Sukses Peluncuran Lapan-TUBSat

Jakarta, Kompas – Roket India C7 yang membawa tiga satelit observasi sumber daya alam di antaranya milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau Lapan, Rabu (10/1), pukul 9.23 waktu setempat atau pukul 10.53 waktu Indonesia barat berhasil diluncurkan dari kota Sriharikota, Andhra Pradesh, di selatan India.

Keberhasilan peluncuran satelit Lapan-TUBSat merupakan momen yang penting bagi dunia mengembangkan teknologi satelit secara mandiri di Indonesia. “Satelit ini memang kecil secara fisik, namun besar artinya sebagai langkah awal Indonesia menuju kemandirian dalam pengembangan teknologi antariksa, jelas Kepala Lapan Adi Sadewo Salatun, kepada Kompas, saat memonitor perkembangan peluncuran satelit itu di Kantor Pusat Lapan Jakarta, Rabu.

Setelah tinggal landas, sekitar 20 menit kemudian, jelas Adi, satelit-satelit tersebut menjalani tahap separasi atau pemisahan dari bagian roket pembawanya ke ruang angkasa di atas Samudra Hindia pada ketinggian 635 km.

Pada peluncuran ini roket milik Indian Space Research Organisation (ISRO) juga membawa satelit pengindraan jauh Cartosat-2 sebagai satelit utama dan kapsul ruang angkasa Space capsule Recovery Experiment (SRE-1). Kedua wahana tersebut milik India. Selain Lapan-TUBSat, sebagai satelit tumpangan juga termuat satelit milik Argentina, Pehuensat-1.

Bila melihat bobot tiga satelit tersebut, satelit Lapan-TUBSat yang beratnya 56 kg tergolong satelit mikro. Sedangkan Pehuensat-1 yang hanya 6 kg, masuk kategori satelit-nano. Cartosat-2 tergolong satelit besar karena beratnya mencapai 680 kg. Selain itu ada kapsul SRE-1 yang bobotnya 550 kg.

Penundaan

Peluncuran Lapan-TUBSat mengalami penundaan hingga sembilan kali sejak tahun 2005, karena menunggu diselesaikannya Cartosat-2 dan adanya kendala teknis dan gangguan cuaca di lokasi tempat peluncuran satelit milik ISRO itu.

Seusai menjalani tahapan pemisahan, lanjut Adi, ketiga satelit itu secara beriringan bergerak ke orbit dan posisinya masing-masing. Bagi Lapan-TUBSat, ini merupakan salah satu tahapan yang kritis karena ada beberapa faktor risiko kegagalan, antara lain kerusakan antena, benturan dengan sampah ruang angkasa, dan suhu ekstrem di antariksa.

Ancaman itu dapat dilampaui. Lima jam kemudian satelit Lapan-TUBSat terpantau berfungsi baik di Berlin. Pada hari yang sama sekitar pukul 18.30 satelit ini terdeteksi stasiun Bumi milik Lapan di Rumpin Banten.

Pemantauan bencana

Sekitar tiga hari seusai peluncuran, satelit Lapan akan menjalani menjalani tahap uji coba di orbitnya selama sebulan. Setelah itu satelit akan digunakan memantau bencana yang belakangan ini kerap melanda Indonesia.

Berbeda dengan satelit lainnya yang perlu waktu dua minggu untuk memproses citra, satelit ini dapat menampilkan citra rupa Bumi secara langsung.

Kelebihan lain adalah pada sistem kendalinya. “Arah kamera di satelit ini dapat langsung dikendalikan operator di Bumi untuk mengambil gambar obyek yang menjadi interes, seperti daerah bencana atau daerah yang diduga tempat jatuhnya pesawat,” jelas Adi, yang pernah menjadi Ketua Tim Teknis Microsat Lapan.

Satelit Lapan-TUBSat beresolusi tinggi hingga lima meter. Satelit berorbit polar ini akan 8 kali terpantau stasiun Bumi di Indonesia dan akan dilintasi satelit ini empat kali sehari. (YUN)

Sumber: Kompas

About these ads
Explore posts in the same categories: Berita, Iptek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: