Universitas Multimedia Nusantara Diarahkan Jadi Pusat Peradaban

Jakarta, Kompas – Tugas perguruan tinggi bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi. Universitas punya misi mendasar, yaitu menghimpun, memelihara, dan mentransfer nilai, knowledge, yang baru kepada generasi baru.

Nilai-nilai baru itu adalah kerja keras, penghormatan kepada orang lain, semangat berbangsa dan bernegara, serta budaya baca. “Jadi yang dibina universitas dari sebuah bangsa bukan sekadar intelektual, pikiran bangsa, tetapi juga kalbu, hati, agar bangsa itu berbudaya luhur, dan berpenghormatan tinggi,” kata Dodi Nandika, Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional, saat peluncuran Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di Hotel Santika Jakarta, Senin (20/11).

“Oleh karena itu, kehadiran Universitas Multimedia Nusantara yang memfokuskan kajian pada bidang information communication technology (ICT; teknologi komunikasi informasi) sangatlah relevan dengan harapan untuk mengangkat harkat bangsa ini,” ujarnya.

Universitas yang bernaung di bawah Kelompok Kompas Gramedia (KKG) tersebut rencananya mulai beroperasi tahun 2007 di Wisma BNI 46, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat.

Di hadapan pendiri KKG Jakob Oetama, Rektor UMN Yohanes Surya, serta para pakar dan pimpinan perusahaan ICT yang langsung menjalin kerja sama dengan dengan UMN, Dodi mengemukakan, peranan sumber daya alam Indonesia tidak sampai 10 persen dalam mengangkat daya saing bangsa. Yang berperan dominan adalah inovasi teknologi dengan porsi 45 persen, disusul networking (jejaringnya) dengan porsi 25 persen.

“Kita memang kaya akan sumber daya alam, tapi itu perannya sangat sedikit. Rupanya, pengembangan ilmu dan teknologi merupakan faktor paling kritis untuk mengangkat harkat bangsa,” papar Dodi.

Dodi mengingatkan UMN agar tidak terjerembab menjadi sekolah pelatihan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) atau sekolah keterampilan semata. Sebagai bagian dari pusat peradaban, UMN harus mentransfer nilai-nilai budaya tadi guna mendukung pembangunan karakter bangsa.

Pencerahan

Senada dengan itu, Jakob Oetama dalam orasinya mengingatkan bahwa sebagai pusat peradaban, perguruan tinggi—termasuk UMN—seyogianya juga ikut mencerahkan bangsa melalui konvergensi antara nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan nilai-nilai budaya.

“Dari situ diharapkan kricikan bisa jadi grojogan. Sesuatu yang dimulai kecil, nantinya bisa menjadi sebuah aktivitas yang besar, dan memberi makna lebih besar,” tutur Jakob.

Ia menambahkan, untuk menyejajarkan diri dengan negara-negara maju, bangsa Indonesia tidak hanya perlu mengasah otak, tetapi juga mengembangkan jiwa yang humanis.

Rektor UMN Yohanes Surya menjelaskan visi UMN sebagai perguruan tinggi unggulan di tingkat nasional dan internasional di bidang ICT, dengan lulusan berkompeten tinggi di bidangnya, disertai jiwa technopreneur. dan berbudi pekerti luhur.

Mengenai tantangan pengembangan ICT di Tanah Air, perwakilan Microsoft untuk Indonesia, Tony Chen, mengatakan bahwa Indonesia saat ini masih tergolong sebagai pemain baru dalam ICT, sejajar dengan Filipina dan Vietnam. Namun, Indonesia mencatat rekor buruk, yakni juara tiga dalam pembajakan ICT, mencapai 87 persen, di bawah Zimbabwe (91 persen), dan sebuah negara lain.

Menurut Chen, harga perangkat ICT di Indonesia juga masih empat kali lebih mahal dibandingkan dengan di India. Ini karena Indonesia belum mampu berproduksi akibat terbatasnya sumber daya manusia yang cakap di bidang itu.

Mengutip Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan bangsa-Bangsa (UNESCO), Chen melihat minimnya penguasaan bahasa Inggris dan melek komputer (computer literacy) sebagai kendala transformasi ICT. Di Filipina dan Malaysia, penggunaan bahasa Inggris di sekolah begitu baik. Di sana buku teks berbahasa Inggris juga jadi kebutuhan. (NAR)

Sumber: Kompas, 21/11/06

Explore posts in the same categories: Edukasi

3 Comments on “Universitas Multimedia Nusantara Diarahkan Jadi Pusat Peradaban”

  1. I Joko Dewanto Says:

    Saya lebih melihat bahwa Pendidikan Perguruan Tinggi saat ini selain memerlukan :
    IQ (dari dukungan belajar multicheanel learning dan student centre learning), EQ (dari dukungan character building) dan SQ (dari dukungan kegiatan spiritual campus) perlu dikembangkan guna menciptakan lulusan yang memiliki intelegensi baik, kemampuan emotional yang dapat diterima masyarakat dan kemampuan spiritual untuk dukungan rambu-rambu dari kebaikan

  2. Mulyaningrum Says:

    Dimanakah lokasi Summarecon? Saya perlu peta lokasinya. Tq


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: