GERHANA BULAN: Purnama di Fase “Bulan Mati”…

Purnama pada Kamis malam ini, 7 September 2006, akan tampak berbeda. Penyebabnya tak lain karena sebagian permukaan Bulan akan memasuki daerah bayang-bayang Bumi (umbra) dan menyebabkan terjadinya apa yang disebut gerhana bulan sebagian.

Gerhana merupakan istilah untuk fenomena tertutupnya sebuah benda dengan benda lainnya. Astronom membagi gerhana bulan menjadi tiga macam, yaitu gerhana bulan penumbra (GBP), gerhana bulan sebagian (GBS), dan gerhana bulan total (GBT).

Ketiga jenis gerhana tersebut pada dasarnya merupakan rangkaian atau tahapan yang terkait, di mana jika terjadi GBT maka dua jenis gerhana lainnya juga akan terjadi. Dengan kata lain, jika terjadi GBS maka juga akan terjadi GBP sebelum dan sesudah tahap GBS terjadi.

Pada dasarnya, di tahun 2006 terdapat empat gerhana, yaitu gerhana bulan penumbra pada 14 Maret 2006, gerhana matahari total pada 29 Maret 2006, gerhana bulan sebagian pada 7 September 2006, dan gerhana matahari cincin pada 22 September mendatang.

Perhatikan, gerhana bulan dan gerhana matahari terjadi berturutan di bulan yang sama (Maret dan September), di mana setelah gerhana bulan diikuti gerhana matahari. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan pada saat tersebut bulan berada dekat dengan titik node-nya.

Tengah malam

Gerhana bulan yang akan terjadi malam ini berdurasi lebih dari empat jam, yakni sejak kontak pertama penumbra terjadi pada pukul 23.42 WIB. Akan tetapi, fase penumbra tersebut bisa dikatakan tidak dapat disaksikan secara visual. Bulan baru cukup dekat dengan umbra sekitar pukul 00.30 WIB, atau sudah terhitung hari Jumat tanggal 8 September 2006.

Kontak pertama umbra, di mana Bulan mulai memasuki daerah bayang-bayang Bumi, mulai terjadi pada pukul 01.05 WIB. Sebagian permukaan bulan tersebut akan berada di daerah umbra Bumi hingga pukul 02.37 WIB, di mana pertengahan gerhana terjadi pada 01.51 WIB.

Dengan demikian, gerhana bulan sebagian yang akan terjadi nanti malam dapat disaksikan selama 1:30 jam lebih. Fase purnamanya sendiri terjadi pada tanggal 8 September 2006, pukul 01.44 WIB, yang berarti sekitar tujuh menit sebelum puncak gerhana terjadi. Keseluruhan tahap gerhana bulan sebagian tersebut dapat dilihat pada tabel yang menyertai tulisan ini.

Bagian permukaan bulan yang memasuki daerah umbra Bumi adalah bagian utara Bulan. Daerah utara Bulan tersebut dapat dikenali sebagai daerah “punggung nini anteh”. Permukaan Bulan yang memasuki umbra tersebut hanya sekitar enam menit busur dari bentang sudut permukaan bulan yang mencapai 30 menit busur.

Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa hanya sebagian kecil saja permukaan Bulan yang memasuki daerah umbra Bumi. Gambar yang menyertai tulisan ini menunjukkan kepada kita bagaimana lintasan Bulan dalam memasuki penumbra dan umbra Bumi dan bagian Bulan yang memasuki umbra Bumi.

Pasang purnama

Gerhana yang terjadi pada 7 September 2006 dapat dikatakan unik karena gerhana tersebut terjadi pada saat yang hampir bersamaan dengan saat bulan berada di perige, yaitu jarak terdekat bulan dengan Bumi. Bulan akan berada pada perige (~357.170 km) dari bumi pada tanggal 8 September 2006 pukul 10:08 WIB. Jarak tersebut merupakan jarak perige terdekat pada tahun 2006.

Seperti yang sudah umum dipahami, keberadaan Bulan menyebabkan terjadinya pasang surut permukaan air laut. Pengaruh pasang surut tersebut akan mencapai maksimumnya ketika Bumi-Bulan-Matahari segaris, yaitu ketika fase “bulan mati” dan purnama.

Pasang yang terjadi ketika fase “bulan mati” dan purnama tersebut dikenal dengan nama pasang purnama (spring tide). Adapun pasang yang terjadi ketika bulan berada pada fase kuartir awal dan kuartir akhir disebut pasang perbani (neap tide).

Ketika gerhana bulan terjadi, yang berarti pada fase purnama, Bulan juga berada dekat dengan titik perige-nya. Hal ini tentu berpengaruh terhadap efek pasang-surut yang ditimbulkannya. Pasang-surut yang terjadi saat fase “bulan mati” atau purnama ketika bulan berada di titik perige disebut pasang purnama perige perigean spring tide

Meski tidak persis bertepatan, efek pasang-surut dari gerhana atau purnama yang terjadi pada 7 september 2006 dapat dikelompokkan sebagai pasang purnama perige.

Meski beda pengaruhnya tidak terlalu besar dibanding dengan pasang purnama biasa, namun perbedaan kecil tersebut tetap patut diwaspadai, baik terhadap semburan lumpur di Sidoarjo maupun gempa. Ini karena, sering kali perbedaan yang kecil dapat memicu dampak yang lebih besar. Gempa-tsunami Aceh dan gempa Yogya terjadi ketika bulan berada pada fase purnama dan “bulan mati”.

Shalat gerhana

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, pernah terjadi gerhana matahari. Dan, dalam khotbahnya beliau bersabda (diriwayatkan oleh Imam Bukhori): “Matahari dan Bulan merupakan dua tanda keagungan Allah dari sekian ayat-Nya; dan tidak disebabkan oleh kematian atau kelahiran seseorang. Maka, ketika kau melihat gerhana (matahari/bulan) berdoalah pada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekahlah…….”

<p>Shalat gerhana dilaksanakan dua rekaat dan umumnya secara berjamaah. Sabda Rasulullah lebih dari 1.400 tahun yang lalu tersebut telah menekankan bahwa gerhana bukanlah sesuatu yang bersifat kebumian, dan itu terjadi diluar kuasa manusia untuk melakukannya.

Di tengah-tengah musim bencana yang sering melanda negeri ini, ada baiknya kita memohon pada Yang Maha Kuasa semoga gerhana yang terjadi tidak memicu bencana alam yang lebih dahsyat lagi. Ini karena—bencana yang ditimbulkan di luar kemampuan manusia—jangankan untuk mengantisipasinya, untuk memprediksi kedatangannya pun manusia belum mampu.

Penulis: Hendro Setyanto, Observatorium Bosscha – MIPA ITB, Lajnah Falak NU
Sumber: Kompas: 07/09/06

Explore posts in the same categories: Artikel, Panepen

6 Comments on “GERHANA BULAN: Purnama di Fase “Bulan Mati”…”

  1. merwan Says:

    may be gw slh liat.gw mo nyari gambar
    bkn yg bginian

  2. owen Says:

    koq g ada gambarnya Hue!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  3. icute Says:

    iya nech… kagak ada gambar nya…
    keren sich.. tapi, kurang gara 2 g da gambar nya….

  4. ade Says:

    napa ga da gmbar’y

  5. spiritmorning Says:

    gambarnya nyungsep kemana?

  6. tafia Says:

    kenapa ngak ada gambar nya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: