Era 3G, Kaya Layanan, Membuka Peluang

Cara bertelekomunikasi kini melibatkan mata. Ibarat bertemu muka saja. Banyak hal yang disuguhkan pada era 3G, termasuk peluang berpenghasilan.

Third generation alias 3G (baca: triji) mengemuka sekitar dua tahun lalu. Ketika itu orang begitu terkesima karena dengan 3G cara menelepon tidak lagi hanya menggunakan mulut dan telinga. Mata pun boleh ikut dan berkomunikasi. Kira-kira seperti bertatap muka saja. Hal ini mengingatkan kita pada cerita komunikasi galaksi ala film Star Trek, di mana tampang kawan bicara terlihat di layar monitor alat komunikasi yang seperti sebuah jam tangan.

Layanan ini kerap disebut sebagai video call atau telepon video (video telephony), bertelepon dengan video yang menampilkan profil masing-masing pelaku secara realtime. Asal tahu saja, aplikasi ini sebelumnya tidak pernah dapat dilakukan di era 2G atau 2,5 G.

Maka, tak heran bila video call menjadi seperti fitur paling favorit, yang seolah membukakan mata bahwa ponsel pun bakal menggabungkan antara fungsi telepon dan webcam (dengan koneksi komputer tentunya). Fungsi telepon untuk berkomunikasi suara, sementara fungsi webcam untuk menampilkan video lawan bicara.

Itulah sebuah layanan yang memang memungkinkan dapat dilakukan di era 3G. Era merupakan evolusi dari perkembangan generasi telekomunikasi akibat kebutuhan orang untuk memanfaatkan semaksimal mungkin komunikasi seluler. Dengan basis penggunaan gelombang radio (atau nirkabel), bidang telekomunikasi memang bisa lebih berkembang ketimbang kabel konvensional, bahkan yang menggunakan serat optik sekalipun.

Pada saat era 2,5 G (generasi dua setengah), kita mungkin pernah melakukan apa yang disebut dengan chatting. Mengobrol via dunia maya ini tak membutuhkan kecepatan dan pembawa data yang besar. Akses ke penyedia jasa layanan internet yang menyediakan fasilitas chat pun tak tinggi, maka dengan mengaktifkan GPRS sudah bisa mengusung data pulang-pergi. Untuk chat membutuhkan akses berkecepatan 20-30 kbps (kilobit per second). Sedikit lebih tinggi dari data berupa suara, yaitu sebesar 10 kbps. GPRS sendiri secara teori mampu mewadahi hingga 144 kbps, tetapi faktanya paling hanya separuhnya.

Ternyata skema komunikasi seperti ini kurang seru. Kita tak bisa bertatap muka. Padahal, betapa serunya jika bisa dilakukan. Nah, siapa tahu ketika rindu pacar, komunikasi temu wajah jauh lebih menyenangkan biarpun ia sedang nun jauh di sana.

Maka, skemanya harus berubah. Konsekuensinya dibutuhkan akses kecepatan yang mampu mengangkut data jauh lebih cepat agar video pun dapat terkirim.

Uji laik operasi

Sekarang kita tahu bahwa 3G sebenarnya merupakan generasi pembaruan dengan ciri kecepatan pengusung datanya jauh lebih kilat. Perbandingannya, jika era 2,5 G maksimal hanya sampai 144 kbps, 3G mampu mencapai kecepatan lebih karena mengenakan bandwidth 144 kbps hingga 2 mbps.

Sebuah kegiatan telepon video, seperti yang diulas tadi, sebenarnya hanya dengan sekitar 128 kbps sudah dapat dilakukan. Namun, tentu hasilnya kurang optimal. Dengan evolusi jaringan yang berkecepatan tinggi akan memaksimalkan proses transfer data, berupa video dan audio. Artinya, telepon video atau komunikasi tatap muka jadi lebih lancar.

Uji coba 3G di Indonesia sendiri sudah dilakukan. Dua operator besar di Tanah Air, Excelcomindo dan Telkomsel, sudah menjajalnya. Excelcomindo bahkan telah mengantongi sertifikasi uji laik operasi (ULO), yang artinya sudah siap beroperasi menyediakan layanan era baru ini. Namun, ULO-nya baru untuk kawasan Jabotabek. Beberapa kota besar di Indonesia dan tak kurang dari lima negara bakal menyusul. Excelcomindo juga telah menyiapkan sebanyak 284 Node B (istilah BTS untuk 3G) di Jakarta dan sekitarnya saja. Setiap operator yang hendak memberi layanan ini harus lolos tes yang diundangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi di Indonesia.

Peluang besar

Sekarang, dengan bekal seperti ini, apakah hanya telepon video yang dapat dilakukan?

Tentu saja tidak. Lebih banyak hal lagi yang dapat dilakukan, misalnya saja konektivitas ke dunia maya akan jauh lebih cepat. Bayangkan, sekarang jika konektivitasnya mampu mencapai 384 kbps, ini sudah setara dengan akses via kabel. Katakan sebuah web page memiliki besar data sekitar 500 kb, maka dalam tempo tidak sampai tiga detik web page tersebut sudah terbuka di layar ponsel. Singkatnya, proses download ini akan mempersingkat penggunaan jaringan, dengan kata lain sebenarnya mengirit pula ongkos air time.

Fasilitas penting lain yang akan menggembirakan kita adalah download data dan aplikasi. Dulu, betapa susah untuk membeli lagu. Kalaupun ada biasanya secara over the air. Namun, sekarang, download lagu, wallpaper, game, atau video yang biasanya setiap item memiliki data yang besar (sebuah lagu bahkan bisa mencapai 4-5 kb) akan mudah dilakukan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Motorola di Eropa menyebutkan, ketika 3G sudah dapat digunakan, layanan download musik menjadi lebih laku, bahkan naik 12 kali lipat ketimbang video.

Jika seperti itu faktanya, hal ini juga membuka peluang buat kita yang suka membuat lagu untuk lebih aktif menjual lagu secara digital. Bahkan, tidak menutup kemungkinan menjadi content provider yang khusus menjual lagu-lagu indie, misalnya. Penggemar dan komunitas desain pun dapat memanfaatkan karyanya untuk dijual secara on-line via seluler.

Peluang hadirnya 3G kemudian ditangkap oleh sejumlah stasiun televisi untuk menjajakan fasilitas streaming video berupa berita, informasi olahraga, laporan jalan raya, dan hiburan tentu saja. Konsep dan skema seperti ini sebenarnya juga bisa dilakukan untuk menghadirkan layanan jual film. Setiap pembeli harus memesan dari daftar yang disediakan.

Kemampuan membawa data berupa video membuka kesempatan untuk melakukan konferensi video secara bersama-sama dua atau lebih peserta. Apa untungnya video conferencing ini?

Tentu saja akan membuat banyak hal lebih efektif, karena tak memakan waktu untuk saling bertemu saat hendak rapat umpamanya. Di mana pun para peserta berada, mereka dapat membicarakan satu persoalan dan tuntas tanpa harus mencari meeting point. Semuanya dilakukan secara realtime.

Proses pengiriman pesan yang memuat paket multimedia berisi lagu, video, atau foto pun menjadi lebih mudah tanpa hambatan dan limitasi file. Pembatasan file terjadi di era sebelumnya. Sekarang jika kita mau mengirimkan video film pendek hasil karya sendiri untuk dipamerkan ke teman-teman bakal lebih cepat terkirim.

Peluang lain yang amat penting khususnya bagi kita yang tinggal di Jakarta yang serba macet adalah informasi lalu lintas dan kondisi jalanan Ibu Kota. Di sini, pelanggan juga diberikan peta yang dilengkapi arah dan arus lalu lintas, jalur tikus, juga informasi darurat jika terjadi kemacetan.

Soal biaya

Teknologi 3G bakal diawali pada awal Oktober 2006. Pelanggan XL dan Telkomsel boleh bersiap menjajal karena memang baru Excelcomindo dan Telkomsel yang sudah siap jalan. Nah, pertanyaan berikutnya, kira-kira berapa biaya yang akan dikenai kepada pengguna?

Ada dua rate yang bisa dijadikan skenario. Pertama, volume base rate yang menghitung penggunaan berdasarkan besarnya data dikalikan dengan base rate. Umpamanya, 1 kb data dihargai Rp 0,5, untuk sebuah data yang di-download sebesar 100 kb, maka pengguna harus membayar Rp 500. Kedua, memakai time base rate. Cara ini menggunakan patokan waktu. Misalnya, selama satu jam menggunakan layanan 3G dikenai biaya Rp 1.200. Terserah pengguna akan dipakai untuk video call, streaming video, download lagu, atau apa pun.

Entah skenario apa yang hendak dipakai. Agaknya kemungkinan time base rate-lah yang digunakan. Ini lebih menguntungkan pengguna yang ingin men-download hingga bermega bit. Namun, dengan catatan jaminan kecepatan datanya tidak sering mengadat. Excelcomindo malah sudah menjanjikan sebuah bandwidth yang lebih besar hingga 2,5 mb. Ini merupakan evolusi lanjutan dari 3G itu sendiri atau dijuluki HSDPA (High Speed Downlink Packet Access). Ah, luar biasa.

ANDRA NURYADI, Tim Muda

Sumber: Kompas, 21/09/06

Explore posts in the same categories: Artikel, Iptek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: