Sekolah Rumah sebagai Perluasan Akses

Jakarta, Kompas – Tumbuhnya sekolah rumah (homeschooling) di Jakarta dan sekitarnya harus dimaknai sebagai kepedulian masyarakat untuk ikut serta memperluas akses pendidikan. Dalam konteks pembelajaran yang berpihak kepada anak, fenomena tersebut juga merupakan solusi atas sulitnya membebaskan jalur pendidikan formal atau sekolah dari praktik pengekangan terhadap hak tumbuh kembang anak secara wajar.

Demikian rangkuman pendapat sejumlah penggiat sekolah rumah, seperti Helen Ongko dan Alex Sonery, Senin (8/1), di Jakarta. Helen yang mendirikan sekolah rumah Morning Star Academy di Jakarta sejak tahun 2003 dan kini mengasuh sekitar 350 murid menegaskan, fenomena tersebut juga merupakan upaya membebaskan orangtua dari praktik bisnis persekolahan, seperti gonta-ganti buku pelajaran serta kurikulum yang tidak jelas.

“Di sekolah rumah, tidak ada gonta-ganti buku dan kurikulum yang membingungkan. Dengan menghargai keunikan peserta didik, sejak jenjang setara SD, potensi anak sudah dikenali intensif agar nantinya masuk ke sekolah lanjutan sesuai bakat dan minatnya. Jangan sampai nantinya mereka hanya berhadapan dengan jurusan IPA , IPS, dan Bahasa. Padahal, dengan masuk sekolah kejuruan bisa jadi mereka berkembang,” kata Helen.

Hal senada dikemukakan Alex Sonery, pendiri sekolah rumah sejak tahun 2002 di Kebayoran Baru (Jakarta Selatan) dan Serpong (Banten). Ia membuka sekolah rumah karena ada pangsa tersendiri. “Banyak anak yang tidak senang dengan aturan persekolahan yang kaku. Dengan suasana kekeluargaan yang bersahabat, mereka justru bisa menyerap pelajaran dengan cermat,” kata Alex.

Direktur Pendidikan Kesetaraan Depdiknas Ella Yulaelawati Rumindasari menegaskan, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional mengakui sekolah rumah sebagai bagian dari akses pendidikan. Depdiknas mendefinisikan sekolah rumah sebagai proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur, dan terarah dilakukan oleh orangtua/keluarga di rumah atau tempat lain di mana proses belajar dapat berlangsung kondusif.

Anggota Komisi X DPR Ferdiansyah menambahkan, sekolah rumah adalah penjabaran dari rencana strategis Depdiknas yang antara lain menekankan perluasan akses, pemerataan, dan peningkatan mutu.
“Dalam konteks wajib belajar (SD-SMP), tidaklah mungkin kita bertumpu pada jalur persekolahan (formal) semata. Harus ada jalan lain bagi anak yang sulit belajar di sekolah,” ujarnya. Informasi dari Depdiknas menyebutkan, saat ini tak kurang dari 100 sekolah rumah yang bertebaran di Jakarta dan sekitarnya, serta daerah-daerah lainnya. Rata-rata tiap sekolah rumah mengasuh 5-10 murid.

Pendidikan Alternatif

Sekolah rumah juga mulai dilayani pusat kegiatan belajar mandiri (PKBM). Padahal, sasaran awal lembaga tersebut untuk masyarakat yang kurang mampu, penganggur, atau putus sekolah. “Tapi sekarang siswa dari kalangan mampu dan orangtua yang berpendidikan tinggi juga sudah banyak yang memilih pendidikan di PKBM. Apalagi, banyak artis-artis usia sekolah yang tidak segan bergabung menjadikan PKBM tidak lagi dipandang sebelah mata,” kata Ignatius Doni R, penanggung jawab PKMB Bina Mekanika di Jakarta.

Menurut Doni, dengan adanya kesetaraan pendidikan nonformal yang diakui pemerintah, sekolah rumah telah menjadi alternatif bagi siswa yang sarat dengan aktivitas yang tidak dapat ditinggalkan. Dengan demikian, mereka tidak terhambat dalam meningkatkan karier atau prestasi karena belajar bisa disesuaikan dengan jadwal dan lokasi peserta didik tersebut.
Selain itu, rumah sekolah juga menjadi pilihan untuk siswa yang merasa tidak cocok atau tidak puas dengan sistem pendidikan formal yang dirasa mengekang kreativitas siswa. Ada juga orangtua yang pendidikannya S-2 atau S-3 yang lebih memilih anaknya ikut PKMB paket C dengan belajar di rumah. Orangtua yang berpendidikan tinggi pun sudah tidak malu untuk menyekolahkan anaknya secara nonformal.

“Trennya sekarang ini terlihat terus meningkat,” ujar Doni yang juga menjabat sebagai Sekretaris Asosiasi Himpunan Penyelenggara Kursus Indonesia Jakarta Selatan. (NAR/ELN)

Sumber: Kompas, 09/01/06

About these ads
Explore posts in the same categories: Edukasi

2 Comments on “Sekolah Rumah sebagai Perluasan Akses”

  1. made desi Says:

    Sekolah rumah adalah sebuah alternatif pendidikan apalagi seperti saya seorang pendidik yang masih uga kuliah karena banyak pertimbangan salah satunya adalah waktu bertemau dengan anak yang terbatsa jika ia bersekolah dan kualitas yang sulit dijangkau dengan biaya maka sekolah rumah bagi say dan keluarga saat ini adalah pilihan yang terbaik untuk kedua anak saya

  2. sari Says:

    sekolah rumah atau homeschooling yang di ungkapkan secara ideal cukup baik dan indah, tetapi dalam kenyataannya sekolah rumah yang ada di jakarta selatan mungkin juga terkenal karena di miliki oleh seorang pemerhati pendidikan dalam kenyataannya menjadi sebuah bisnis belaka dan mengabaikan hak anak akan pendidikan karena mengajarkan hanya sebatas kelulusan mendapatkan ijasah semata, hal ini yang luput dari perhatian publik dan media dalam kenyataan sekolah rumah milik seorang pemerhati pendidikan hanya mencari keuntungan semata


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: