Membuat Karya Perempuan Terlihat

Oleh: Ninuk Mardiana Pambudy

Pada 19-26 November 2006 Jakarta dan Bali menjadi tuan rumah kegiatan Konferensi Internasional Ketujuh Women Playwrights International yang diikuti perempuan penulis naskah teater, artis teater, pekerja budaya, dan akademisi dari 20 negara.

Kegiatan tersebut meliputi konferensi, workshop, dan pertunjukan kesenian di Galeri Nasional dan Taman Ismail Marzuki (Jakarta) dengan penutupan di Bali.

Penulis dari Mesir, Nawal el Saadawi, menjadi pembicara kunci pada pembukaan di Galeri Nasional Minggu (20/11) sore ini dilanjutkan penyambutan oleh Gubernur DKI Sutiyoso di Balai Kota sebagai tuan rumah.

Women Playwrights Internasional (WPI) merupakan organisasi perempuan penulis naskah teater dan pekerja seni budaya yang menyelenggarakan konferensi dan pertemuan tiga tahunan bagi anggotanya. Tujuan utamanya memajukan perempuan penulis naskah di seluruh dunia dengan mempromosikan, membantu mengembangkan, dan memperkenalkan karya mereka ke berbagai belahan dunia.

Diselenggarakan pertama kali di Buffalo, New York, Amerika Serikat, pada tahun 1998, konferensi berikutnya diadakan di Toronto, Kanada; Adelaide, Australia; Galway, Irlandia; Athena, Yunani; dan Manila, Filipina.

Ketua Konferensi Ratna Sarumpaet yang menjadi anggota WPI sejak konferensi di Adelaide mengatakan, konferensi diadakan untuk menggalang dukungan di antara para perempuan penulis naskah dan pekerja seni.

“Teater Indonesia sangat maskulin. Pengakuan terhadap perempuan sangat minim dalam penulisan sejarah teater. Padahal, kita punya perempuan penulis naskah dan pekerja seni yang tangguh,” kata Ratna seraya menyebut nama, antara lain Tuti Indra Malaon.

Dia mencontohkan dirinya yang sudah 12 tahun bergelut dalam penulisan naskah dan penyutradaraan teater, tetapi tetap belum diakui. Padahal, kata Ratna, dalam laman (situs) tentang teater modern Indonesia namanya diakui secara internasional.

Gugatan

Gugatan seperti yang diungkapkan Ratna bukan hal baru. Penulis Inggris, Virginia Woolf, dalam bukunya A Room of One’s Own (1929), menyebutkan, “Nilai-nilai maskulin adalah nilai-nilai yang berlaku. Sepak bola dan olahraga adalah ’penting’; pemujaan pada mode, membeli pakaian ’remeh temeh’. Dan nilai-nilai ini tidak dapat dihindari ditransfer dari kehidupan ke dalam fiksi. Para kritikus menyebut buku ini penting karena bertutur tentang perang. Buku itu tidak penting sebab bercerita tentang perasaan perempuan di dalam ruang duduk.Penceritaan tentang ladang peperangan lebih penting daripada penceritaan suasana di dalam toko—di mana-mana dan dengan lebih halus perbedaan nilai-nilai itu bertahan.”

Penyisihan perempuan dari sejarah kesenian dan sastra—meskipun perempuan selalu menjadi bahan cerita yang menarik—itulah yang menyebabkan novelis Perancis, Helene Cixous, mendorong perempuan menuliskan diri mereka dengan memakai bahasa yang tidak dikonstruksi laki-laki, yaitu bahasa yang mendikotomi. Menurut Cixous, penulis perempuan memiliki kemampuan membawa dunia (Barat) keluar dari konsep dikotomi yang menyebabkan berpikir, berbicara, dan bertindak di dalam aturan-aturan ada seseorang yang dominan dan ada orang lain yang submisif.

Nawal el Saadawi sebagai pembicara kunci juga akan membawa isu perempuan penulis di dalam masyarakat yang dikuasai sistem kapitalis dan patriarkhi di tingkat global dan lokal, hambatan sosial, ekonomi, budaya, agama dan seksual yang dihadapi perempuan penulis, dan efek meningkatnya kekuatan kelompok politik keagamaan pada perempuan penulis. Saadawi, yang dua bukunya dilarang terbit di Mesir dan pernah dipenjarakan tahun 1981 oleh pemerintahan Anwar Sadat, akan membagi pengalamannya dalam menulis naskah drama, Isis.

Negara berkembang

Ratna Sarumpaet, Ketua Dewan Kesenian Jakarta 2003-2006, menyebutkan usahanya mengadakan konferensi ini di Indonesia adalah agar suara dari negara berkembang juga didengar. Selama ini, konferensi yang lebih banyak diadakan di negara maju ini memang telah menyuarakan persoalan kemanusiaan. “Tetapi dari sudut pandang mereka. Padahal, yang mengalami masalah lebih banyak ada di negara berkembang di Afrika dan Asia,” ujar Ratna.

Tema konferensi, Cultural Liberty in a Diverse World, dianggap cocok untuk mewakili situasi saat ini, terutama di negara berkembang dan khususnya Indonesia, yang menghadapi masalah di tingkat lokal akibat globalisasi, antara lain menguatnya konservatisme dan fundamentalisme agama.

Ratna juga mengatakan, sebagai ketua konferseni dia ingin membawa WPI menjadi gerakan kebudayaan yang bersuara terhadap kejahatan pada kemanusiaan. “Persoalan kemanusiaan sudah diangkat ke dalam pertunjukan teater, tetapi yang menyaksikan terbatas. Saya berharap WPI dapat menjadi gerakan kebudayaan yang memiliki kekuatan menekan pada masyarakat internasional daripada sekadar konferensi akademis,” kata Ratna.

Para pembicara dalam konferensi di Galeri Nasional adalah Mumbi Kaigwa, artis, penulis dan produser teater, film dan televisi dari Kenya; Noelle Janaczewska, penulis naskah drama, fiksi, dan puisi dari Australia; Sanae Iijima, penulis naskah teater dan film dari Jepang; Eleanor Wong, pengacara yang menulis naskah drama dari Singapura; dan Julie Holledge, penggagas gerakan teater perempuan Inggris dan peneliti seni pertunjukan dari Australia.

Workshop akan diisi pekerja seni dari berbagai negara dan Indonesia, antara lain Nia Dinata, Hanny Herlina, Tizar Purbaya, Wayang Orang Bharata, Sri Sulansih, Putu Wijaya, dan Kartini. Sementara di Galeri Cipta berlangsung pertunjukan teater dan seni pertunjukan.

Kilas Teater

Acara Konferensi Women Playwrights International*

Senin, 20 November
Galeri Nasional, Jalan Merdeka Timur
09.15, Konferensi: IDentity, Community dan The Role of Diversity, Mumbi Kaigwa (Kenya)
13.30, Workshop: sesi drama oleh Juli Janson (Australia), Ann Lee (Malaysia), Suzy Masserole & Meena Natarajam (AS), Sharon Cavangh (Kanada), Hope McIntyre (Kanada), dan Katherine Thompson (Asutralia)
Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki
20.00, Pertunjukan: Abimanyu Gugur (Retno Maruti)

Selasa, 21 November
Galeri Nasional, Jalan Merdeka Timur
09.15, Konferensi: Language, Culture & Structure, Nöelle Janaczewska (Australia)
13.30, Workshop: Nia Dinata (penulisan naskah), Hanny Herlina (topeng cirebon), Tizar Purbaya (wayang golek)
17.00, Pertunjukan: Island Vignettes (Merili Fernandes-Iilagan & Desa Quesada, Filipina)
Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki
20.00, Pertunjukan: Bumi Perempuan (Tya Setyawati, Sumatera Barat)

Rabu, 22 November
Galeri Nasional, Jalan Merdeka Timur
09.15, Konferensi: Dramatic Performance Text, Cultural Context, and Intertextual Practices, Sanae Iijima (Jepang)
13.30, Workshop: Wayang Orang Bharata
17.00, Pertunjukan: Poetic License (Erika Batdorf, Kanada)
Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki
20.00, Pertunjukan: Pelayan-Pelayan-Jean Genet (Yani Mae, Jawa Barat)

Kamis, 23 November
Galeri Nasional, Jalan Merdeka Timur
09.15, Konferensi: Stage, State, and Ideology, Eleanor Wong (Singapura)
13.30, Workshop: Sri Sulansih (wayang kulit), Erika Batdorf (Speaking to The Audience), Putu Wijaya (eksplorasi bahasa tubuh)
17.00, Pertunjukan: Gerhana dan Gerhana (Lena Simanjuntak &Julius Syaranamual, Jawa Timur)

Jumat, 24 November
Galeri Nasional, Jalan Merdeka Timur
09.15, Konferensi: Freedom, Human Rights, and Power, Julie Holledge (Australia)
13.30, Workshop: Alison Lyssa (penulisan naskah, Australia), Ines Sommellera & Hartati (yoga/pencak silat, Meksiko/Indonesia), Kartini (topeng betawi)
17.00, Pertunjukan: Home Again (Lisa Baker, AS)
Graha Bhakti Budaya, TIM
20.00, Pertunjukan: Pelacur dan Sang Presiden (Ratna Sarumpaet, Indonesia)

Sumber: Kompas, 19/11/06

Explore posts in the same categories: Teater

3 Comments on “Membuat Karya Perempuan Terlihat”

  1. Dino Says:

    Wah pas aku di jakarta nih, bisa nonton. Kalo bosen ya nonton di 21-nya aja hehehehe

  2. pincuksullay Says:

    kegahirahan perempuan untuk berkarya masih di kekenag oleh berbagai doktrin, tatanan yang berlaku di masyarakat

  3. mita Says:

    Salam,

    Swargaloka Art Department mengharapkan kehadiran Ibu dan Bapak sekalian untuk menyaksikan :

    Acara : Pagelaran Drama Wayang Orang berbahasa Indonesia dengan lakon : “Rahwana Lahir”
    (Sutradara : Dra. Dewi Sulastri, Pemain : Teguh Kenthus Ampiranto, Nanang Ruswandi, Ali Marsudi SSn, Agus Prasetyo SSn)

    Hari / tanggal : Minggu, 13 Juli 2008

    Waktu : 15.00 – 17.30 WIB

    Tempat : Gedung Pewayangan Kautaman Taman Mini Indonesia Indah

    Harga Tiket Rp.100.000,- , Rp.150.000,- dan Rp. 250.000,- (VIP)

    untuk reservasi dapat menghubungi Mita di 0816 1172236 atau email : mita@andhika.co.id atau YM :loveu24everdear@yahoo.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: