Hari Ibu Tidak Sama dengan “Mother’s Day”

Mengembalikan Akar Sejarah Hari Ibu

Oleh: Yeni Rosa Damayanti dan Hary Prabowo

TULISAN ini bertujuan untuk melakukan tilikan akar historis menyangkut Hari Ibu, berkaitan dengan munculnya berbagai pandangan yang memaknai Hari Ibu di Tanah Air. Seperti tampak pada tulisan Bintoro Gunadi (Kompas, 20 Desember 2004), menurut arus utama yang berkembang, Hari Ibu di Indonesia dimaknai mengikuti tradisi Mother’s Day ala Amerika Serikat atau Eropa yang mendedikasikan hari itu sebagai penghormatan terhadap jasa para ibu dalam merawat anak-anak dan suami serta mengurus rumah tangga.

Pada hari itu kaum perempuan dibebaskan dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Manifestasi Mother’s Day ini kerap dinyatakan dengan mengirim kartu, memberikan bunga, menggantikan peran ibu di dapur, dan membelikan hadiah. Biasanya hadiah yang dipilih pun adalah benda yang mencerminkan “sifat keibuan”, seperti perlengkapan dapur yang cantik.

Inti pemaknaan Mother’s Day macam ini adalah perayaan peran domestik perempuan sekaligus peneguhan posisi perempuan sebagai makhluk domestik. Domestifikasi perempuan ini mengawetkan bilik dapur, sumur, dan kasur sebagai domain kaum perempuan.

Hari Ibu di Tanah Air yang jatuh pada tanggal 22 Desember mempunyai akar sejarah dan makna jauh berbeda dari tradisi Mother’s Day model Barat. Momentum ini bertolak dari semangat pembebasan nasib kaum perempuan dari belenggu ketertindasan pada waktu itu.

Peristiwa ini terjadi pada momentum Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928 (dua bulan setelah Sumpah Pemuda) yang dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Tujuan kongres ini untuk mempersatukan cita-cita dan usaha memajukan perempuan Indonesia dan menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam suatu badan federasi yang demokratis tanpa memandang latar belakang agama, politik, dan kedudukan sosial dalam masyarakat.

Sifat yang luas dan demokratis dari Kongres Perempuan I ini dibuktikan oleh ikutnya, antara lain, organisasi Wanita Utomo, Wanita Tamansiswa, Putri Indonesia, Aisyiyah, Jong Islamieten Bond bagian Wanita, Wanita Katholik, dan Jong Java bagian Perempuan.

Kongres ini adalah salah satu puncak kesadaran berorganisasi kaum perempuan Indonesia. Kongres Perempuan I ini berhasil merumuskan beberapa tuntutan yang penting bagi kaum perempuan Indonesia, seperti penentangan terhadap perkawinan anak-anak dan kawin paksa, tuntutan akan syarat-syarat perceraian yang menguntungkan pihak perempuan, sokongan pemerintah untuk para janda dan anak yatim, beasiswa untuk anak perempuan dan sekolah-sekolah perempuan.

Bila kita tilik, cakupan persoalan yang dibahas Kongres Perempuan I ini menunjukkan keluasan persoalan dan upaya memperjuangkan hak-hak kaum perempuan secara lebih baik pada waktu itu. Dan, yang cukup penting kita cermati adalah hasil keputusan kongres tersebut untuk mendirikan badan permufakatan bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) yang bertujuan menjadi pertalian segala perhimpunan perempuan Indonesia dan memperbaiki nasib dan derajat perempuan Indonesia.

Untuk mencapai maksud itu, ada rekomendasi-rekomendasi yang sangat maju bahkan untuk ukuran saat ini, seperti membuat kongres perempuan tiap tahun; mengupayakan beasiswa bagi anak-anak perempuan; menerbitkan surat kabar yang menjadi media perempuan Indonesia untuk memperjuangkan hak-hak, kewajiban, kebutuhan, dan kemajuan kaum perempuan; mengirimkan mosi kepada pemerintah untuk memperbanyak sekolah bagi anak perempuan; dan menyediakan dana bagi para janda dan anak yatim.

PPPI mampu menyelenggarakan kongres-kongres hampir tiap tahun. Dari notula rapat yang dimuat dalam buku Peringatan 30 tahun Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia 1928-1958 bisa dilihat perkembangan mereka. Pada tahun 1930 kongres PPPI merekomendasikan berbagai kerja konkret yang lebih maju lagi, seperti menguatkan Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak (P4A), menyelidiki kondisi kesehatan perempuan dan kematian bayi di pedesaan, membuat propaganda tentang dampak buruk perkawinan dini bagi perempuan, mendirikan kantor penyuluh perburuhan, hak-hak perempuan dalam perkawinan, mempelajari hak pilih bagi kaum perempuan.

Semua rekomendasi ini dibuat oleh gerakan perempuan Indonesia tiga perempat abad lalu dan tak bisa kita ingkari kekaguman kita terhadap mereka, serta rasa malu untuk melihat betapa mundurnya gerakan perempuan kita saat ini. Kampanye antiperdagangan perempuan dan anak yang sekarang baru menjadi tren di kalangan organisasi perempuan, sudah secara konkret menjadi agenda gerakan perempuan sejak 75 tahun lalu!

Makna historis penting lainnya dari Kongres Perempuan I adalah menjadi batu pertama yang menandai babak baru bangkitnya gerakan kaum perempuan Indonesia pada waktu itu untuk berorganisasi secara demokratis tanpa membedakan agama, etnis, dan kelas sosial.

Lebih jauh lagi, Kongres Perempuan I, yang hari berlangsungnya sekarang diperingati menjadi Hari Ibu, ini telah mengilhami gerakan perempuan di wilayah politik dan ekonomi untuk mencapai tahap yang cukup berarti. Buah perjuangan perempuan tersebut bisa dilihat dari pengakuan bahwa perjuangan gerakan perempuan adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan kemerdekaan nasional, seperti tercantum dari pidato-pidato dan kata sambutan pengurus pusat berbagai partai politik dan tokoh-tokoh Indonesia terkemuka pada Peringatan Ke-25 Hari Ibu pada tahun 1953. Buah-buah itu pun bisa dinikmati kalangan perempuan pada zaman itu, seperti hak pilih bagi perempuan, syarat perceraian yang menguntungkan pihak perempuan, serta dibukanya penitipan anak bagi pekerja pabrik dan buruh kebun.

PENETAPAN tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.

Berbagai bentuk perayaan Hari Ibu pada masa-masa itu juga sangat menarik untuk kita kaji kembali. Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok.

Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung. Dan, bentuk-bentuk perjuangan tersebut tentu sangat berbeda dibandingkan dengan perayaan Hari Ibu pada masa kini yang mencerminkan domestifikasi kaum perempuan dan lebih merupakan perayaan budaya konsumerisme.

Sudah 76 tahun berlalu semenjak diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia I yang saat ini kita peringati sebagai Hari Ibu. Gerakan perjuangan mereka yang menyentuh kepentingan dan kemajuan konkret kaum perempuan bisa menjadi teladan bagi gerakan perempuan di masa kini. Ada banyak hal telah dicapai dan masih sangat banyak yang belum.

Tuntutan mereka masih aktual sampai sekarang karena sampai saat ini banyak kaum perempuan Indonesia belum mendapatkan hak-haknya dan persatuan gerakan perempuan di Indonesia belum terwujud. Bahkan, dalam konteks berorganisasi keberadaan organisasi perempuan sekarang ini harus diakui jauh tertinggal dari masa itu.

Adalah kewajiban penting dari gerakan perempuan dan gerakan rakyat saat ini untuk meneruskan tradisi maju yang telah diletakkan di Indonesia pada titik sejarah yang sangat bermakna itu.

Yeni Rosa Damayanti dan Hary Prabowo Aktivis Gerakan Sosial

Sumber: Kompas, 31/01/05

Explore posts in the same categories: Artikel

2 Comments on “Hari Ibu Tidak Sama dengan “Mother’s Day””


  1. Semangat Hari Ibu = Mother’s Day

    Tulisan ini pernah diharapkan terbit di Kompas untuk merespon tulisan Yeni Rosa Damayanti dan Hary Prabowo. (Kompas, 31 Januari 2005) yang berjudul Hari Ibu Tidak Sama dengan Mother’s Day: Mengembalikan Akar Sejarah Hari Ibu. Inti dari tulisan tersebut, semangat Hari Ibu tidak sama dengan Mother’s Day.
    Kompas menolak terbitnya tulisan ini dengan alasan formal selain keterbatasan ruang, juga ada beberapa hal lain yang lebih mendesak untuk dimuat yaitu permasalahan buruh migran dan rehab pasca tsunami.
    Tulisan Yeni dan Hary menanggapi tulisan berjudul Mother’s Day (Kompas, 20 Desember 2004) yang dianggap mengawetkan domestikasi perempuan. Apakah ada kaitan antara domestikasi perempuan dengan perayaan Mother’s Day? Apakah benar bahwa semangat Hari Ibu berbeda dengan semangat Mother’s Day?
    Artikel berjudul Mother’s Day (Kompas, 20 Desember 2004) tidak menyinggung sejarah Hari Ibu dan sejarah Mother’s Day di Amerika Serikat, tetapi lebih menekankan kepada “woman nature” atau naluri keibuan alami yang dimiliki oleh semua perempuan, juga semua induk betina di alam.
    Mungkin sejarah Hari Ibu di Tanah Air kurang dikenal. Semoga saat itu diperingati dengan meriah baik secara formal dengan mengingat akar sejarahnya, juga secara santai dan pribadi di lingkungan keluarga untuk menghormati jasa para ibu.
    Sejarah Hari Ibu dan Mother’s Day pasti berbeda, juga diperingati pada waktu yang berbeda. Tetapi semangatnya sebenarnya sama.
    Atau bahkan ada kemungkinan inspirasi Hari Ibu yang berasal dari Kongres Perempuan Indonesia I sekitar 75 tahun yll. diilhami oleh pergerakan perempuan manca negara pada saat itu.
    Mother’s Day di Amerika Serikat rintisannya dimulai sekitar 150 tahun yll. Pada saat itu Anna Reeves Jarvis (meninggal tahun 1905), seorang ibu di Philadelphia merintis gerakan peduli lingkungan bagi kaum miskin yang kumuh. Anna berpendapat bahwa hanya dengan rintisan kasih kaum ibu, kaum miskin dapat lebih terawat sehingga negara dapat lebih beradab dan maju.
    Setelah Perang Sipil (Civil War) di Amerika (1861 – 1865) yang melibatkan lebih dari 3 juta orang dengan korban sekitar 600.000 jiwa, Anna mengusahakan rekonsiliasi antara kubu Konfiderasi dan kubu Union yang terlibat konflik. Selain itu Anna menggerakkan kaum ibu untuk merawat anak-anak korban perang tersebut.
    Anak perempuan Anna Reeves Jarvis yang namanya mirip Ana Jarvis (1864 – 1948) melanjutkan perjuangan ibunya. Dengan kepiawaiannya melobi secara intensif tokoh-tokoh terkenal seperti presiden Theodore Roosevelt dan presiden William Taft, dapat berhasil menyentuh perasaan kalangan elit. Pada tahun 1915 presiden Woodrow Wilson menetapkan Mother’s Day sebagai salah satu hari nasional Amerika.
    Keberhasilan tersebut sangat berarti dalam tiga hal. Pertama perjuangan untuk memerangi tersingkirnya kaum miskin terutama anak-anak dengan dasar kasih ibu dapat berkembang dan direstui pemerintah.
    Kedua, sejak awal abad 20 semua negara-negara bagian Amerika yang sekarang ini berjumlah 50 negara bagian dapat mendengar gaung yang nyaring dari perjuangan tersebut. Dana mengalir, organisasi perempuan makin berkembang, dan agenda perjuangan perempuan di banyak bidang tumbuh secara kreatif. Inovasi berbasis kasih ibu tersebut berbeda dengan gaya kepemimpinan laki-laki.
    Keberhasilan yang ketiga lebih bersifat pribadi. Ana berambisi untuk mengingat dan menghormati ibunya yang sewaktu masih hidup justru tidak akur dengannya. Peneguhan peringatan Mother’s Day yang pertama di Amerika dilakukan di makam ibunya. Ana Jarvis yang tidak bersuami dan tidak mempunyai anak dikenang dan dihargai perjuangannya.
    Jadi tidaklah benar yang ditulis Yeni dan Hary bahwa tradisi Mother’s Day di Amerika Serikat pada mulanya didedikasikan sebagai penghormatan terhadap jasa para ibu dalam merawat anak-anak dan suami serta mengurus rumah tangga.
    Perkembangan perayaan Mother’s Day sekarang arahnya memang lebih untuk memperingati jasa para ibu khususnya dalam lingkungan keluarga. Tidak ada yang salah, asal tetap ingat semangat aslinya dan tetap peka terhadap lingkungan sekitar dengan naluri keibuannya.
    Dalam milenium di awal abad 21 ini, di era kapitalis dengan tingkat konsumerisme yang tinggi, Mother’s Day pernah memecahkan beberapa rekor antara lain: Penggunaan saluran telpon yang paling sibuk selama setahun, paling tinggi penjualan makanan di restoran, juga penjualan kartu ucapan selamat yang sampai lebih dari 90% dari total penjualan per tahun.
    Seandainya arah dari perayaan Hari Ibu menjadi agak komersil mengikuti perkembangan jaman, rasanya juga tidak ada yang salah. Mengingat, menjamu para ibu sehari rasanya masih kurang sebanding dengan jasa-jasa para ibu. Lebih-lebih bagi yang kurang mampu dan kurang beruntung.
    Banyak kawan di Tanah Air yang masih rancu membandingkan antara Hari Ibu dengan Hari Kartini. Nampaknya tokoh-tokoh perempuan Indonesia yang mempelopori lahirnya Hari Ibu kurang dikenal namanya dan kalah populer dengan nama R.A. Kartini (1894 – 1904).
    Peringatan Hari Kartini rasanya lebih meriah dengan pakaian tradisional, lomba masak, dan banyak kegiatan rukun rumah tangga (RT) di lingkungan kampung. Entah saat ini di era reformasi yang sempat tersendat.
    Perjuangan pribadi R.A. Kartini mengetuk hati nurani temannya dari luar negeri Sejak saat itu perjuangan batin dan kultur perempuan Indonesia lebih dikenal di dalam dan luar negeri.
    Ada cerita lucu mengenai kemajemukan bangsa Indonesia pada saat naturalisasi menjadi warga negara Indonesia. Sebelum pemohon naturalisasi disumpah di salah satu kota kecil, dilakukan semacam ujian dengan memperlihatkan foto beberapa pahlawan nasional Indonesia termasuk foto R.A. Kartini. Penguji bertanya: “ Ini foto siapa?” Jawab pemohon: “Nyonya Meneer”, salah satu perintis penjual jamu (1919) dan pemilik pabrik jamu di Jawa Tengah.
    Banyak pahlawan perempuan di Indonesia, termasuk warga keturunan yang lebih dikenal di masyarakat. Perjuangannya tidak dapat dikenang hanya dengan melihat fotonya atau dalam wadah yang formal saja.
    Gerakan perempuan yang berbasis naluri keibuan dapat lebih efisien dan efektif. Salah satu contoh yang tidak dapat dilakukan oleh kaum laki-laki ialah perjuangan Mother Teresa (1910 – 1997) dalam merawat kaum sudra dan orang-orang sekarat di India. Sehingga pantas mendapatkan hadiah Nobel untuk perdamaian pada tahun 1979.
    Perayaan Hari Ibu atau Mother’s Day tidak tepat kalau dikaitkan dengan domestikasi perempuan karena perjuangan tulus kaum ibu memang pantas dihargai. Penghargaannya juga tanpa pamrih dan penuh hormat jauh dari ide domestikasi yang bertujuan untuk mengeksploitasi perempuan.
    Kembali kepada akar sejarah Hari Ibu, hasil Kongres I gabungan ikatan/kumpulan/organisasi perempuan itu yang melahirkan Hari Ibu di Indonesia (22 Desember 1928). Tidak menyebutnya sebagai Hari Sumpah Perempuan, atau Hari Kesatuan Perempuan, atau Hari Kebangkitan Perempuan, tetapi menyebutnya sebagai Hari Ibu.
    Hari Ibu, dua kata yang menyentuh hati tiap orang yang hidup, sebab semua orang punya Ibu. Ibu yang melahirkan kita, yang merawat dan menyayangi. Hubungan kedekatan anak – ibu inilah yang sampai hari ini ikut menyemarakkan tiap-tiap Hari Ibu yang ada di dunia ini.
    Hari Ibu yang diperingati dengan segala corak dan kasih sayang. Baik hanya dengan pelukan mesra, mentraktir makan di restauran kegemaran ibu, menulis surat, memberi kembang kegemaran ibu. Siapa yang dapat membendung berbagai pernyataan kasih ini? Dibalik itu ada berjuta kongres yang baik nama, tanggal maupun agendanya sudah pupus dari ingatan orang.
    Kalau khawatir berbagai peringatan Hari Ibu ini jadi tidak sesuai dengan perjuangan kongres, adalah tugas kaum perempuan Indonesia buat ikut mengisi arah peringatan ini agar tidak menjadi domestikasi perempuan!
    Semoga peringatan Hari Ibu dengan memperhatikan sejarah dan perkembangan jaman dapat dijadikan momentum yang tepat bagi gerakan perempuan Indonesia untuk memperjuangkan hak-haknya.
    Ada banyak inspirasi perempuan yang tidak dapat tertandingi oleh laki-laki. Rasanya justru banyak teman laki-laki yang iri, kapan ada peringatan dengan “wajah” laki-laki. Di luar negeri ada Father’s Day yang baru muncul setelah Mother’s Day. Di tanah Air “Hari Ayah” tidak dikenal.
    Happy Mother’s Day di rantau.

    Bintoro Gunadi pemerhati sosiobiologi dan Leila Ch. Budiman psikolog.

  2. Astri Says:

    Sumber: Kompas, 21 Desember 2004

    Mother’s Day

    Bintoro Gunadi

    SEINGAT saya, Hari Ibu di Tanah Air setiap kali diperingati pada tanggal yang
    sama, yaitu pada 22 Desember. Berbeda dengan di Indonesia, Mother’s Day di
    Amerika Serikat dan Kanada dirayakan dengan meriah pada hari Minggu kedua bulan
    Mei.

    Walaupun Mother’s Day dapat diperingati dalam waktu berbeda, intinya tetap sama,
    untuk menghargai dan memperingati jasa para ibu.

    Di luar negeri ada juga Father’s Day, yang mungkin belum populer di Indonesia,
    diperingati pada hari Minggu ketiga bulan Juni.

    Perusahaan kartu Hallmark pernah mengadakan penelitian pasar untuk merayakan
    milenium tahun 2000. Mereka membandingkan besarnya penjualan kartu ucapan
    selamat antara Mother’s Day dan Father’s Day.

    Hasilnya dapat kita tebak, penjualan kartu Hallmark untuk merayakan Mother’s Day
    lebih banyak dibandingkan dengan penjualan kartu pada Father’s Day.

    Yang mencengangkan, hasil penelitian menunjukkan di beberapa tempat
    rehabilitasi/penjara tidak ada kartu ucapan selamat yang dikirim pada Father’s
    Day, tetapi melimpah pada saat memperingati Mother’s Day. Padahal, kartu-kartu
    tersebut beserta pengirimannya diberikan gratis.

    Gejala apa ini? Tentu saja dari hasil penelitian tersebut tidak dapat
    disimpulkan kaum ayah salah mendidik anaknya sehingga sebagian tersingkir dan
    anak tidak dekat dengan ayahnya.

    Tidak dapat disangkal hubungan ibu-anak relatif lebih dekat daripada hubungan
    ayah-anak. Kita mengenal pepatah “surga ada di telapak kaki ibu”. Peran ibu
    dalam merawat anak umumnya memang jauh lebih sibuk dibandingkan dengan peran
    ayah. Hal ini disadari hampir semua orang dewasa.

    Sampai-sampai teori Charles Darwin (1809-1882) mengenai seleksi alam pernah
    dikritik secara sinis oleh penganut feminisme. Kalau para ibu mempunyai naluri
    (insting) dan sangat sibuk merawat (anak), mengapa sampai sekarang tangannya
    hanya dua dan lagi lebih lemah dibandingkan dengan tangan laki-laki?

    Mengacu pada teori Teilhard de Chardin (1881-1955) mengenai evolusi,
    perkembangan manusia tidak hanya secara fisik/biologis (biosfer), tetapi lebih
    lanjut mencakup perkembangan pemikiran (noosfer). Sebelum kedua tahap tersebut
    berlangsung, ada tahap zoosfer, yaitu adanya loncatan dari naluri alami primitif
    menjadi naluri manusiawi.

    Merawat anak

    Jumlah tangan yang lebih banyak dan ukuran tangan yang lebih kekar bukan faktor
    utama dalam menjelaskan kesibukan kaum ibu dalam merawat anak. Perkembangan
    pemikiran atau naluri “keibuan” untuk merawat generasi baru menjadi lebih
    penting.

    Mengandung dan menyusui merupakan awal dari kedekatan ibu-anak. Menyusui bayi
    mempunyai dampak berkurangnya kalsium pada tulang kaum ibu dan dapat menyebabkan
    keropos tulang di hari tua.

    Bahkan pernah ditulis dalam buku bahwa jangan lupakan ibumu karena setelah
    meninggal tulangnya lebih kusam dibandingkan dengan warna tulang ayah yang lebih
    putih karena kandungan kalsiumnya lebih banyak.

    Tanpa merendahkan peran kaum ayah, pengorbanan dan perjuangan para ibu memang
    perlu dihargai dan dirayakan.

    Di alam ada banyak bukti yang menjelaskan kedekatan hubungan ibu/induk betina
    dengan anaknya. Yang mencolok ialah pada binatang menyusui (mamalia). Kelompok
    binatang ini seperti manusia, induk betinanya menyusui dan merawat anaknya,
    misalnya kelelawar, ikan paus, sapi, kucing, dan kera. Naluri merawat anak lebih
    kuat pada induk betina.

    Pada kelompok burung, walaupun tidak menyusui, hampir semua induk betinanya
    lebih lama mengerami telur sampai menetas dan merawat anaknya.

    Sejenis burung rawa, ketika anaknya yang masih kecil terancam pemangsa, misalnya
    buaya atau elang, induk betinanya menggelepar berpura-pura sekarat untuk
    mengalihkan perhatian pemangsa, membiarkan dirinya diserang sehingga anaknya
    selamat.

    Manusia purba

    Ada misteri menarik mengenai mengapa manusia purba (Homo erectus) di Pulau Jawa
    dapat bertahan lebih lama sekitar 250.000 tahun dari jenis yang sama yang ada di
    tempat lain di Asia atau bertahan lebih lama sekitar 1 juta tahun dari yang ada
    di Afrika.

    Banyak bukti menyatakan pada masa lampau Pulau Jawa yang dikenal dengan nama
    Jawadwipa sangat subur dan strategis letaknya. Selain itu, peran para ibu
    manusia purba pasti sangat besar dalam merawat anaknya sehingga generasi baru
    manusia purba di Pulau Jawa dapat bertahan lebih lama.

    Fosil ibu manusia purba (Australopithecus afarensis) tertua di bumi yang diberi
    nama Lucy berumur sekitar 3 juta tahun ditemukan di Etiopia. Lucy ditemukan pada
    tahun 1974 bersamaan dengan populernya lagu Beatles, Lucy in the Sky with
    Diamonds.

    Berbeda dari fosil-fosil lain, Lucy ditemukan relatif utuh bersama keluarganya,
    sekitar 15 individu, dalam satu lokasi. Sewaktu meninggal, diduga Lucy berumur
    25-30 tahun dan kepalanya cacat akibat pukulan benda tumpul.

    Ilustrasi yang menarik mengenai Lucy ditayangkan dalam DVD berjudul Walking with
    the Cavemen produksi BBC (2003). Naluri keibuan Lucy sangat kuat dalam merawat
    dan usaha menyelamatkan anaknya. Tantangan bagi para ibu modern untuk
    mempertahankan dan mengembangkan naluri keibuan.

    Naluri keibuan

    Hari Ibu bukan berarti “hari gelap” bagi ibu yang ditakdirkan tidak mempunyai
    anak. Naluri untuk merawat dan memelihara tetap merupakan kodrat yang dapat
    disalurkan melalui banyak cara.

    Di negara-negara maju, banyak kaum ibu yang sengaja tidak mau punya anak karena
    khawatir mengganggu karier, alasan kesehatan, atau takut mengandung dan
    melahirkan.

    Lingkungan modern dapat memengaruhi naluri keibuan. Tetapi, naluri tersebut
    tidak mungkin hilang, tetap perlu penyaluran positif.

    Para ibu umumnya mempunyai sifat lebih sabar dibandingkan dengan para ayah. Hal
    ini bukan berarti disalahartikan, misalnya, untuk memanjakan anak sehingga
    menjadi kurang mandiri.

    Kembali kepada simpatisan feminisme. Naluri untuk merawat dan mengatur dengan
    kasih sayang diharapkan dapat meredam konflik dalam manajemen, termasuk dalam
    pemerintahan.

    Dalam pemerintahan yang baru di Indonesia sekarang ini ada empat perempuan
    menteri. Diharapkan situasi yang centang perenang dalam negeri dapat dihindari
    dengan naluri keibuan.

    Mother’s Day Amerika diperingati dengan meriah, semoga demikian juga di Tanah
    Air. Di sana selalu jatuh pada hari Minggu dan bukan merupakan hari libur
    nasional, hal ini tidak mengurangi nilai dari peringatan tersebut. Banyak iklan
    untuk apresiasi cinta ibu, mulai dari pakaian, makanan, sampai barang mewah
    ditayangkan satu bulan sebelumnya.

    Pada hari-H para ibu diharapkan lebih rileks, mengurangi aktivitasnya,
    disanjung, dan dijamu. Salah satu tradisi yang sudah melekat ialah pemberian
    bunga, juga untuk ibu guru. Setiap anak sekolah memilih sekuntum bunga kemudian
    disatukan dan dipersembahkan di depan kelas. Ada bermacam warna, bentuk, dan
    ukuran. Indah dan meriah.

    Mengubah tradisi tidak mudah. Pernah dicoba memberikan bunga liar dari dekat
    sungai atau dari pegunungan, perlu waktu dan energi untuk mencarinya. Atau
    memberi tanaman bunga hidup sehingga diharapkan tahun depan dapat berbunga lagi.
    Tetapi, pilihan tetap lebih banyak pada bunga-bunga potong yang dijual di
    supermarket. Para ibu umumnya lebih praktis dan senang kemapanan.

    Selamat Hari Ibu. Di rantau, dua kali setahun diperingati rasanya masih kurang.
    Salam hormat.

    Bintoro Gunadi Mother Earth Nurture, Worthington, Ohio, Amerika Serikat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: