Teknologi dan Kesenangan

Apa berita paling dibicarakan saat ini? Tentunya perihal adegan-adegan intim layaknya suami-istri yang dilakukan Maria Eva (ME) alias Maria Ulfa seorang perempuan berstatus belum menikah dengan anggota DPR yang “terhormat”, Yahya Zaini (YZ) yang notabene adalah ayah dari beberapa anak dan suami dari seorang istri.

ME mengaku bahwa dirinya merekam gambar adegan- adegan mesumnya bersama YZ melalui kamera video di telepon seluler (ponsel)-nya, atas dasar just for fun. Untuk kesenangan! “Saya yang ambil gambar itu. Semua tanpa ada paksaan. Tetapi file dari gambar-gambar itu bukan saya saja yang punya, Pak Yahya juga pegang,” akunya saat menggelar jumpa pers baru-baru ini di kantor Persatuan Artis Sinetron, Jakarta.

Saat itu, dia didampingi kuasa hukumnya, Ruhut Sitompul dan Michael Pardeda. Menurut kuasa hukumnya, aksi kliennya membuat rekaman itu hanyalah untuk senang-senang semata. Karenanya rekaman semacam itu sempat beberapa kali dilakukan. Hanya saja, menurut ME sebagian besar sudah dihapus.

Mengapa kemudian rekaman video itu bisa sampai ke tangan media massa? ME tidak bisa memberi jawaban. “Saya tidak mungkin menyebarkan gambar-gambar itu. Karena saya ini wanita dan hal ini aib. Masa saya mau menghancurkan keluarga saya?” ucap perempuan yang mengaku sudah tidak ingat lagi tempat dan kapan adegan dalam rekaman itu terjadi.

Kasus ME dan YZ, “bermain- main” dan “bersenang-senang” dengan kamera video pada ponsel, bukan yang kali pertama dilakukan para figur publik. Anda masih ingat kasus foto-foto mesum penyanyi Muhammad Hamzah atau yang populer dipanggil B’jah? Juga foto-foto mesra penyanyi Mayang Sari dan pebisnis Bambang Trihatmodjo yang putra mantan presiden Soeharto itu? Juga foto-foto calon bupati dan calon wakil bupati Pekalongan, Jawa Tengah? Semua gambar itu diambil dari fasilitas kamera yang ada pada ponsel.

Apa motivasinya mengabadikan adegan-adegan intim itu? Rata-rata pelaku menyatakan, semua dilakukan atas dasar kesenangan semata tadi. Ironisnya, semangat bersenang-senang tadi, dilakukan oleh para pasangan tersebut di atas, dalam status tidak terikat tali pernikahan. Masalah moralitas, akhirnya menjadi pertanyaan menggelitik yang telontar dari perbuatan bersenang-senang itu tadi.

Sosiolog dari Universitas Indonesia, Imam B Prasodjo, di Jakarta mengatakan, masyarakat memang selalu mengalami perubahan, tetapi di sinilah terlihat apakah perubahan itu bisa diikuti dengan baik atau tidak. “Kasus-kasus yang muncul itu memperlihatkan bahwa masyarakat belum siap dengan perubahan teknologi yang sedemikian pesat. Pola dan gaya hidup masyarakat kemudian mengikuti perkembangan teknologi, tetapi kemudian tidak menyadari sepenuhnya pemanfaatan dan penciptaan teknologi itu,” jelasnya mengomentari kejadian- kejadian tersebut di atas.

Saat ini, perkembangan teknologi yang paling pesat terjadi adalah pada teknologi komunikasi yang terwujud dalam perangkat multimedia. Teknologi komunikasi yang dikemas dalam teknologi informasi ini, menyulap alat berbincang menjadi alat multimedia. Ponsel pun menjadi bisa merekam, bisa memotret dan mentransfer serta menyiarkan gambar.

Motivasi para produsen pem- buat ponsel membenami alat komunikasi ini dengan kamera dan sebagainya, tentunya didasari mengikuti perkembangan teknologi seluler yang memang tumbuh begitu pesat. Keberadaan kamera pada ponsel, atas dasar kepentingan untuk berbagi gambar dan data melalui fasilitas pesan multimedia ataupun koneksi Bluetooth dan infra red. Hal baru inilah yang disikapi berbeda oleh masing-masing pengguna ponsel.

“Di sinilah kemudian seperti timbul kegagapan dalam penggunaan teknologi itu. Hal lain yang juga mempengaruhi gejala ini adalah bahwa kita saat ini sudah menjalani masa globalisasi. Dalam masa globalisasi, kapitalisme lebih memperkuat akarnya. Akhirnya segala sesuatu dapat dijadikan objek yang bisa dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan. Gejala ini pun kemudian berimbas ke masyarakat baik dalam pola pikir, maupun segi kehidupan lainnya,” jelasnya Imam.

Untuk itu ada beberapa hal yang mungkin bisa terjadi, dengan membiarkan apa adanya atau mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi perubahan-perubahan yang akan terjadi.

Kejahatan Cyber

Sebetulnya kasus foto-foto dan adegan-adegan intim itu, bisa tidak menjadi heboh apabila tidak dilakukan oleh mereka yang notabene bisa dikategorikan sebagai figur publik. Hal itu menjadi santapan publik, manakala adegan-adegan dan foto-foto intim para pelaku yang menjadi sorotan masyarakat tersebut, tersebar. Penyebarannya pun sudah ke multimedia. Tidak lagi antarponsel, melainkan melalui internet.

Hal ini memang tidak bisa dimungkiri karena ponsel yang sudah menjadi perangkat multimedia itu pun dengan mudah bisa mentransfer segala apa yang ada di badan ponsel, baik melalui fasilitas pesan multimedia, Bluetooth, infra red maupun kartu memori serta kabel USB yang bisa langsung terkoneksi pada komputer.

Bila sudah terkoneksi pada komputer, maka bisa dipastikan penyebaran pun akan menjadi lebih luas dan mudah. Kasus-kasus seperti itupun bisa terjerat sanksi pidana sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), apabila pihak yang merasa dirugikan, menyatakan penyebaran gambar, foto dan adegan tidak pantas ditonton masyarakat itu, menyatakan sebagai pencemaran nama baik.

“Sebetulnya korban, dalam hal ini yang merasa dirugikan dalam kasus penyebaran foto-foto dan adegan intim yang mestinya untuk konsumsi pribadi itu, bisa mengajukan keberatan atas dasar pencemaran nama baik. Sanksi pidana pun bisa dijatuhkan kepada mereka yang menyebarluaskan foto-foto itu melalui internet maupun mem-forward e-mail yang berisi foto-foto tersebut,” papar AKBP Eddy Hartono SIK dari Unit Teknologi Informasi dan Cyber Crime Dit2 Ekonomi dan Khusus, Bareskrim Mabes Polri, Rabu (6/12), di Bali saat seminar tentang Teknologi dan Cyber Crime yang diadakan Mabes Polri dan Microsoft Indonesia.

Menurut Eddy, Divisi Cyber Crime Unit memang menangani kejahatan komputer dan kejahatan yang berhubungan dengan komputer. Apakah kasus ME, YZ dan berbagai kejadian serupa menjadi penanganan polisi unit tersebut, semua itu tergantung pada korban, merasa menjadi korban kejahatan cyber atau tidak?

Sebab, bila para pelaku mengaku bahwa rekaman foto dan adegan-adegan intim itu direkam atas dasar kesenangan, maka tidak ada yang bisa diseret ke jalur hukum. Namanya juga bersenang-senang. [W-10/K-11/Y-5/N-5]

Sumber: Suara Pembaruan, 10/12/06

Explore posts in the same categories: Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: