Butet Kartaredjasa: “Bambang, Turun…!”

Tokoh pengritik dari zaman ke zaman, RM Suhikayatno yang diperankan oleh Butet Kertaredjasa tidak tahan hidup di zaman keteraturan, dimana segala aspek kehidupan berjalan ideal dan tidak perlu dikritik lagi, dalam lakon monolog “Matinya Toekang Kritik” di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis (24/8).

Raja monolog Indonesia, Butet Kartaredjasa, memang tidak ada matinya. Selalu ada yang baru darinya. Pun, saat membawakan lakon yang sebenarnya sudah pernah dipentaskan berulang kali. Pentas Matinya Toekang Kritik contohnya.
“Bambang, turun…,” katanya dengan nada keras. Ledakan tawa segera terdengar di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis (24/8) malam. Bukan apa-apa, nama Bambang dalam lakon itu menunjuk pada sosok pembantu bernama Bambang. Kedua, siapa pula yang tidak tahu bahwa Presiden Indonesia bernama Susilo Bambang Yudhoyono.

Jangan salahkan penonton yang menafsirkan teriakan Butet sebagai harapan sang raja monolog itu agar Presiden Indonesia turun dari jabatannya. Tafsir jelas sangat diperbolehkan. Apalagi, saat menikmati banyolan gaya Butet yang selalu kontekstual dengan persoalan politik di Indonesia.
“Bambang, turun! Nanti kesetrum. Hati-hati itu tiang listrik,” teriak Butet yang tengah memerankan sosok RM Suhikayatno, si tukang kritik abadi. Kepalanya seolah tengah memandang sesuatu yang ada di atasnya.

Humor Menyegarkan

Hampir persis dengan penampilan Matinya Toekang Kritik sebelumnya, pentas semalam juga ditata sederhana. Ada meja dan kursi kecil di sayap kiri panggung dari arah penonton. Tumpukan koran juga ada di samping meja. Di sisi panggung lainnya, terdapat kursi goyang dan gantungan pakaian.

Beberapa menit sebelumnya, Butet yang berperan sekaligus sebagai RM Suhikayatno dan Bambang, dengan kemampuan vokalnya mengemukakan betapa tidak kreatifnya semua presiden Indonesia.

Dalam kacamata Butet, semua presiden di Indonesia selalu melakukan tindakan yang itu-itu saja. Menaikkan harga BBM. Meningkatkan defisit. Mencari utang baru. Menambah jumlah penganggur.

Tidak pernah ada yang baru dari pemimpin nomor satu di Indonesia itu. Itu kata Butet. Dan, di tangan Butet, pentas menolog menjadi arena yang jauh dari membosankan. Justru sangat menarik. Berbeda seratus persen dengan makna umum tentang arti penting dialog. Percakapan atau komunikasi lebih dari satu arah.

Di tangan Butet, sosok RM Suhikayatno, si tukang kritik abadi dan pembantunya yang bernama Bambang, seolah tengah berdialog. Butet mampu membedakan suara si tukang kritik dan suara Bambang.

Pergantian munculnya sosok RM Suhikayatno dan Bambang dilakukan dengan cara yang jarang muncul dalam pentas-pentas teater umumnya. Sosok Bambang terkadang muncul setelah RM Suhikayatno digambarkan tengah tertidur di kursi goyangnya. Lampu mati sesaat dan muncullah Bambang. Butet sudah berganti kostum.

Tapi ada kalanya, pergantian sosok dilakukan dengan telanjang. Di hadapan semua penonton. RM Suhikayatno bangun dari tidurnya. Berdiri dan berteriak memanggil pembantunya. Butet hanya perlu membalikkan badan dan kemudian, hap, seolah sudah menjadi Bambang saat menjawab pertanyaan RM Suhikayatno.

Kostum yang dikenakan masih kostum RM Suhikayatno. Yang berbeda hanya tekanan suaranya. Tapi pasti tidak akan ada protes dari penonton. Semua itu berjalan dengan gaya humor yang menyegarkan.

Menggalang Dana

Matinya Toekang Kritik karya Agus Noer pernah dipentaskan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta tidak pernah kehilangan pesona. Tentu saja bukan hanya karena sosok Butet. Jangan lupakan peran para pemusik yang menjadikan pertunjukan lebih hidup. Juga tata panggung, cahaya dan peralatan pendukung lainnya.

Di awal pertunjukan saja penonton sudah disuguhi pemandangan unik dari layar. Muncul bulatan dengan garis tepi berwarna putih yang terus bergerak. Di tengah lingkaran, agak samar, terlihat sosok manusia yang tengah bergaya mirip gaya James Bond.

Belum lagi celetukan para pemusik yang terkadang “berdialog” dengan Butet yang mengkritik hampir semua pejabat di Indonesia. Dari presiden hingga para bankir yang memenuhi ruang pertunjukan. Ya, pentas semalam memang diadakan oleh Masyarakat Perbankan Peduli menggalang dana bagi korban gempa di Yogyakarta dan Klaten.

Ide untuk mementaskan kembali naskah karya Agus Noor itu muncul dari praktisi perbankan seperti Sigit Pramono dan Pradjoto serta teman-temannya. Dari sudut tujuan pengumpulan dana bagi korban gempa, pentas semalam jelas patut didukung. Belum lagi keuntungan lain bagi para bankir untuk menyimak kritik Butet lewat sosok tukang kritiknya.

“Bambang, Bambang, Bambang,” kata Butet yang tiba-tiba mengubah nada suaranya menjadi suara seorang penyabar. Tidak lagi memaki. Dan para bankir pun kembali tertawa. [A-14]

Penulis: Alex Suban

Sumber: Suara Pembaruan: 25/8/06

Explore posts in the same categories: Teater

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: