Kabupaten Sumenep: Pariwisata Pun Butuh Inovasi

Oleh: Antonius Ponco Anggoro

Siang itu seorang pria muda menghampiri di Pantai Lombang, Kabupaten Sumenep. Matanya sayu, langkahnya lemas tidak bersemangat. Dia lalu bertanya, “Mas dari Surabaya ya? Boleh saya ikut ke sana, mas? Saya ingin cari kerja di sana. Di sini saya menganggur, mas.”

Putus asa tidak mendapatkan pekerjaan di Sumenep menjadi faktor pendorong Musron (25), nama pria itu, mengatakan hal tersebut. Apalagi orangtuanya meninggal dunia sejak dia berada di kelas dua sekolah lanjutan tingkat atas. Oleh karena itu, pekerjaan sangat dia butuhkan agar dapat tetap hidup.

Potret Musron ini hanyalah satu potret dari fenomena pengangguran di Sumenep yang kesulitan mencari pekerjaan. Suatu hal yang seharusnya dapat dicegah jika saja pemerintah memerhatikan salah satu aset terpendam di Sumenep, yakni sektor pariwisata.

Ada Pantai Lombang, Pantai Slopeng, Keraton Sumenep, Makam Asta Tinggi, dan masih banyak potensi wisata lain yang belum tergali maksimal di Sumenep. Perhatian dan pengembangan sektor pariwisata yang maksimal dipastikan akan membuat jumlah pengangguran berkurang dan perekonomian masyarakat berkembang.

Sebagai bukti dapat dilihat dari yang dilakukan Remote Destinations Tourism, Indonesia Ecotour and Adventure Specialist, yang membuat paket wisata Sumenep selama tiga hari. Mayoritas dari acara wisata ini berlangsung di Pantai Lombang. Ke-44 turis mancanegara yang mengikuti paket wisata “diharuskan” menghabiskan malam di pantai.

Penginapan di Lombang dibuat khusus oleh Remote Destinations Tourism dengan mengambil sedikit ruang di Pantai Lombang yang landai dan luas. Sasak-sasak dari rotan dibuat sebagai dinding ruangan. Ruangan tersebut menghadap ke arah pantai. Sasak rotan di kiri, kanan, dan belakang ruangan dibuat setinggi 2 meter, sementara di depan dibuat 1 meter supaya pemandangan pantai tetap terlihat.

Ruangan baru ini dibuat seapik mungkin sehingga muncul nuansa etnis dan naturalis. Pintu masuk ruangan menggunakan pintu kayu yang penuh ukiran Madura. Begitu pula dengan kursi, meja, dan tempat tidur yang ada di ruangan. Hiasan lampunya juga disesuaikan dengan tempo dulu. Di sekeliling tempat tidur, kain digunakan sebagai penutup untuk menghindarkan turis dari terpaan angin saat beristirahat.

Sementara atap dan lantai ruangan dibiarkan tetap alami. Lantainya dibiarkan tetap pasir pantai, sedangkan atapnya memanfaatkan ranting dan dedaunan dari pohon cemara udang yang banyak di Pantai Lombang.

Dibuat nyaman

Seperti layaknya hotel, terdapat pula ruang berkumpul, ruang makan, bar, dapur, dan kamar mandi. Kamar mandi juga dibuat senyaman mungkin meskipun ruang yang ada sangat kecil. Untuk menambah kenyamanan, dasar kamar mandi diberi pelapis lantai dengan corak hitam putih.

Leksmono Santoso, Direktur Remote Destinations Tourism, mengatakan, furnitur yang dipakai diambil dari Sumenep dan Pamekasan. Begitu pula hiasan kapal dari kayu dan hiasan-hiasan lainnya. Furnitur-furnitur itu kemudian ditawarkan dan dijual kepada para turis. Tidak sedikit turis yang tertarik lalu membeli furnitur dan hiasan tersebut.

Kegiatan-kegiatan yang diadakan untuk menghibur turis juga banyak melibatkan warga Sumenep, seperti tari-tarian untuk menghibur turis dan prosesi sapi sono. Selain itu, pembuatan dan penataan ruangan juga banyak melibatkan warga sekitar Lombang, begitu pula untuk petugas keamanan. Jadi kalau dijumlah, ada lebih dari 200 warga yang terlibat langsung dan meraup keuntungan dari acara itu.

“Kegiatan selama tiga hari ini memperlihatkan, kalau pariwisata betul-betul diperhatikan pemerintah, efeknya akan besar sekali bagi masyarakat. Apalagi Sumenep memiliki banyak potensi wisata yang bisa menarik turis,” ujar Leksmono.

Perhatian yang diberikan pemerintah, dia melanjutkan, tidak hanya dalam bentuk fisik seperti pembangunan fasilitas-fasilitas di tempat wisata, namun juga perawatan fasilitas, membuat inovasi- inovasi baru yang bisa menarik turis, dan yang paling penting melibatkan masyarakat dalam pariwisata.

Upaya kreatif dan inovatif ini yang akan dikembangkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep Edi Mustika. Salah satunya adalah acara petik laut yang akan diadakan pada 3-5 September. Perayaan petik laut ini lebih besar dan lama daripada petik laut yang diadakan tahun sebelumnya. Selain itu, Dinas Pariwisata Sumenep juga akan menggandeng tiga kabupaten lain di Madura untuk menggelar paket wisata Madura Tourism World.

Namun, semua upaya ini tidak akan berhasil tanpa kerja sama masyarakat Madura. Pasalnya, selama ini kendala dalam menarik turis ke Madura adalah masih adanya persepsi negatif terhadap Madura. Membalikkan persepsi inilah yang membutuhkan waktu tidak sesaat dan tentunya kerja sama masyarakat Madura sangat dibutuhkan.

Sumber: Kompas, 01/09/06

Explore posts in the same categories: Berita, Madura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: