Membangun Madura atau Membangun di Madura

Oleh: Achmad Faiz

Pembangunan Jembatan Suramadu dan pengembangannya harus bisa membuka lapangan kerja bagi warga Madura. Dengan demikian, kesejahteraan warga pulau ini bisa meningkat.

Meski konsep pembentukan Badan Percepatan Pembangunan dan Pengembangan Wilayah Suramadu belum final, menurut Asisten II Pemerintah Provinsi Jatim Bidang Pembangunan Soetjahjono Soejitno, berbagai reaksi telah bermunculan. Tidak berlebihan jika bupati se- Madura menginginkan agar lembaga ini bisa mengoptimalkan potensi dan sumber daya manusia (SDM) masyarakat Madura sesuai dengan tujuan awal pembangunan jembatan sepanjang 5,4 kilometer itu.

Secara umum tujuan pembangunan Jembatan Suramadu adalah memberikan aksesibilitas agar potensi yang ada di Madura dapat dimanfaatkan secara optimal, menunjang peningkatan sektor-sektor pembangunan lain seperti pariwisata, pertambangan, perikanan dan lain- lain, serta membangun sistem jaringan jalan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura dalam rangka pengembangan wilayah. (Keputusan Presiden Nomor 79 Tahun 2003).

Diharapkan pengembangan jaringan berupa jembatan penghubung ini mampu memberikan pencerahan secara ekonomi bagi masyarakat Madura yang identik dengan ketertinggalan.

Dalam perspektif teori dependensia, relasi Jawa -dalam hal ini Surabaya- dengan Madura mau tidak mau merujuk pada posisi ketergantungan struktural. Kata Suramadu merupakan gabungan dari kata Surabaya dan Madura. Dari perspektif gramatikal kata Suramadu jelas mengandung suatu makna relasional antara subyek dan obyek. Sura(baya) sebagai subyek, sedangkan Madu(ra) sebagai obyek. Surabaya sebagai subyek disadari atau tidak harus ditempatkan sebagai wilayah pusat, sedangkan Madura pada posisi sebagai wilayah pinggiran.

Berbagai kajian terhadap pengalaman di berbagai negara (baik di tingkat global, nasional, regional maupun lokal), hubungan relasional dalam perspektif dependensia selalu menguntungkan pihak pusat. Sebaliknya wilayah pinggiran tidak pernah mengalami kemajuan apa pun.

Ada ungkapan menarik dari Bupati Bangkalan KH Fuad Amin Imron yang diamini oleh Bupati Pamekasan Ahmad Syafi’i. “Hasil proyek Suramadu harus bisa dirasakan seluruh warga Madura. Jangan sampai warga Madura hanya menjadi penonton” (Kompas, 20/11/2006).

Harapan kedua Bupati ini beralasan. Secara ekonomi masyarakat Madura masih tertinggal dibandingkan dengan kabupaten/kota di Jawa Timur. Keadaan tersebut karena infrastruktur pembangunan kurang mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.

Sudah lama masyarakat di Madura diasosiasikan dengan atribut kemiskinan dan ketertinggalan. Hal itu akibat kondisi alam Madura yang gersang dan tandus sehingga daya dukung alam, khususnya sektor pertanian, terhadap penduduk tidak memadai. Tak heran banyak penduduk Madura merantau ke luar untuk mencari sumber-sumber ekonomi.

Data menunjukkan laju pertumbuhan pembangunan Madura lebih lambat dari rata-rata kabupaten lain di Jatim. Nilai pendapatan domestik regional bruto Madura tahun 2002 adalah Rp 8,2 triliun. Padahal, Pulau Madura mempunyai potensi lokal seperti tembakau, garam serta potensi perikanan.

Kehadiran Jembatan Suramadu merupakan hikmah sekaligus merupakan tantangan bagi masyarakat Madura untuk terlibat secara langsung dan aktif pada proses pembangunan Madura pascapembangunan fisik jembatan. Keberhasilan sebuah proses pembangunan adalah adanya swadaya masyakat dalam setiap proses, baik yang dimiliki individu maupun kelompok di masyarakat.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan dalam menyongsong Jembatan Suramadu. Pertama, pembenahan aspek SDM. Pembenahan ini mutlak diperlukan mengingat rendahnya statistik pendidikan di empat kabupaten di Madura. Di Kabupaten Sampang, tahun 2000, lulusan SD yang melanjutkan pendidikan ke SMP hanya sekitar 50 persen. Lulusan SLTP yang melanjutkan ke SMA hanya sekitar 60 persen. Bahkan, tahun 2001 terjadi penurunan angka dari SD ke SMP menjadi 42 persen (Kompas, 24/3/2002). Angka ini mewakili realita rendahnya tingkat pendidikan SDM Madura.

Pembenahan SDM bisa dilakukan dengan membuka dan menambah beberapa sarana dan prasarana pendidikan yang menunjang kebutuhan masyarakat Madura pascapembangunan Suramadu. Madura memiliki ratusan pesantren dengan karakter dan sistem pendidikan yang berbeda. Potensi ini bisa dioptimalkan oleh pemerintah dengan memberlakukan kurikulum tambahan berbasis kemampuan tehnik bagi para santri di pesantren.

Optimalisasi lembaga pendidikan dan perguruan tinggi dan pendidikan nonformal di Madura dengan membuka program studi atau kejuruan yang dibutuhkan diharapkan memberikan kontribusi dalam melahirkan generasi yang siap pakai.

Kedua, pembenahan SDM harus didukung oleh pembenahan aspek sosial budaya. Rendahnya minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi mengakibatkan rendahnya kualitas SDM di Madura. Hal ini dilatarbelakangi ukuran sukses bagi masyarakat Madura adalah memiliki harta yang berlimpah, sedangkan seseorang yang mempunyai tingkat intelektualitas dan tingkat pendidikan yang tinggi tidak dianggap sebagai orang sukses. Paradigma ini perlu diubah lewat pendekatan sosiokultural.

Membangun masyarakat dari wacana berpikir yang statis tradisional menjadi dinamis rasional merupakan proses kegiatan pembangunan masyarakat desa/kota yang memerlukan penyuluhan masyarakat. Bentuknya bervariasi, mulai pendidikan formal dan nonformal, penyuluhan pembangunan, komunikasi pembangunan, pendidikan kesejahteraan keluarga, demokrasi, pendidikan keterampilan, dan lain-lain.

Ketiga, penyiapan infrastruktur pendukung pembangunan. Pembangunan infrastruktur hendaknya tidak berorientasi pada aspek keuntungan belaka, tetapi hendaknya mempertimbangkan pula aspek sosial. Jika para investor hanya berorientasi pada keuntungan, bisa dikatakan pembangunan Jembatan Suramadu bukan untuk membangun masyarakat Madura, tetapi membangun di Madura.

Dalam konteks inilah seluruh pemangku kepentingan di Madura perlu dilibatkan. Terutama para ulama yang merupakan figur sentral dalam masyarakat Madura. Dengan demikian, harapan untuk menyejahterakan masyarakat Madura bisa terwujud nyata. ACHMAD FAIZ Alumnus Pascasarjana Ilmu PSDM Universitas Airlangga

Sumber: Kompas, 13/12/06

Explore posts in the same categories: Artikel, Madura

7 Comments on “Membangun Madura atau Membangun di Madura”

  1. helgeduelbek Says:

    OOT nih tahu gak apa arti kata madura?

  2. si fulan Says:

    Mas,
    Saya sependapat warga Madura jangan jadi penonton, sama dengan di Kaltim pedalaman yang dikeruk kayunya, setelah habis apa yang terjadi?
    Kegundulan hutan, jalan darat beraspal ke pedalaman tak kunjung selesai… dll
    Jangan sampai terjadi di Madura, … megaproyek yang hanya memberi keuntungan sesaat ketika itung-itungan “owner estimate”.
    Juga … para Ulama jangan hanya didatangi kalo Pemilu, Pilkada or Pilpres aja …
    Tapi pihak Pemprov Jatim mau denger ngga? … atau … lebih berpihak ke penjgembang?
    si fulan

  3. nuchan Says:

    kalau emang ntar nasib Madura kaya kutai, aku turut prihatin. tapi apakah itu semua dampak dari pembangunan dari jembatan suramadu?? apakah tidak dipertimbangkan efek positif dari lancarnya arus transportasi dari luar ke pulau madura ??
    masalah kelautan, madura kaya akan SDA. mulai dari garam sampai pada potensi minyak yang diproduksi.sampai-sampai PLTU berbahan bakar batu bara siap dididrikan disana ahkan pelabuhan juga. wah, jadi tambah rame nih madura. congrats ya …………….

  4. chiekha Says:

    pembangunan suramadu bisa di pake sebagai jembatan informasi dan indusrtri di madura yang gersang.penyelesaian konflik yang di timbulkan adalah tanggung jawab bersama(pemerintah dan rakyat,terutama”ULAMA” yang notabene mempunyai pengaruh besar di masyarakt Madura. hendaknya ” Ulama” bisa berfikir lebih terbuka.

  5. ketoles Says:

    perlu kita renungi semua ini dan ari kita cari jalan keluarnya

  6. usi Says:

    kebanggaan muncul pada diri madura bila pulau ini dijadikan sebagai pulau singapura ke-2(dengan kemajuannya)dengan tidak menghilangkan sebagai pulau serambi madinah. inisiatif ini muncul ketika “kacong-kacong” madura merasa sedikit minder akan adanya tantangan yang akan dihadapi madura ke depan. untuk itu, bagi “kacong-kacong” madura untuk tidak berpikiran minder dan ganyang!!!sifat yang akan menjadi tombak kemunduran madura. karena kerja keras madura tentunya itu merupakan hal positif untuk menciptakan daya saing baru.

  7. Ukhti Aini Says:

    Paska Suramadu ini bagaiman caranya masyarakat madura tidak menjadi tamu di daerahnya sendiri.Masyarakat madura harus benar-benar siap dalam menghadapi paska suramadu,salah satu caranya adalah:
    -SDA di madura harus benar-benar di tingkatkan lagi supaya SDM di madura ini bisa dikelola oleh Masyarakat madura sendiri dg artian tidak di kuasai bangsa asing.
    -ajaran-ajaran agama harus lebih ditanamkan lagi pada diri masyarakat madura, supaya masyarakat kita tidak gampang ikut-ikutan pada budaya asing yang negatif.
    mungkin hanya itu komentar dari saya.trm’s


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: