masyarkat, lebih komersil mengejar keuntungan semata, nantinya bantuan pemerintah untuk apa yA?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: