Carok, Konflik Kekerasan dan Harga Diri Manusia

Kategori: Buku Referensi
Penulis: Dr A Latief Wiyata
Pengantar: Dr Huub de Jonge
Penerbit: LKiS Yogyakarta, Maret 2002, xxi + 278 halaman

Memahami Carok Secara Komprehensif

APA itu carok? Banyak orang mengartikan, setiap bentuk kekerasan, baik berakhir dengan kematian atau tidak, terutama yang dilakukan orang Madura, itu carok. Padahal, menurut Dr A Latief Wiyata, kenyataannya tidaklah demikian. Kata carok sering kita dengar, tetapi sebelum ada penelitian yang dilakukan, kita tak pernah memperoleh penjelasan. Hanya, carok selalu dilakukan oleh sesama lelaki dalam lingkungan orang-orang desa. Setiap kali terjadi carok, orang membicarakan siapa menang dan siapa kalah.

Buku ini, tentunya sangat berguna bagi pemahaman kita mengenai carok. penelitian tentang carok sebagai bahan disertasi, barangkali baru dikerjakan Latief ini. Studi-studi sebelumnya, hampir berupa pengamatan, penelitian, atau studi-studi kecil saja. Sehingga pemahaman mengenai carok, belum memadahi. Melalui penelitian Latief Wiyata ini (dari disertasi menjadi buku) kiranya akan memberi pemahaman mendalam dan komprehensif tentang carok.

Dalam penelitian itu, ternyata carok tidak merujuk pada semua bentuk kekerasan yang terjadi atau dilakukan masyarakat Madura, sebagaimana selama ini orang di luar Madura menganggap. Melainkan, suatu institusionalisasi kekerasan yang berkaitan erat dengan struktur budaya, sosial, kondisi sosial ekonomi, agama dan pendidikan. Secara historis, carok sudah dikenal masyarakat Madura sejak berabad lalu.

Carok, dalam hal itu seakan satu-satunya perbuatan yang harus dilakukan. Para pelaku carok seakan tak mampu mencari dan memilih opsi lain dalam upaya menemukan solusi ketika mereka sedang mengalami konflik. Mengapa harus carok? Sebab, dianggap lebih memenuhi rasa keadilan. Carok, juga merupakan kekurangmampuan para pelaku carok mengekspresikan budi bahasa karena lebih mengedepankan perilaku-perilaku agresif secara fisik untuk membunuh orang-orang yang dianggap musuh. Sehingga, konflik yang berpangkal pada pelecehan harga diri tidak akan pernah mencapai rekonsiliasi.

Carok selalu dilakukan sebagai tindakan pembalasan terhadap orang yang melakukan pelecehan harga diri, terutama gangguan terhadap istri sehingga menyebabkan malu. Dalam konteks itu, carok mengindikasikan monopoli kekuasaan suami terhadap istri. Monopoli ini ditafsirkan Wiyata antara lain dengan ditandai adanya perlindungan secara over.

Membaca buku ini, kiranya akan memperoleh informasi jelas apa itu carok. Lebih-lebih penelitian ini dilakukan sendiri oleh putra Madura. Di tengah munculnya banyak kekerasan, mengerling carok tentu bukan untuk masuk ke dalam kekerasan itu sendiri. Menurut Huub de Jongen, jatuhnya rezim Orde Baru sekaligus meruntuhkan tesis mengenai kesatuan dan persatuan serta kerukunan di masyarakat Indonesia. Studi kekerasan pun kian banyak dilakukan orang. Termasuk penelitian mengenai carok ini, yang selalu dilakukan sebagai tindakan pembalasan terhadap orang yang melecehkan harga diri, yang menyebabkan orang Madura merasa malu.

Selama tidak ada tindakan pelecehan harga diri yang membuat orang Madura malu, tentunya tidak akan terjadi carok. Carok, dalam buku ini, kiranya sangat bermanfaat sebagai studi dan pemahaman kita mengenai bentuk-bentuk kekerasan. (Arwan Tuti Artha)

Sumber: Minggu Pagi, 23/03/02

Explore posts in the same categories: Buku, Madura

4 Comments on “Carok, Konflik Kekerasan dan Harga Diri Manusia”


  1. carok

    Untuk mengenal diri sendiri, kadang kita harus membaca tentang kita dari orang lain
    Pada suatu petang menjelang matahari terbenam, tepatnya sekitar pukul 17.30 WIB hari Kamis, ketika orang-orang di Desa Rombut sedang menunggu saat berbuka puasa, terjadila

  2. Wawan Says:

    Orang Madura dikenal sebagai penganut tradisi keagamaan (Islam) yang kuat (=fanatik). Sehingga dapat dikatakan bahwa tradisi masyarakat Madura identik dengan tradisi Islam. Internalisasi nilai-nilai identitas budaya (=apa budaya asli masyarakat Madura? Islam?) pada masyarakat Madura, mungkinkah muncul dalam (salah satunya) ekspresi ‘carok’? Bagaimana pandangan orang Madura terhadap nilai budaya lokal (=ajaran Islam) mengenai konsep tentang “dosa” dalam “penghilangan jiwa orang” dalam carok? Atau, carok identik dengan atau salah satunya memuat unsur apa yang dalam Islam disebut ‘qishos’? Sejak kapan ‘carok’ ini dimulai dikenal dan diamalkan oleh orang Madura?

  3. keistiyanto Says:

    madura = madunya orang

  4. keistiyanto Says:

    carok aduh mendengarnya saja jadi merinding carok menurutku adalah ekspresi diri untuk menunjukkan pribadi dan golongan dalam menjaga martabat dan harga diri


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: