Yuniar Dwi Setiawati: Pelukis Cilik dengan Segudang Prestasi

SETAHUN mampu raih dua prestasi tingkat Jatim. Usianya masih 11 tahun. Namun, soal prestasi di dunia seni lukis jangan ditanya. Demikian Yuniar Dwi Setiawati, pelukis cilik yang memiliki talenta lukis. bagaimana caranya?

Penampilannya sangat sederhana dan terlihat mengumbar senyum. Itulah sosok Yuniar Dwi Setiawati, seorang gadis belia yang memiliki segudang prestasi di dunia lukis.

Ditemui dirumahnya di kompleks perumahan guru SDN Kemayoran 1 Kota Bangkalan, dara yang akrab disapa Yuni ini begitu polos dan lugu. Ya, tentu sepolos dan selugu coretan-coretan tangannya di atas kanvas putih yang selama ini mampu membuatnya meraih prestasi membanggakan kedua orang tua dan sekolah serta daerahnya itu.

Setidaknya, sejak tahun 2004 lalu, hingga saat ini sudah sekitar 18 tropi dan penghargaan yang diraih dara yang kini duduk di SD kelas VI SDN Kemayoran ini, mulai dari prestasi juara I hingga kedua.

Meski cukup banyak prestasinya, namun tidak banyak hasil lukisan keberhasilannya itu ada di rumahnya. Di sudut dinding ruang tamu rumahnya yang bercat merah jambu itu hanya terlihat lima lukisan yang kebanyakan dari kemenangan di tingkat kabupaten dan kecamatan.

Sedangkan untuk kemenangan di tingkat Jawa Timur seperti pada lomba peningkatan mutu pendidikan tahun 2006 dan lomba Pekan Seni Pelajar yang berakhir dalam sebulan ini berada di pemkab dan sekolahnya.

Dalam membeikan bimbingan terhadap anak keduanya ini, Pristiono baru tahu kala Yuniar menginjak usia 7 tahun. Waktu itu, ia iseng-iseng anaknya ikut sebuah lomba lukis yang diselenggerakan sebuah toko minimarket. Hasilnya, Yuniar meraih juara I. Dari lomba itu, ayahnya pun melihat bakat si anak yang kemudian diikutkan pada sebuah sanggar seni rupa pimpinan Chairul Anwar di Bangkalan.

Tujuannya, agar si anak lebih mengerti corak dan model lukisan serta teknik lukisan yang baik dan terarah. “Saya sendiri heran anak saya ternyata memiliki bakat lukis yang menarik ini,” tutur Pristiono yang mengaku gemar bermain musik ini.

Hasilnya, dalam dua tahun Yuniar pun berkali-kali mampu mempersembahkan prestasinya. Menariknya, dalam setiap keikutsertaan anaknya di beberapa even, Pristiono mengaku cukup senang meski harus mengeluarkan kocek sendiri kendati atas nama sekolah anaknya. Dan adang memang dibiayai oleh Dinas untuk akomodasinya bila berlomba diluar kota.

“Ya ini kan aset daerah, sebagai orang tua kami ingin adanya perhatian dari elemen terkait, syukur-syukur ada sebuah paguyuban yang dibina instansi terkait untuk pengadaan sarana dan prasarananya, sehingga ke depan anak-anak akan lebih bersemangat untuk berkarya bagi daerahnya,” kata Pristiono.

Bila diamati, lukisan Yuniar memang cukup menarik. Sebab, dalam melakukan ekspresinya, Yuniar mengaku spontan. Dan dari sekian lukisan yang dibuatnya hampir semua yang masuk di kanvasnya memiliki maksud dan arti.

“Ya saya menggambarnya sederhana saja. Semua yang dilihat, saya masukkan dan sesuai dengan pemandangan yang dilihat dan saya angankan,” kata Yuniar memberikan gambaran lukisannya yang berjudul Ruwat Tasek. (*)

Reporter: RUSLI DJUNAIDI, Bangkalan
Sumber: Jawa Pos, Minggu, 10/09/2006

Explore posts in the same categories: Berita, Madura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: