Bahasa Agama Harus Bahasa Arab

Oleh: ANDRÉ MÖLLER

Ada ikatan di antara bahasa Arab dan agama Islam yang tak dapat disangkal. Di dalam Alquran sendiri berulang kali dijelaskan bahwa kitab suci ini diwahyukan dalam bahasa Arab supaya umat Islam dapat memahaminya dengan jelas (lihat misalnya Surat 43 ayat 2 dan Surat 12 ayat 2). Supaya kejelasan wahyu Ilahi ini tidak menjadi kabur, maka bahasa Arab juga sudah dijadikan sebagai bahasa ibadah (dengan beberapa perkecualian) dalam agama Islam. Dengan demikian, pembacaan ayat-ayat suci sewaktu salat dilafalkan dengan bahasa Arab (walau KH M Yusman Roy memiliki agenda lain beberapa bulan yang lalu), dan begitu pula dengan doa-doa yang dibacakan imam di masjid setelah salat.

Namun, khotbah Jumatan zaman kini umumnya disampaikan dengan bahasa Indonesia, meskipun belum lama bahasa Arab jadi bahasa utama untuk hal ini, dan pengajian Alquran dalam bahasa Arab tidak jarang diikuti oleh pengartian dalam bahasa Indonesia. Jadi, dalam hal ibadah pun tidak selalu bahasa yang dipakai harus bahasa Arab.

Nah, menjelang bulan Ramadan istilah-isilah berbahasa Arab semakin kerap dipakai dan perubahan ini terutama dapat dilihat di luar bidang ibadah praktis. Di mana-mana bahasa niribadah dibanjiri oleh bahasa Arab dan cukup sering, ormas Islamlah yang berdiri di baris terdepan dengan istilah-istilah ini. Mereka mengadakan sidang itsbat, membahas rukyatul hilal, hisab dan ijtima, dan ber-marhaban yaa ramadhan ria. Ini tentu saja ormas-ormas yang juga memiliki rais aam, lajnah tanfidziyah dan dewan syuro, dan mengadakan bahtsul masail dan lain-lain.

Pemakaian bahasa seperti ini yang bahasa Arabnya kental mungkin tidak apa-apa dalam rapat tertutup atau di antara para ulama yang sudah kenal baik dengan istilah-istilah ini. Namun, kalau ormas-ormas Islam di Indonesia punya harapan untuk tetap memiliki hubungan dengan rakyat biasa, dan saya yakin halnya begitu, saya kira arif jika istilah-istilah ini diganti atau diindonesiakan.

Membahas perbedaan di antara rukyatul hilal dan hisab dengan orang-orang biasa di Indonesia, misalnya saya menyadari, mereka sering mencampuradukkan kedua istilah ini, dan merasa tidak yakin ormas mana yang dukung gagasan yang mana. Mungkin lebih jelas kalau istilah seperti ”melihat bulan” dan ”menghitung posisi bulan” dipakai. Bahasa agama yang dikuasai bahasa asing (Arab) sering nggak nyambung dengan bahasa rakyat. Dan ini tentu pertentangan yang mendasar: ormas-ormas yang mewakili jutaan orang di Indonesia pakai bahasa yang kadang-kadang tidak dapat dipahami para anggotanya.

Akan tetapi, jika para ulama dan orang-orang terdidik tidak mau mengganti istilah-istilah ini dan terus mengotot pakai bahasa psuedo-Arab, maka tetap ada jalan lain. Jalan itu memang mustaqim dan hanya memerlukan sifat ngotot dan sedikit waktu saja. Karena kalau istilah-istilah ini disampaikan kepada telinga-telinga yang pada awalnya tidak memahaminya, maka akhirnya mereka pun akan sadar akan pengertiannya, atau setidaknya kira-kira begitu.

Tentu saja, begitu halnya dengan sejumlah istilah yang berasal dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia, seperti salat, wudlu, jilbab dan masjid. Bedanya, istilah-istilah ini diperkenalkan karena tak ada bandingan yang tepat dalam bahasa-bahasa Nusantara pada waktu itu. Zaman kini sering ada. Dalam berbahasa agama, mungkin para ulama akan dibantu oleh kata-kata KH Zainuddin MZ yang beliau sampaikan dalam salah satu khotbahnya beberapa tahun yang lalu (berhubungan dengan tema lain): ”Perbaiki yang kurang, dan kurangi yang memang berlebihan”.

Kalau bahasa ibadah dalam beberapa instansi tetap harus bahasa Arab, maka itu tidak berarti bahasa sehari-hari juga harus dibumbui bahasa Arab agar terasa lebih dini. Selain mungkin tak dipahami orang biasa, dapat juga menyebabkan kekeliruan, seperti baru saja ketika kata dini seharusnya dipahami sebagai ”religius” dan tidak ada kaitannya dengan kata dini dalam bahasa Indonesia.

André Möller, Pemerhati Bahasa, Tinggal di Swedia

Sumber: Kompas, 29/09/06

Explore posts in the same categories: Artikel, Panepen

2 Comments on “Bahasa Agama Harus Bahasa Arab”

  1. dhitos Says:

    Bahasa ibadah dengan bahasa Arab itu harus, tapi ‘afdolnya’ dimengerti dulu. Tapi kalo bahasa sehari-hari di-arab-arabkan ya pasti banyak klirunya, karena yang seperti itu lebih cocok untuk masyarakat Arab yg bahasa ibunya memang Arab. Karena pasti ada istilah2 yang tidak pas diterjemahkan dan bisa beda maksudnya. Jangankan bhs Arab, bahasa jawa saja kalo di Indonesiakan juga gak pas gregetnya. Kayaknya buat identitas doang – yang penting kan bisa dimengerti !!

  2. tulus Says:

    Hmm… saya agak risih dengan kata “ibadah” yang diartikan sempit. Dalam pandangan saya, ibadah merupakan peng-abdi-an seorang abdi kepada yang diabdi (akar kata ibadah yang saya tahu adalah abid, yang artinya hamba). Dalam hal pemahama pengabdian, penghambaan, rasanya tidak bisa seseorang meninggalkannya barang sepersekian detikpun. Dalam kehidupannya, setiap manusia selalu beribadah, selalu menghamba dan mengabdi kepada tuhan yang telah menghidupi jasad yang semestinya mati ini. Kalau tidak lantaran hidup yang di ditiupkan ke dalam jasad setiap saat, maka tidak mungkin jasad manusia terhidupi. Kalau memang ada saatnya manusia tidak beribadah, cobalah untuk menahan napas barang 10 menit dan rasakan. Apakah kita bisa menahan desakan untuk kemudian bernapas kembali ?

    Jadi, secara sukarela atau terpaksa, setiap mahluk selalu beribadah kepada tuhan, kepada khaliqnya. Semua apa yang dilakukan manusia adalah bentuk dari ibadah itu sendiri. Coba pahami lagi makna “tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku”. Jadi, sebenarnya pertanyaan malaikat “mengapa hendak kau jadikan manusia yang gemar merusak sebagai khalifah ?” sudah terjawab. Walau tuhan menyatakan “aku tahu yang engkau tidak tahu”, tapi jelas sudah bahwa memang setiap saat kita beribadah. Tinggal kita sadar atau tidak bahwa sebenarnya tuhanlah yang menghendaki ini semua terjadi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: