70 Tahun Franz Magnis-Suseno

Esai-esai Filsafat untuk Sang Guru

Jakarta, Kompas – Duabelas orang murid filsuf dan ilmuwan Dr Franz Magnis-Suseno (70), menghormati dan memperingati hari ulang tahun guru filsafat itu dengan cara meluncurkan buku Sesudah Filsafat: Esai-esai untuk Franz Magnis-Suseno, Kamis (21/9) malam, di Gedung Goethe House di Jakarta.

Nyaris semua ahli pikir dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta—tempat Magnis mengajar selama 25 tahun hingga kini—hadir. Karena itu, perhelatan berlangsung khidmat dan hadirin tenggelam dalam renungan filsafati. Namun pada bagian lain suasana berubah dalam gelak tawa saat Slamet Gundono dan teman-temannya dari Solo mementaskan wayang rumput (suket) lakon Banjaran Karna.

Tokoh Karna, yang bernama lengkap Karna ”Basuseno” Suryoseputro itulah yang dikagumi Franz von Magnis (kelahiran Jerman), dan dari sana pula nama Indonesia Magnis diperolehnya: Franz Magnis-Suseno.

Rohaniwan Katolik ini sebenarnya berulang tahun ke-70 pada tanggal 26 Mei 2006 lalu, tetapi perhelatannya dirayakan dengan peluncuran buku dan pergelaran wayang (filsafat Jawa) yang amat dicintai Magnis. Ke-12 murid yang menulis bunga rampai filsafat terbitan Penerbit Kanisius itu adalah GP Sindhunata, I Wibowo, Herry Priyono, A Sudiardja, G Budi Subanar, Robert H Imam, Baskara T Wardaya, F Budi Hardiman, Eddy Kristiyanto, Hartono Budi, Hary Susanto, dan Simon-Petrus L Tjahyadi.

Dr Karlina Supeli, dosen STF Driyarkara yang secara khusus mengulas buku tersebut saat peluncuran mengemukakan, dari 12 esai yang ada hanya sebagian yang berisi uraian filsafat murni. Selebihnya khas pendekatan ilmu-ilmu, teologi, dan spiritualitas biografis.

Daya batin senyap

Khususnya esai spiritualitas biografis Sindhunata yang menerangkan ”sejarah” nama Suseno sebagai pijakan untuk menyimak spiritualitas yang melatarbelakangi hidup Magnis, oleh Karlina dinilai sebagai esai yang merangkum seluruh isi buku.

”Setelah selesai membaca semua esai, dan kembali lagi ke esai pertama, barulah potongan-potongan puzzle yang terserak memperlihatkan ’kemiripan suasana’,” kata Karlina.

”Baru lima tahun terakhir saya bergabung penuh dengan STF Driyarkara. Ketika masih menjadi orang luar, saya mengamati dengan tekun. Ada ’sesuatu’ dalam tradisi berfilsafat yang khas di sana. ’Sesuatu’ itu adalah laku sekawanan daya batin yang senyap yang ketika diangkat ke aras akademik, mekar melepas batas-batas spiritual sempit. Sebuah tradisi sepi, dan karena itu, kalau orang bersedia tetap setia kepadanya, mungkin tidak menarik bagi orang yang ingin jadi selebriti,” kata Karlina.

Adakah dunia akademik itu kering sebagaimana anggapan selama ini? Menurut Karlina tidak kering, jika kita melekatkannya dengan beban dunia. ”Artinya tradisi akademik menuntut sekaligus ketajaman intelektual, keterlibatan dengan dunia, dan kepekaan afeksi. Keterlibatan dan afeksi ternyata tidak mengurangi keketatan berpikir.”

Karlina menegaskan, itulah sebenarnya tantangan bagi kita semua, jika kita masih bersedia mencari sumber gejala di belakang hiruk-pikuk dunia. Jika kita masih setia merasakan daya yang mendesak-desak di dalam diri untuk melampaui ketidaklengkapan diri. ”Itu pula sebenarnya tantangan bagi pemikir muda akademik selanjutnya. Ia tetap berjaga ketika dunia terlelap, dan bersiaga sebelum dunia terjaga.”

Sedangkan Dr Marla Stukenberg, Direktur Program Budaya Goethe-Institut Jakarta mengemukakan, figur wayang Jawa yang digambarkan secara tajam sering menjadi pokok rujukan jika Magnis-Suseno mengemukakan tema-tema keadilan sosial, gagasan toleransi dalam hidup beragama, dan mengenai aliran filsafat politik.

Magnis-Suseno, menurut Stukenberg, membuat relasi antara tokoh pemikiran dan filsafat serta weltanschauung Barat dan tokoh wayang. Sehingga tercipta kemungkinan dialog antara filsafat Barat dan etika Jawa.

Tragedi

Franz Magnis-Suseno sendiri pada bagian akhir sambutannya, secara khusus mengingatkan tentang kondisi negeri ini dan suasana masyarakat yang kacau, dengan menyebut situasi kita masih dalam tragedi. ”Indonesia tidak lain dari sebagian negara yang tidak mengalami garis lurus.”

Itu sebabnya, salah satu fungsi filsafat menurut Magnis-Suseno untuk membukakan hati nurani supaya belajar betul-betul menghargai nyawa orang, dan keinginan orang untuk mencapai sedikit ketenteraman, keamanan, serta pengakuan.

Pencapaian Slamet Gundono, malam itu, mirip dengan sublimnya lakon Aswatama beberapa tahun silam. Gundono tak sebatas membanyol. Ia memeras pikiran untuk mempersembahkan temuannya, tragedi Karna. Seperti dalam Aswatama, dialektika Karna menyakitkan batin. (HRD)

Sumber: Kompas, 23/09/06

Explore posts in the same categories: Berita, Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: