Antara Keseimbangan Kosmologi dan Teknologi

Lebih Dekat Bersama: Dr Damardjati Supadjar, M.Sc.

Sejak dulu, nenek moyang kita telah memiliki konsep keseimbangan kosmologis. Salah satu bukti di antaranya adalah karya monumental Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-9 Masehi, salah satu dari “10 keajaiban dunia”. Rapuhnya keseimbangan kosmologis inilah yang antara lain membuat krisisnya kepribadian bangsa Indonesia saat ini, sehingga di mana-mana muncul chaos dan anarkisme yang mengganggu keseimbangan, keharmonisan, dan keselarasan kosmologis itu. Hal-hal demikian yang ditangkap oleh Dosen Filsafat Universitas Gajahmada (UGM), Yogyakarta, Dr Damardjati Supadjar, M.Sc. Wartawan Surabaya Post Rudolf Matius Yunani berhasil mengorek apa yang digagas oleh ahli Javanologi ini. Hasil wawancaranya diturunkan dalam tulisan berikut ini.

Apa sih yang Anda istilahkan dengan kosmolgis itu.

Begini, manusia itu butuh makan, minum, bertenaga, dan bernapas. Sehingga sah-sah saja bila orang berpendapat bahwa manusia itu mempunyai unsur tanah, air, api, dan udara. Namun, tanah, air, api, dan udara itu tidak memiliki unsur manusia. Dengan begitu, manusia itu terdiri atas unsur mikrokosmologis, yakni tubuh atau jasadnya, dan unsur makrokosmologis yakni jiwanya. Dengan perkataan lain, alam ini ibaratnya sebuah neutron yang netral sebagai pemisah atau penghubung proton, yakni raga, dan elektron yaitu jiwa.

Ketika orang melihat tembok, yang dilihat adalah data ke-lahir-an, yakni tembok itu keras dan berwarna putih. Cuma begitu kesan yang ditangkapnya. Namun, buat seorang insinyur, akan didapatkan kesan lebih kompleks dan mendalam. Tembok itu termasuk jenis antigempa, misalnya. Soalnya mereka ini membekali dirinya dengan seperangkat ilmu yang lebih dalam, lebih batin, ketimbang yang dimiliki orang awam.
Tapi bagai seorang pengendali proyek, lain lagi. Tembok yang antigempa itu belum tentu antiproyek. Sehingga, betapapun kuat dan megahnya gedung yang antigempa itu, bukan berarti kebal dirobohkan atau kena gusur.

Apa yang Anda maksudkan dengan itu.

Dari uraian di atas, kita akan sampai pada Subjek Pengendali Semesta Alam ini. Dia yang Maha Batin namun juga Maha Tunggal. Sehingga Dia tak biasa gusur-menggusur, melainkan menjaga, memelihara. Itulah Tuhan Seru Sekalian Alam.

Bagaimana realitanya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kehidupan keseharian, rakyat kebanyakan selalu dalam serba kekurangan. Mereka belum menyadari diri sepenuhnya. Persoalan mereka ini masih pada substansial. Apa yang dimakan hari ini? Jadi hanya berpikir soal kebutuhan materi melulu, atau soal isi perut. Sementara untuk yang lain sudah berpikir alternatif, termasuk kebutuhan batin. Makan apa kita hari ini? Namun jangan sampai kita melampaui falsafah orang “Jakarta” yang tamak dan serakah itu (bahasa Dr Damardjati. Red). Makan siapa kita berikutnya? Ini namanya sudah kanibalisme.

Apa ada kanibalisme itu di negara kita.

Secara harfiah memang tak ada. Tetapi, secara simbolik, itu bisa dibaca pada kisah pertarungan Aji Saka yang angejawa membebaskan rakyat dari kanibalisme Prabu Dewatacengkar, lambang manusia yang tamak dan suka makan daging manusia. Untuk itu, Aji Saka rela menyerahkan dirinya untuk menjadi mangsa Dewatacengkar dengan imbalan bumi selebar ikat kepalanya atau udheng. Tetapi ketika udheng itu digelar, semakin tambah lebar, melebar, dan melebar terus sampai akhirnya Dewatacengkar terpental di Laut Selatan dan menjilma menjadi bajul putih.
Pelajaran apa yang bisa ditarik dari cerita itu.

Aji Saka itu lambang seorang pemimpin, yang disebut Sang Aji. Untuk membebaskan rakyatnya, ia harus berani mengambil risiko, meski membawa korban dirinya sendiri. Demi rakyat yang dipimpinnya, Gus Dur rela diplonco di DPR untuk menghadiri sidang paripurna yang menggunakan hak interpelasi. Itu sudah biasa.
Di situlah Sang Aji perlu mbabar udheng agar bisa mudheng (paham), mbabar akal dan nurani memahami kehendak wakil rakyat, untuk mengibaskan lawan-lawan yang ngregoni (ngrecoki) pemulihan ekonomi dan politik di Indonesia.

Lalu, siapa lawan kita itu.

Bajul putih! Itu lambang bahaya negara. Yakni, mereka yang cenderung menggunakan sistem peradapan Barat sebagai kulit luarnya, dan mereka yang sangat lihai memutihkan harta kekayaan pribadinya.

Konsekuensinya bagi para sang Aji di Indonesia.
Mereka harus berani melakukan introspeksi, mawas diri, atau mulat sarira. Dalam bahasa Jawa, mulat sarira itu merupakan tingkatan ketiga setelah tepa salira (toleren), dan nandhing sarira (sosialisasi diri). Sementara kata sarira itu, lengkapnya bisa sarira satunggal, sarira sajati, atau T sari-rasa-tunggal, sari-rasa-jati.

Dalam pewayangan, nandhing sarira itu menghasilkan diri dan kepribadian yang lain dan berbeda. Misalnya aneka rupa dan ragam wayang kulit. Sedang tepa slira berarti bertemu dalam kesamaan arti, yakni bayang-bayang kehidupan di tangan dalang yang tunggal. Adapun mulat sarira itu bertemunya dalang dengan “tuan rumah” yang nanggap dalang bermain wayang.

Lalu, apakah inti permasalahan hidup ini.

Yang pertama, pengolahan diri. Sementara pelajaran, buku-buku, ilmu dan sebagainya, hanyalah sebagai guru bakal. Sedang guru dadi-nya adalah mulat-sarira-diri. Bisa dipahami jika para pujangga kita dulu, para sarjana sujana linuwih, ulama, umara, dan elit politik dulu pada umumnya sedikit bicara. Sabda pandhita ratu, sepisan dadi tan perlu diklarifikasi. Tekanan pada pengolahan diri itu adalah sebagai pembinaan kepribadian. Para pemuka masyarakat, para pemimpin harus bisa asung tuladha, golongan menengah mangun karsa, dan masyarakat mayoritas tut wuri handayani.

Ada simbolik lainnya.

Lihat saja pada pola hubungan antara raja dan putra mahkota, antara putra mahkota dengan kusir, kusir dengan kuda, kuda dengan kereta, kereta dengan tanah atau jalan. Perintah raja kepada putra mahkota itu cukup dengan isyarat atau pasemon, simbolik tanpa kata-kata. Cukup dengan pandangan mata, tapi penuh makna. Sesadon ingadu manis. Bagi kalangan elite, berdialog itu bisa dengan rasa, kata-kata arif, dan bukan dengan saling teriak, saling menghujat, atau saling gontok-gontokan.

Ini berbeda hubungan antara putra mahkota yang duduk menangkap isyarat raja lalu menerjemahkan dalam bahasa verbal kepada sang kusir kereta nggelak kudanya. Hubungan kusir dengan kuda, tak cukup dengan kata-kata, apalagi dengan isyarat, melainkan dengan cambuk atau cemethi, serta lis untuk menggelak kudanya. Hubungan kuda dan kereta semakin kasar dan kaku, sampai akhirnya antara kereta dan tanah yang dihubungkan oleh roda.

Dengan mawas diri berdasarkan tataran sosial atau maqam itu, Sang Aji akan melakukan identifikasi diri sendiri, serta mengenal diri orang lain.

Man arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu. Barang siapa yang mampu mengenali dirinya sendiri, berarti dia telah mampu mengenal Tuhannya. Itulah ajaran tat twam asi, yang bunyi lengkapnya begini.

Ayam atma Brahma
Aham Brahma asmi
Tat twam asi
Neti net
i.

Bagaimana tentang lahir dan mati manusia.

Lahir itu bukan pasangan atau lawan dari mati. Mati itu menyangkut sistem kedirian yang dalam Islam disebutkan kullu nafsin dzaiqatul maut, setiap makhluk itu pasti mengenyam kematian.

Ayat itu mengingatkan orang bahwa sistem kedirian itu berhubungan dengan sistem pernapasan. Sehingga, tingkat-tingkat kedirian manusia, yakni diri yang sadar ke-apia-annya (nar, nafsu amarah), seyogyanya ditingkatkan kualitasnya menjadi diri yang berkesadaran kosmis, sadar cahayawi (nur, nafsu mutmainah). Sekat pemisah sekaligus penghubung keduanya adalah diri yang mampu menyesali diri, yakni nafsu lauwwamah.
Yang benar, orang di dunia itu bukannya dilahirkan untuk dimatikan, melainkan “lahir untuk mbatin Tuhan”, alias taffakur. Dan inilah yang dinamakan dzikir, selalu ingat dalam ucapan, pikiran dan hatinya. Dalam kaitan demikian inilah perlunya eneng, ening, awas, eling sebagai suatu yang sangat universal, sesuai dengan Manuscript Calestine serta The enth Insight (Holding the Vision).

Apa filsafat Anda tentang Borobudur bagi peradapan bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia yang tengah terpuruk ini akan mampu kembali meraih kejayaannya, dalam arti duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini, bila mampu menghayati filosofis yang terkandung dalam pembangunan Candi Borobudur, peninggalan Wangsa Sailendra sebelas abad lalu.

Sebagai monumen mistis religius, Candi Borobudur berdiri di tanah bukit, (budur, gumuk), di antara dua aliran sungai. Suatu peringatan tentang asal kejadian manusia, yakni pertemuan dua aliran “air” dari ayah dan ibu. Ini sejalan dengan simbolisme filsafat lingga-yoni dalam Hindu, Adam, dan Eva pada Bible, Serat Darmogandhul dan Gatholoco dalam sastra Jawa. Dalam pewayangan dikisahkan dalam ajaran Sastra Jendra Hayuningrat, antara Dewi Sukesi dan Begawan Wisrawa, dan Sastragending dalam ajaran Sultan Agung di Mataram.

Apa cuma aspek moralnya Anda mengagumi Borobudur.
Kekaguman kita atas karya nenek moyang itu bukan cuma mengenai aspek mistis religiusnya, namun juga aspek teknologinya. Sistem matriks atau ukuran meternya, dirancang khusus begitu njlimet, dengan ketetapan yang nyaris sempurna. Ini membuktikan bahwa sudah sejak lama kita memiliki keseimbangan kosmologis.
Keseimbangan kosmologis akan melahirkan teknologi yang tinggi, tetapi keseimbangan teknologi yang tinggi belum tentu menjamin keseimbangan kosmologi. Akhir-akhir ini, bangsa Indonesia nyaris kehilangan keseimbangan kosmologis itu. Sehingga terjadilah yang dalam pewayangan disebut gonjang-ganjing alias gara-gara yang kebablasan.

Padahal, bagi orang Jawa, pergelaran wayang kulit itu bukan cuma menyajikan tontonan kesenian yang adi luhung, tetapi juga media pemaparan suatu ajaran kebijaksanaan hidup. Jika Bathara Guru sudah eker-ekeran dengan Semar, pamongnya satria, Indonesia akan gonjang-ganjing. Kewajiban Semar untuk mengoreksi Bathara Guru dengan hak interpelasi dan amandemennya saat “saka guru kebersamaan” goyah.

Bagaimana sih Pak filosofis wayang, menurut Anda.

Dalam pergelaran wayang kulit, penonton selalu mempersepsikan bahwa wayang-wayang itu adalah manusia dengan segala macam persoalannya. Menurut Herbert Mead, masyarakat mempunyai kesadaran sendiri dan tahu bahwa apa yang ditontonnya adalah dirinya sendiri.

Sebagai refleksi budaya Jawa, wayang mencerminkan kenyataan kehidupan, nilai dan tujuan kehidupan, moralitas, harapan, dan cita-cita kehidupan orang Jawa. Melalui cerita wayang, masyarakat Jawa memberi gambaran kehidupan mengenai bagaimana hidup yang sesungguhnya (das sein) dan bagaimana hidup itu seharusnya (das sollen). Dan sekarang tergantung pada diri kita. Apakah kita cuma kesengsem dengan gebyar tontonan wayang, atau berusaha mengambil nilai hikmahnya sebagai tuntunan. (*)

Sumber: Surabaya Post: Minggu, 23 Juli 2000

Explore posts in the same categories: Artikel, Panepen

4 Comments on “Antara Keseimbangan Kosmologi dan Teknologi”

  1. Mieka Says:

    Aham Brahma asmi
    Tat twam asi
    Neti neti.

    “Aku adalah Tuhan”
    “Aku adalah kamu, kamu adalah dia”
    “Bukan ini,bukan itu”

    Dengan pemikiran yang dangkal menyebut diri adalah Tuhan sepertinya adalah kesombongan, tapi cobalah jika dilanjutkan dengan menyebut aku dalah kamu dan kamu adalah dia, maka semua yang kita lihat adalah Tuhan. Jika semua adalah Tuhan, maka bolehkah kita menyakiti Tuhan?Membohongi?Menculasi? Jawabannya pastilah “tidak”. Kalau demikian akan tertanam sebuah keyakinan bahwa dunia ini akan damai. Bukankah Tuhan menurut semua agama adalah sumber kedamaian?
    “Bukan ini, bukan itu” Segala teori tentangNya hanyalah gurauan manusia.

  2. AGUNG MULYO Says:

    Menyimpulkan tentang tuhan, silakan anda simpulkan saja menurut ajaran agama yang anda anut. Bagi kami umat Islam yang ada hanyalah Allah satu-satunya (ahad) sebagai dzat yang wajib kami ibadahi (“sembah”). Harap tahu saja ikrar umat Islam adalah : TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH. Ikrar umat Islam bukanlah “Allah adalah Tuhan” !. Jadi zelasnya, segala bentuk tuhan-tuhan (dan apapun namanya) yang dipercayai oleh agama-agama lain, bagi umat Islam semuanya tidak akan pernah diakui keberadaannya. YANG ADA HANYA ALLAH ! Bagi umat Islam adanya statement bahwa “Bukankah Tuhan menurut semua agama adalah sumber kedamaian?”, maka pernyataan itu hanya tidak termasuk bagi Islam.
    Kalau ada non Muslim yang mau menyama-nyamakan Tuhannya dengan Allah, yah…. itu hak mereka, sebab mereka fikir Allah adalah Tuhan. Yaaah… wajar saja karena memang mereka tidak mengerti siapakah Allah yang dimaksud oleh Islam. Caba baca lagi : TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH.

  3. jonhn Says:

    sebenarnya beda sebutan aja orang kristen tidak terbatas pada bahasa tertentu.Allah orang kristen,yahudi dan islam sama kok hanya orang kristen meyakini kalau hanya lewat Yesus manusia bisa didamaikan dengan Allah.sedangkan umat muslim meyakini kalau Muhamad nabi terakhir,sedangkan Yahudi sedang menanti kedatangan Mesias yang diyakini orang Kristen Mesias itu adalah Yesus jadi gak usah ngomong agama yang benar biarkan Allah yang memutuskan nasib kita di akhirat

  4. Nikolas Says:

    “Aku adalah Tuhan” …
    Memang benar demikian adanya. Aku yang sejati adalah Tuhan adanya. Tetapi ketika manusia ingin memiliki ke-Aku-an Tuhan itu, maka Tuhan kemudian menjadi Engkau. Bagaimana manusia memiliki ke-Aku-an Tuhan? Kalau kembali ke cerita tentang Adam dan Eve, maka mereka bukan saja melanggar perintah Tuhan, tetapi mereka bernafsu memiliki ke-Aku-an Tuhan. Saat itu yang terjadi, maka Tuhan tidak lagi sebagai Aku, karena manusia telah mendaku Aku (mengaku sebagai aku). Tuhan kemudian menjadi “Engkau”. Kita semua memang telah mendaku “Aku”, padahal “Aku” = Being yang sejati itu TUHAN adanya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: